HEADLINE

Antrean Solar Mengular, Sopir Truk Manggarutuak

×

Antrean Solar Mengular, Sopir Truk Manggarutuak

Sebarkan artikel ini
Antrean panjang kendaraan angkutan barang tampak mengular di sepanjang jalan menjelang SPBU Parik, Kelurahan Parik Muko Aia, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh, Rabu (20/5). Kondisi ini telah terjadi sepekan terakhir dan menimbulkan keluhan dari para sopir truk dan angkutan barang. FAJAR

Ia menyebut, kelangkaan BBM jenis solar ini membuat risiko pekerjaannya juga jauh meningkat. Zal yang biasa membawa buah-buahan dari Sumatera ke Jawa, harus pandai-pandai mengatur siasat agar barang yang dibawanya tidak rusak dan sampai tepat waktu. “Karena tidak dapat solar di perjalanan, tidak jarang saya membayar kerugian yang punya barang. Mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” katanya.

Tak hanya itu, mengantre BBM selama berjam-jam juga menyebabkan para sopir truk terkadang terpaksa mengeluarkan biaya ekstra. Andri, sopir truk angkutan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengaku akibat mengantre lama, dirinya mesti menambah pengeluaran untuk minum dan makan selama menunggu. “Ya, karena kita menunggu lama, tentu makan dan minum serta rokok bertambah dari biasanya,” ucap Andri saat mengantre BBM SPBU Batang Toman, Kecamatan Pasaman, Rabu (20/5).

Hal senada juga disampaikan Herman (50), seorang sopir truk pasir asal Kabupaten Solok. Bagi Herman, antrean panjang bukan sekadar persoalan menunggu. Situasi itu langsung memukul penghasilannya sebagai sopir truk pasir.

Baca Juga  Kepala DALH Walhi Sumbar Tommy Adam : Perda Tanah Ulayat Solusi Konflik Agraria Sumbar

Permintaan pasir dari proyek pembangunan maupun kebutuhan masyarakat tetap berjalan setiap hari, namun armada pengangkut justru banyak tertahan di SPBU. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengangkut material habis di jalan dan dalam antrean BBM.

Ia mengaku, semakin lama antrean terjadi, semakin besar pula kerugian yang dirasakan para sopir. Pendapatan harian menurun karena ritase angkutan berkurang drastis. Jika biasanya satu truk bisa beberapa kali mengangkut pasir dalam sehari, kini banyak sopir hanya mampu bekerja satu kali atau bahkan tidak sama sekali karena waktu habis menunggu solar.

“Kalau begini terus, kami yang rugi. Pasir diminta terus, tapi mobil tidak jalan karena minyak belum dapat,” ujarnya saat mengantre BBM di di SPBU Koto Baru, Kabupaten Solok, Rabu (20/5).

Pengalaman pahit selama mengantre pun sudah banyak ia alami. Herman bercerita, pernah suatu waktu dirinya harus menunggu sejak siang hingga siang keesokan harinya hanya demi mendapatkan solar.

Dalam kondisi itu, berbagai persoalan kerap muncul di lapangan. Ada truk yang mogok karena terlalu lama menyala, ada pula kendaraan yang justru kehabisan bahan bakar saat masih berada di barisan antrean.

Baca Juga  Mendagri Instruksikan Seluruh Kepala Daerah Siaga di Wilayah Masing-Masing pada 14-28 Maret

Menurut Herman, yang paling membuatnya kecewa adalah ketika antrean hampir mencapai pengisian, namun stok BBM di SPBU tiba-tiba habis. Setelah berjam-jam menunggu, para sopir akhirnya harus pulang dengan tangan kosong. “Yang paling menyedihkan itu saat sudah dekat ke tangki SPBU, ternyata BBM habis. Rasanya capek sekali,” tuturnya.

Namun, dibalik semua itu, para sopir masih berharap keadaan bisa cepat kembali normal. Indra (46), seorang sopir angkutan truk lintas provinsi yang tengah mengantre BBM di SPBU Bukit Ambacang menyebut, jika kondisi ini tidak cepat diatasi, tentu menimbulkan kerugian yang cukup besar, khususnya bagi pelaku usaha dan sopir-sopir ekspedisi yang rutin menggunakan solar dengan kuota yang cukup banyak.

“Kami berharap agar pemerintah dapat serius dalam menangani masalah ini. Pemerintah bersama aparat harus melakukan pengawasan rutin terhadap distribusi BBM subsidi agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan,” ucapnya. (h/ze/tot/wet/fs/rom/rvo)