“Kami catat dan pahami betul apa yang menjadi kebutuhan Bapak dan Ibu sekalian. Aspirasi ini tidak akan mandek di sini; kami akan membahasnya terlebih dahulu secara internal dan segera diajukan serta dikoordinasikan dengan Menteri serta instansi terkait di tingkat pusat untuk dicarikan solusi terbaik,” ujar Helmi menenangkan massa yang menyambutnya dengan tatapan penuh harap.
Aksi unjuk rasa ini berjalan dengan sangat tertib dan damai, jauh dari kesan anarkis yang biasa mewarnai demonstrasi. Pengawalan ketat namun humanis dari aparat kepolisian ikut menjaga suasana tetap kondusif.
Tidak ada lemparan batu, tidak ada yel-yel makian. Yang terdengar sepanjang hari itu hanyalah getaran suara parau para ibu yang merindukan jaminan bahwa besok pagi, mereka masih bisa menyalakan kompor dan menyekolahkan anak-anak mereka.
Kini, bola panas kebijakan berada di tangan pemerintah. Ribuan kepala keluarga di berbagai pelosok daerah di Sumatera Barat sedang menanti dengan cemas. Mereka tidak menolak aturan, namun mereka memohon agar hukum juga memiliki ruang untuk kemanusiaan.
Sebab, di mata ratusan ibu rumah tangga yang mendatangi kantor gubernur hari ini, harapan mereka sangatlah sederhana dan mendasar: diizinkan tetap bekerja dengan tenang mencari rezeki yang halal, menghidupi keluarga dengan bermartabat, dan memastikan generasi penerus mereka tidak putus sekolah akibat kaku dan dinginnya sebuah regulasi. (*)












