JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Kemajuan teknologi dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) membuat akses terhadap informasi dan jawaban menjadi semakin mudah. Di tengah kemudahan tersebut, kemampuan untuk terus bertanya, mencari tahu, dan berani bereksperimen justru menjadi semakin penting agar pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi berkembang menjadi penemuan, inovasi, dan manfaat.
Pesan tersebut disampaikan dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dalam Endgame Townhall 2026 bertema Cosmos of Knowledge, Sabtu (19/9) di Balai Kartini, Jakarta. Dalam sesi bertajuk The Power of Curiosity and Research, dr. Sari menekankan pentingnya menjaga rasa ingin tahu sebagai fondasi dalam proses belajar dan penelitian, sekaligus membangun keberanian untuk menguji, menemukan, dan terus menyempurnakan sesuatu berdasarkan bukti.
“Hari ini hampir semua pertanyaan bisa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik. Kita bisa mencari melalui ponsel atau bertanya kepada AI. Namun, ketika jawaban semakin mudah ditemukan, pertanyaannya adalah apakah kita masih memiliki rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum kita ketahui hasilnya?” ujar dr. Sari.
Menurutnya, curiosity merupakan titik awal dari proses pencarian pengetahuan. Namun, rasa ingin tahu perlu dilanjutkan dengan proses yang memungkinkan sebuah pertanyaan diuji dan menghasilkan pemahaman baru.
Dalam dunia sains dan penelitian, proses tersebut dapat berlangsung melalui berbagai tahapan, mulai dari merumuskan pertanyaan, membangun hipotesis, melakukan eksperimen, menguji asumsi, membaca hasil, menemukan kesalahan, hingga melakukan iterasi untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Dari Pertanyaan Menjadi Eksperimen, dari Eksperimen Menjadi Pengetahuan
Bagi ParagonCorp, semangat untuk terus bertanya dan mencari tahu merupakan bagian penting dari perjalanan inovasi. Sebuah pertanyaan dapat menjadi titik awal untuk melakukan eksperimen, menghasilkan pengetahuan baru, dan pada akhirnya diterjemahkan menjadi solusi yang memberikan manfaat.
Semangat tersebut juga relevan dalam dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Menurut dr. Sari, proses belajar tidak semestinya hanya mendorong seseorang untuk memiliki semakin banyak jawaban, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik dan memiliki keberanian untuk mencari tahu jawabannya.
“Kita tidak harus menjadi scientist dan memiliki laboratorium untuk bereksperimen. Kita semua memiliki ruang untuk melakukan eksperimen, baik di ruang kelas, ruang meeting, lingkungan kerja, maupun di rumah. Yang penting adalah keberanian untuk mengatakan ‘saya belum tahu’, lalu mencari tahu, mencoba, dan belajar dari hasilnya.” lanjut dr. Sari.
Menurutnya, cara berpikir tersebut semakin relevan ketika perkembangan teknologi berlangsung semakin cepat. Ketika informasi dan teknologi semakin mudah diakses, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan jawaban, tetapi bagaimana manusia dapat mengolah informasi menjadi pemahaman, menguji pengetahuan melalui pengalaman, dan menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Karena itu, AI dapat menjadi bagian dari proses belajar dan eksplorasi, tetapi rasa ingin tahu, penalaran, eksperimen, dan kemampuan untuk mengambil pembelajaran dari hasil yang diperoleh tetap menjadi bagian penting dalam menghasilkan pengetahuan.
Membangun Pengetahuan dan Inovasi dari Indonesia
Lebih jauh, dr. Sari menekankan bahwa perjalanan membangun pengetahuan tidak berhenti ketika sebuah jawaban ditemukan. Pengetahuan menjadi semakin bermakna ketika dapat diterjemahkan menjadi solusi dan manfaat bagi orang lain.
“Bagi saya, knowledge menemukan maknanya ketika ia menjadi manfaat. Ketika apa yang kita pelajari membuat sesuatu menjadi lebih baik, pengetahuan itu tidak lagi berhenti sebagai informasi. Ia menjadi bagian dari proses menciptakan perubahan dan membuka kemungkinan lahirnya pengetahuan baru dari negeri kita sendiri, Indonesia yang kita cintai.” ungkapnya.
Semangat tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan ParagonCorp dalam mengembangkan inovasi berbasis riset dan sains. Melalui penguatan kapabilitas research and development, pengembangan teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, ParagonCorp terus mengeksplorasi bagaimana pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang relevan dan memberikan manfaat.
Bagi generasi muda, dr. Sari mengajak agar kemudahan teknologi tidak menghilangkan keberanian untuk mengeksplorasi hal-hal yang belum diketahui. Menurutnya, kemampuan untuk menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan untuk berpikir kritis, bertanya, melakukan eksperimen, dan belajar dari proses.
“Jangan pulang hanya membawa jawaban. Pulanglah membawa sesuatu yang ingin Anda coba. Jangan hanya bertanya, ‘Apa yang saya pelajari hari ini?’, tetapi tanyakan juga, ‘Apa yang akan saya coba besok dan apa yang masih membuat saya penasaran?’” tutup dr. Sari.
Melalui semangat curiosity dan riset, ParagonCorp meyakini bahwa kemajuan tidak hanya lahir dari kemampuan menemukan jawaban, tetapi juga dari keberanian untuk mengajukan pertanyaan baru, menguji berbagai kemungkinan, dan mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat.
Semangat tersebut sejalan dengan perjalanan ParagonCorp sebagai Purposeful Beauty Tech Company asal Indonesia, yang terus mengembangkan inovasi berbasis sains dan teknologi untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas. (*)












