Keterangan foto: Jufri Syahruddin berada di kawasan Asakusa, Tokyo. IST
Laporan: Dr. H. Jufri Syahruddin
Catatan Redaksi:
Salah seorang wartawan senior Harian Haluan, Dr. H. Jufri Syahruddin berkesempatan berkunjung ke Jepang dalam rangka wisata religi dan studi tiru. Berikut ini kami turunkan tulisan perjalanannya secara bersambung. Selamat mengikuti.
Wisatawan yang buat pertama kali datang ke Tokyo akan terkagum-kagum dan bahkan terheran-heran kenapa ibu kota negara Jepang yang berpenduduk 15 juta jiwa dan berpredikat kota metropolitan begitu bersih, asri, dan adem. Itulah faktanya, bahwa budaya bersih di Tokyo bukan sekadar hasil dari kerja keras petugas kebersihan, melainkan manifestasi dari filosofi hidup serta etika sosial yang ditanamkan sejak dini. Wisatawan seringkali terkesan dengan betapa mengkilapnya jalanan Tokyo, meskipun sangat sulit menemukan tempat sampah publik.
Berdasarkan informasi dan pengamatan penulis, ada sejumlah faktor yang membentuk budaya bersih di Tokyo. Faktor utamanya adalah filosofi omoiyari yang dianut masyarakat Jepang. Omoiyari ialah empati terhadap orang lain.
Masyarakat Tokyo memegang teguh prinsip memikirkan kenyamanan orang lain merupakan kewajiban. Bagi mereka, membuang sampah sembarangan dianggap sebagai tindakan yang mempermalukan diri sendiri, karena mengganggu keindahan ruang publik yang digunakan bersama.
Faktor kedua adalah tradisi membawa pulang sampah. Salah satu kejutan bagi pengunjung Tokyo adalah minimnya tempat sampah di pinggir jalan. Kebijakan ini diperketat setelah insiden gas sarin pada tahun 1995 untuk alasan keamanan. Warga Tokyo terbiasa membawa tas plastik kecil di dalam tas mereka untuk menyimpan sampah pribadi dan membawanya pulang untuk dibuang di rumah.
Faktor berikutnya yang menjadikan Kota Tokyo bersih karena adanya manajemen sampah yang sangat ketat. Di Tokyo, membuang sampah adalah sebuah “keterampilan”. Aturan pemisahan sampah sangat mendetail.
Jenis sampah dibuat kategorinya. Ada sampah yang bisa dibakar (burnable), tidak bisa dibakar (non-burnable), botol plastik (PET), kaleng, hingga kaca. Di samping itu, ada penjadwalan pengambilan sampah yang ketat. Setiap jenis sampah memiliki hari penjemputan yang spesifik. Jika salah memisahkan atau salah hari, petugas tidak akan mengambil sampah tersebut dan akan menempelkan stiker “pelanggaran”.
Akan tetapi, sesungguhnya faktor terpenting dalam menciptakan kebersihan tersebut adalah adanya pendidikan sejak dini untuk hidup bersih dengan sistem o-soji. Budaya bersih ini berakar dari sekolah. Di Jepang, tidak ada petugas kebersihan sekolah (janitor) seperti di negara lain.
Para siswa, dari tingkat SD hingga SMA, memiliki waktu khusus setiap hari yang disebut o-soji untuk membersihkan kelas, koridor, hingga toilet bersama-sama. Hal ini menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan sejak kecil.
Sementara itu, peran komunitas dan tokoh lokal sangat penting dalam membangun gaya hidup bersih ini. Budaya gotong royong di lingkungan perumahan atau bisnis amatlah penting. Warga sering mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan (community cleaning) secara sukarela di akhir pekan.
Di pusat-pusat bisnis juga ditanamkan tanggung jawab bersama untuk menangani kebersihan. Pemilik toko atau staf restoran di Tokyo biasanya akan menyapu trotoar di depan bangunan mereka setiap pagi sebelum buka. Anda akan sering melihat mereka menyiram jalanan dengan air untuk mengurangi debu.
Keteraturan dan kebersihan yang telah membudaya di Tokyo khususnya dan Jepang umumnya patut menjadi pelajaran bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. Apabila suatu waktu melancong ke Tokyo, Anda benar-benar perlu membuang sampah pada tempat yang disediakan saat sedang jalan-jalan.
Tempat sampah biasanya tersedia di dalam atau di depan toko kelontong, dekat mesin penjual otomatis (vending machine). Biasanya terdapat lubang kecil khusus untuk botol plastik dan kaleng dan jangan memasukkan sampah jenis lain ke sana. Pengunjung harus selalu mencek simbol pada tempat sampah untuk memastikan Anda membuang benda yang benar ke lubang yang benar.
Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa budaya bersih di Tokyo adalah bukti bahwa teknologi secanggih apapun tidak akan bisa menggantikan kekuatan disiplin kolektif manusia. (*) (Bersambung)












