HEADLINEOPINI

Hasil Riset Unand Jangan “Valley of Death “

×

Hasil Riset Unand Jangan “Valley of Death “

Sebarkan artikel ini

Oleh. Basril Basyar (Dosen Pascasarjana Unand)

Peringatan 70 tahun berdiri Universitas Andalas diselenggarakan dalam suasana meriah dan penuh makna. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, peringatan ditandai dengan Sidang Terbuka yang dipimpin Rektor Dr Efa Yonnedi dan orasi ilmiah dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Dr Arif Satria SP, MSi.

Dalam kesibukannya mengikuti forum IAEA General Conference (Sidang Umum Badan Tenaga Atom Internasional) yang diselenggarakan di markas besar IAEA di Wina, Austria, Prof Arif Satria masih menyempatkan diri memberikan orasi ilmiah lewat online, walaupun masih dini hari disana.

Ceramahnya sangat menarik bagi dunia pendidikan karena berkaitan dengan arah pengembangan riset nasional.

Di awal orasi, mantan Rektor IPB University itu menekankan pentingnya penguatan human capital, teknologi, inovasi dan entrepreneurship dalam menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kemampuan sebuah bangsa untuk tumbuh dan bersaing.

Human capital merupakan salah satu kunci dalam menentukan masa depan, selain teknologi, inovasi, dan entrepreneurship.

Arif juga mengingatkan perguruan tinggi agar tidak membiarkan hasil penelitian berhenti pada publikasi maupun paten. Hasil riset harus terus didorong hingga menghasilkan teknologi, produk, lisensi dan akhirnya dapat dikomersialisasikan, sehingga memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ia menyebut kondisi ketika hasil penelitian sulit diterapkan atau dikembangkan ke dunia industri sebagai Valley of Death atau akan menjadi “lembah kematian”. Ini berarti bahwa sebuah hasil penelitian yang hebat, sangat sulit masuk ke dunia industri untuk dikomersialisasikan, sama artinya dengan lembah kematian. Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun jembatan yang kuat antara dunia riset dengan industri dan kalangan usaha (Entrepreneur).

Baca Juga  Intimidasi Karya Seni (Sukatani)

Dalam konteks tersebut, Arif mendorong UNAND bergerak menuju Innovation University, yakni perguruan tinggi yang mampu mengubah hasil penelitian menjadi solusi nyata yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.

Penguatan flagship innovation, roadmap riset, science and technopark, serta advanced laboratory dinilai penting untuk membangun ekosistem inovasi yang lebih kuat. Kekuatan ini tidak hanya bermanfaat bagi Unand tetapi juga Sumatera Barat pada umumnya.

Prof Arif Satria secara khusus memberikan apresiasi kepada institusi pertama di pulau Sumatera ini. Ia sudah memantau dan mengikuti kiprah Unand di kancah nasional.

Dari Unand banyak keluar hasil penelitian hebat dan dikomersialisasikan. Universitas Andalas diakui punya kontribusi di kancah nasional. Dan untuk itu, Kepala BRIN akan menyiapkan dukungan dana yang lebih besar.

Bak “Gayuang Basambuik. Harapan Kepala BRIN disambut baik Rektor Unand Dr Efa Yonnedi. Dalam forum yang dihadiri berbagai unsur itu, ia menyampaikan sejumlah capaian Universitas memasuki usia tujuh dekade ini.

Tidak tanggung-tanggung, selama 2025, UNAND melaksanakan lebih dari 1.500 proyek riset dan menghasilkan 1.344 publikasi yang terindeks Scopus. Dan dari jumlah tersebut, sebanyak 51,7 persen berada pada jurnal Q1 dan Q2 terindeks Scopus.

Tak hanya pada aspek publikasi, UNAND juga terus mendorong agar hasil penelitian dapat masuk ke tahap hilirisasi

Sepanjang 2026, dihasilkan tujuh produk atau prototipe, dua lisensi atau kontrak komersialisasi. Universitas Andalas mengomersilkan sekitar 10 produk hasil riset dan hilirisasi, terutama yang berbasis komoditas lokal dan bahan alam unggulan seperti gambir.

Inovasi tinta pemilu menggunakan ekstrak daun gambir sukses menembus pasar nasional dan memenuhi kebutuhan logistik pemilu di berbagai zona di Indonesia beberapa tahun lalu.

Baca Juga  Darul Hikmah Pasbar Catat 42 Santri Hafizh 30 Juz Al-Qur’an Sejak 2022–2026

Belum lagi Produk Kosmetik dan Perawatan Kulit. Rangkaian produk kecantikan seperti Kanita Serum, Kanita Cream, dan BARYA Serum, serta produk berbasis gambir seperti sabun, lotion, dan sampo adalah hasil riset peneliti Unand yang sudah masuk pasar nasional, begitu pula dengan produk pangan dan minuman fungsional

Pengembangan komoditas lokal menjadi teh gambir, kopi gambir, matcha gambir, teh hijau Sinatra Sumatra Artisan Tea, serta formulasi susu kerbau fermentasi dan vinegar beras ketan hitam adalah hilirisasi yang sukses. Semua produk riset telah mengharumkan nama universitas Andalas di kancah nasional.

Maka tidak mengherankan bila peringkat Andalas di kancah nasional dan internasional terus naik. Perkembangan itu tercermin dalam pemeringkatan internasional. Posisi UNAND di Asia berdasarkan QS meningkat dari peringkat 470 pada 2025 menjad 396 dalam tahun 2026.

Universitas Andalas telah membangun lebih dari 3.887 kerja sama aktif dengan mitra dari 46 negara. Saat ini universitas Andalas memiliki 154 program studi. Sebanyak 87 berstatus unggul. Dan yang menggembirakan 29 program studi mengantongi akreditasi internasional.Rektor menunggu 14 program studi yang dalam proses akreditasi internasional.

Menapak usia yang ke-71 tahun, semua berharap, lembaga pendidikan tinggi terus bergerak maju, tidak jalan di tempat atau puas dengan prestasi hari ini.

Kehadiran laboratorium central yang menelan biaya Rp 200 milyar lebih diharapkan memacu hasil riset yang lebih banyak dan berkualitas tinggi. Semoga prestasi gemilang terus terukir dimasa datang. Hidup Unand, Untuk Kejataan. (*)