Ramadan

Dari Takbir ke Peradaban: Makna Idulfitri di Plaza PT Semen Padang

×

Dari Takbir ke Peradaban: Makna Idulfitri di Plaza PT Semen Padang

Sebarkan artikel ini
Ribuan jemaah memadati Plaza Kantor Pusat PT Semen Padang untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3). IST

Dari Ramadan Menuju Peradaban

Dalam khutbahnya, Duski Samad menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar peningkatan ibadah ritual, melainkan proses pembentukan karakter manusia.
“Idulfitri bukan akhir, tetapi awal untuk menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” katanya.

Ia menyampaikan tiga pesan utama agar nilai Ramadan tetap terjaga.

Pertama, pentingnya integritas. Mengacu pada Al-Maidah, Duski menekankan bahwa ketakwaan harus diwujudkan melalui ibadah, pengembangan ilmu, amal kebajikan, dan akhlak mulia.
Menurutnya, ketahanan spiritual yang dibangun selama Ramadan harus dijaga di tengah tantangan kehidupan modern.

Ia juga menyoroti krisis ketenangan jiwa di era modern. Kemajuan teknologi dan ekonomi, kata dia, tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin.
“Zikir bukan hanya ibadah, tetapi juga terapi spiritual,” ujarnya.

Baca Juga  Mudahkan Warga Beribadah, BRI Region 3 Padang Bangun Musala di Huntara Pauh

Duski menambahkan, puncak kualitas spiritual adalah ihsan, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap tindakan manusia. Kesadaran ini melahirkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.

Kedua, kewarasan dalam menghadapi tekanan hidup. Mengutip Al-Balad, ia menegaskan bahwa kehidupan penuh tantangan yang harus dihadapi secara bijak.
Ia mendorong umat Islam untuk tetap produktif, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi bagi masyarakat, dengan tetap berlandaskan etika.

“Keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian materi, tetapi juga dari integritas dan karakter,” ujarnya.

Baca Juga  Panen Perdana 45.000 Bibit Kaliandra di HKm Sialangan, Komitmen PT Semen Padang pada Energi Terbarukan

Ketiga, jihad peradaban. Mengacu pada Al-Hajj ayat 78, Duski menjelaskan bahwa jihad tidak terbatas pada peperangan, melainkan upaya membangun kehidupan yang lebih baik.

Ia menyebut jihad masa kini dapat diwujudkan melalui pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, hingga pelestarian lingkungan.
“Jihad peradaban adalah membangun kehidupan yang adil, maju, dan bermartabat,” katanya.

Dalam konteks dunia kerja, ia menambahkan, setiap individu yang bekerja dengan niat ibadah, kejujuran, dan profesionalitas turut berkontribusi dalam membangun peradaban.
“Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari ibadah,” pungkasnya. (*)