PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID — Komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan kembali menjadi perhatian dalam penilaian Adipura 2026. Kali ini, Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, tampil sebagai salah satu titik penting yang dikunjungi tim penilai dari Kementerian Lingkungan Hidup pada Rabu (8/4/2026).
Kunjungan tersebut tidak sekadar seremonial. Tim penilai turun langsung melihat praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, yang dinilai menjadi kekuatan utama Nagari Amping Parak dalam menciptakan kawasan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Camat Sutera, Iwal, S.Pt, turut mendampingi tim selama peninjauan. Rombongan disambut oleh Wali Nagari Amping Parak Irwan Desrinaldi bersama perangkat nagari, serta para pegiat lingkungan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan unit pengelola Desa Wisata Amping Parak.
Salah satu titik yang menjadi sorotan utama adalah Bank Sampah Nagari Amping Parak. Program ini dinilai berhasil mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah, sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, bank sampah tersebut telah berkembang menjadi gerakan kolektif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Pola pengelolaan yang melibatkan masyarakat secara langsung dianggap mampu menciptakan kesadaran berkelanjutan, bukan sekadar program sesaat.
“Ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi bagaimana masyarakat bisa merasakan manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah,” ujar salah satu anggota tim penilai di lokasi.
Selain peninjauan lapangan, agenda kunjungan juga diisi dengan rapat koordinasi antara Pokdarwis Desa Wisata Amping Parak dan Pemerintah Nagari. Pertemuan tersebut membahas rencana program pengembangan desa wisata sepanjang tahun 2026.
Ketua Pokdarwis Nagari Amping Parak, Haridman, S.Pt, memaparkan sejumlah rencana strategis, mulai dari peningkatan kualitas lingkungan, penataan destinasi wisata, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Program tersebut, kata dia, mendapat dukungan pendanaan dari Yayasan Kehati atau Yayasan Emil Salim.
Menurut Haridman, konsep desa wisata yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga menekankan pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Camat Sutera, Iwal, berharap sinergi antara pemerintah nagari, kelompok masyarakat, dan dukungan berbagai pihak dapat terus diperkuat. Ia optimistis Desa Wisata Amping Parak mampu menjadi contoh praktik terbaik dalam pengelolaan lingkungan terpadu di Kabupaten Pesisir Selatan.











