PADANG, HARIANHALUAN.ID — Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM), utamanya jenis solar, dalam beberapa waktu terakhir seolah telah menjadi pemandangan yang lumrah. Hampir di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat (Sumbar) tampak deretan truk, angkutan barang, hingga bus dan kendaraan umum mengular di sepanjang jalan menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Tak hanya satu dua jam. Para sopir “dipaksa” mengantre hingga berjam-jam. Dari pagi hingga siang, dari siang hingga malam, dari malam hingga subuh. Antrean panjang di sejumlah SPBU bahkan seakan tak pernah putus.
Masri misalnya, seorang sopir truk asal Lubuk Alung, terpaksa begadang demi mendapatkan solar. Ia harus rela mengantre dari Selasa (19/5) sore hingga Rabu (20/5) dini hari SPBU 14251510 Jalan Profesor Hamka, Parupuk Tabing, Kec. Koto Tangah, Kota Padang.
Dengan wajah letih ia mengaku sudah mengantre lebih enam jam. “Waktu habis, biaya bertambah. Sampai kapan nasib kami begini,” kata Masri, getir.
Nasib ini sudah dialaminya hampir dua pekan belakangan. Bapak tiga anak itu dan kawan-kawannya sesama sopir, harus berjuang keras untuk mendapatkan solar. Kadang nasib apes. “Pekan lalu, sewaktu antre di SPBU Pauh, saat giliran saya sampai, eh, solarnya malah habis. Padahal, saya sudah antre enam jam lebih,” ucapnya.
Pun halnya dengan Anto, sopir angkutan barang, yang sudah mengantre di salah satu SPBU di Kota Payakumbuh sejak pagi hingga tengah hari, namun belum kunjung mendapat giliran mengisi BBM. Ia mengaku memilih bertahan demi memastikan kendaraannya bisa kembali beroperasi. “Kalau tidak dapat solar, kami tidak bisa jalan. Mau tidak mau harus antre dari pagi,” ujarnya, Rabu (20/5).
Begitulah, bagi para sopir ini, mengantre BBM lebih dari sekedar menunggu giliran. Bagi mereka, keterlambatan mendapatkan solar bukan hanya soal waktu yang terbuang. Ada setoran yang harus dipenuhi, kebutuhan keluarga yang menunggu di rumah, hingga ongkos operasional yang terus berjalan meski kendaraan berhenti di antrean.
Fenomena antrean solar di SPBU bukan hanya menggambarkan persoalan distribusi BBM semata, tetapi juga memperlihatkan beratnya kehidupan para sopir angkutan di daerah. Di balik deretan truk yang mengular, ada waktu kerja yang terbuang, pendapatan yang terus menurun, hingga rasa lelah yang perlahan menjadi hal biasa bagi mereka.
Zal (40), sopir truk ekspedisi Sumatera–Jawa mengaku akibat mengantre terlalu lama di SPBU jatah keberangkatannya jauh berkurang. Biasanya bisa tiga kali, kini dengan estimasi waktu yang sama, ia hanya bisa berangkat satu kali. Kondisi ini tentu berpengaruh sangat besar terhadap pendapatannya sebagai sopir truk.
“Di saat kebutuhan pokok melonjak naik, pendapatan saya malah menurun akibat kelangkaan solar. Jikapun ada, saya harus antre berjam-jam di SPBU untuk mendapatkan solar,” kata Zal saat mengantre BBM di di SPBU 14-261-532 Bukit Ambacang, Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Rabu (20/5) pagi.












