Ramadan

Buya Ristawardi: Dari Tukang Angkat Semen Menjadi Penjaga Cahaya Dakwah

×

Buya Ristawardi: Dari Tukang Angkat Semen Menjadi Penjaga Cahaya Dakwah

Sebarkan artikel ini
Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh. IST

PADANG, HARIANHALUAN.ID–Ramadan selalu menghadirkan kisah-kisah yang menghangatkan hati, kisah tentang kerja keras yang perlahan berbuah kemuliaan, tentang ketulusan yang tumbuh dalam diam lalu menjelma cahaya, serta tentang bagaimana nilai-nilai keimanan dapat bersemi bahkan dari tempat yang paling sederhana sekalipun.

Di antara kisah itu, terselip perjalanan hidup seorang mubaligh yang suaranya begitu akrab di telinga masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), yaitu Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh. Sosok ini hari ini dikenal luas sebagai penceramah berjiwa budaya dengan gaya penyampaian yang hangat, jenaka, namun sarat hikmah. Ceramah-ceramahnya kerap menjadi halaman rekomendasi (for your page/FYP) di sejumlah aplikasi media sosial.

Tak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan dakwahnya tidak dimulai dari mimbar megah atau ruang akademik, melainkan dari peluh di Pelabuhan Teluk Bayur, tempat ia dahulu memanggul karung-karung berat hasil produksi PT Semen Padang yang dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Baca Juga  Safari Ramadan SIG di PT Semen Padang: “Cahaya Ramadan, Harmoni Kebersamaan”

Peluh di Teluk Bayur yang Menempa Keteguhan

Tahun 1974 menjadi titik awal perjalanan panjang itu ketika Ristawardi muda bekerja sebagai buruh angkat semen dengan jam kerja delapan jam sehari, memindahkan karung-karung dari lori ke gudang sebelum dimuat ke kapal. Pekerjaan fisik tersebut menuntut kekuatan, ketahanan, dan kesabaran luar biasa.

Ia masih mengingat bagaimana kerasnya masa-masa itu, ketika tubuhnya terasa kaku setelah bekerja seharian. Untuk sekadar menoleh pun ia harus memutar seluruh badan karena lelah yang begitu menyergap.

Baca Juga  Dari “Lorong Waktu” ke Indarung: Megahnya Masjid Jabal Rahmah Semen Padang yang Menghidupkan Syiar Islam

“Kalau sudah selesai bekerja, badan rasanya kaku. Dipanggil orang tak bisa menoleh, harus memutar seluruh badan,” kenangnya suatu ketika.

Namun dari kerja keras yang menguras tenaga itulah ia belajar tentang kesabaran, disiplin, dan keteguhan hati, nilai-nilai yang kemudian hari menjelma menjadi fondasi kuat dalam setiap ceramah yang ia sampaikan kepada masyarakat.

Beberapa tahun kemudian, takdir membawanya diangkat menjadi karyawan tetap di PT Semen Padang. Karena tidak memiliki ijazah formal yang tinggi, ia ditempatkan sebagai cleaning service (CS). Sebuah posisi yang bagi sebagian orang mungkin dianggap sederhana, tetapi baginya justru menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh.