KAMPUS

Dosen UNP Luncurkan Teknologi Sosial Bertajuk Rumah Pulih Nagari untuk Bantu Warga Pascagalodo

×

Dosen UNP Luncurkan Teknologi Sosial Bertajuk Rumah Pulih Nagari untuk Bantu Warga Pascagalodo

Sebarkan artikel ini

PADANG, HALUAN — Universitas Negeri Padang (UNP) menghadirkan inovasi sosial untuk mendukung pemulihan masyarakat pascagalodo di Nagari Malalak Timur. Melalui program MALALAK RESILIENT, tim dosen UNP memperkenalkan “Rumah Pulih Nagari”, sebuah teknologi sosial yang dirancang sebagai ruang sekaligus cara kerja bersama bagi masyarakat untuk saling menguatkan, mengenali kebutuhan, serta membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Program tersebut dipimpin Wirza Feny Rahayu, M.Psi., Psikolog, bersama tim lintas disiplin yang terdiri dari dosen psikologi, ekonomi, keperawatan, dan pendidikan. Tim tersebut yakni Dosen Fakultas Psikologi Devi Lusiria, S.Psi., M.Psi.; Dosen Fakultas Ekonomi Nia Ariyani Erlin, S.E., M.Sc.; Dosen Keperawatan Ns. Jufrika Gusni, M.Kep., Sp.Kep.MB.; Ns. Rosmi Eni, S.Kep., M.Kep.; serta Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Fikhen Tri Wulandari, M.Pd.

Ketua tim pengabdian, Wirza Feny Rahayu, mengatakan pemulihan masyarakat pascabencana tidak cukup dilakukan melalui pelatihan yang bersifat sesaat. Karena itu, program diarahkan untuk membangun kapasitas warga agar mampu saling mendampingi dan melanjutkan praktik pemulihan secara mandiri.

“Kami ingin pemulihan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Yang dibangun adalah kapasitas warga agar mereka memiliki ruang untuk saling mendampingi dan mampu meneruskan praktik-praktik sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 15 kader dari lima jorong mendapatkan penguatan kapasitas, sementara 30 warga mengikuti pendampingan secara langsung.

Pendampingan dilakukan secara terintegrasi dengan mencakup empat aspek, yakni penguatan psikososial, kesehatan, penghidupan, dan literasi kebencanaan. Keempat aspek tersebut dirancang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam proses pemulihan masyarakat, bukan sebagai program yang berdiri sendiri.

Baca Juga  Poltekkes Kemenkes Padang Persiapkan ISO 14001 Sistem Manajemen Lingkungan

Inovasi Rumah Pulih Nagari diperkuat dengan enam media sosial yang dirancang dekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat setempat. Keenam media tersebut yakni Playbook Rumah Pulih Nagari, Flipbook Rumah Pulih Nagari, Tikar Duduak Basamo, Papan Magnet Emosi, Tas Cerita Nagari, dan Kartu Rumah Tenang.

Media tersebut digunakan untuk membuka ruang percakapan, membantu warga mengenali emosi dan kebutuhan, memantik refleksi, memperkuat interaksi kelompok, sekaligus mendukung edukasi kesehatan dan kesiapsiagaan bencana.

Tim sengaja mengembangkan media dengan menggunakan pendekatan yang dekat dengan bahasa serta kebiasaan masyarakat. Dengan demikian, perangkat tersebut diharapkan tidak dipandang sebagai “alat dari luar”, tetapi menjadi bagian dari kehidupan komunitas.

Pendampingan psikososial turut diperkuat Mai Tiza Husna, M.Psi., Psikolog, praktisi Psikologi Klinis dan kebencanaan, serta Ns. Rosmi Eni, S.Kep., M.Kep., dosen sekaligus praktisi kesehatan dan keperawatan jiwa.

Kehadiran tenaga profesional tersebut membantu memastikan proses pendampingan tetap berada dalam koridor edukasi, penguatan kapasitas masyarakat, serta rujukan apabila ditemukan kebutuhan yang memerlukan penanganan profesional lebih lanjut.

Program MALALAK RESILIENT disusun berdasarkan kondisi nyata masyarakat pascagalodo. Hasil asesmen awal terhadap 27 kepala keluarga menunjukkan sejumlah dampak yang masih dirasakan warga.

Sebanyak 63 persen responden menyebut lahan mereka sementara tidak dapat digunakan akibat sedimentasi. Kemudian, 59 persen mengalami penurunan hasil pertanian dan 56 persen merasakan penurunan transaksi usaha kecil.

Baca Juga  Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru, Fakultas Kedokteran UNP Sediakan Kuota Bagi Siswa Kurang Mampu

Selain itu, 59 persen responden mengaku masih mengkhawatirkan pendapatan keluarga, sedangkan 52 persen masih memiliki kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bencana berulang ketika hujan berintensitas tinggi.

Dari sisi kesiapsiagaan, sebanyak 67 persen responden mengaku belum pernah mendapatkan edukasi kebencanaan. Sementara 63 persen menilai program literasi kebencanaan bagi anak masih minim.

Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan model pendampingan yang tidak hanya berfokus pada pemulihan psikologis, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, penghidupan, serta kesiapsiagaan masyarakat.

Agar program dapat berlanjut setelah kegiatan pengabdian selesai, perangkat dan media Rumah Pulih Nagari diserahterimakan kepada Nagari Malalak Timur untuk dimanfaatkan oleh kader sebagai penggerak kegiatan di tengah masyarakat.

Wali Nagari Malalak Timur, Abdul Hanif, S.Ag., menjadi salah satu mitra penting dalam memastikan inovasi tersebut dapat ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan kehidupan masyarakat setempat.

Rumah Pulih Nagari pada akhirnya tidak hanya dimaknai sebagai enam media pendampingan. Lebih jauh, inovasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pemulihan di tingkat nagari, mulai dari kader yang lebih siap, warga yang memiliki ruang untuk bercerita dan belajar, hingga komunitas yang mampu mengenali serta mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.

Tim UNP selanjutnya akan melakukan pemantauan terhadap pemanfaatan media, aktivitas kader, mekanisme rujukan, serta tindak lanjut kegiatan sebagai bagian dari keberlanjutan program MALALAK RESILIENT. (h/yes)