Oleh : Hardisman
Profesor/ Guru Besar Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas
Ketika langit berubah kelabu dan pemandangan menjadi terbatas akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, kita mungkin bertanya: Apakah ini sama dengan kabut asap kebakaran hutan? Seberapa jauh sebenarnya abu itu dapat terbang? dan Seberapa berbahaya kalau kita menghirupnya?
Abu vulkanik bukanlah abu dalam pengertian sehari-hari dan bukan sisa pembakaran kayu, daun, atau gambut. Abu vulkanik adalah material geologis yang terpecah menjadi fragmen sangat kecil akibat proses erupsi. Di dalamnya terdapat pecahan batuan, kristal mineral, dan gelas vulkanik berukuran hingga sekitar dua milimeter. Bagian ini sangat halus yang dapat terbawa angin hingga puluhan, bahkan ribuan kilometer. Oleh karena itu, ketika menghirup kabut vulkanik, kita tidak sekadar menghirup “debu”, tetapi juga menghirup partikel mineral dan gelas alami yang memiliki karakter fisik dan kimia yang berbeda dari partikulat hasil kebakaran.
Dalam konteks Gunung Anak Krakatau, persoalannya menjadi lebih menarik sekaligus lebih serius karena gunung ini berada di tengah Selat Sunda, aktif secara episodik, memiliki magma basaltik hingga basaltik-andesitik, dan berada relatif dekat dengan kawasan berpenduduk padat di Banten dan Lampung. Pada awal September 2026, BMKG melaporkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada beberapa lapisan atmosfer dengan dampak yang terpantau hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Jawaban atas pertanyaan mengenai dampak bahayanya bukanlah hipotetik karena kabut vulkanik Anak Krakatau memang dapat mencapai wilayah yang jauh dari gunungnya. Meskipun tentunya, setiap wilayah yang dilewati abu memiliki risiko kesehatan yang berbeda.
Abu Materi Gelas Vulkanik
Abu vulkanik bukanlah hasil pembakaran. Asap kebakaran merupakan hasil pembakaran biomassa dan mengandung campuran partikulat, karbon organik, karbon hitam, karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOₓ), senyawa organik volatil (VOCs), dan berbagai zat lain.
Sebaliknya, abu vulkanik terbentuk melalui mekanisme yang berbeda. Magma yang berada di bawah permukaan bumi mengandung gas terlarut dan berada dalam tekanan tinggi. Ketika magma bergerak naik menuju permukaan, tekanan menurun dan gas mengembang. Pada erupsi eksplosif, ekspansi gas ini dapat memecah magma dan batuan menjadi fragmen yang kemudian terlontar ke atmosfer. Beberapa komponen penting antara lain silika (SiO2), alumina (Al2O3), besi oksida (Fe2O3 dan FeO), kalsium oksida (CaO), magnesium oksida (MgO), natrium oksida (Na2O), dan kalium oksida (K2O) dengan komposisinya yang tentu tidak selalu sama karena bergantung pada jenis magma dan proses erupsi.
Materi gelas vulkanik terbentuk ketika bagian magma yang mencair mendingin sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk struktur kristal yang teratur. Pecahan gelas inilah yang menyebabkan sebagian abu vulkanik mempunyai bentuk bersudut dan sangat abrasif. Jadi, istilah “abu” sebenarnya kurang tepat. Kita lebih tepat membayangkannya sebagai serbuk sangat halus dari batu, mineral, dan kaca alami.
Mengukur Dampak Kesehatan
Silika (SiO2) sebenarnya merupakan komponen umum kerak bumi. Zat ini dapat menjadi bagian semburan erupsi vulkanik berupa kristalin. Masalah kesehatan muncul ketika seseorang terpapar silika kristalin respirabel atau yang dapat terhidup melalui pernapasan dalam konsentrasi cukup tinggi dan dalam jangka panjang. Jenis silika kristalin tertentu, seperti kuarsa, kristobalit, dan tridimit, dapat berhubungan dengan penyakit paru kronis seperti silikosis apabila paparannya cukup tinggi dan lama.
Erupsi yang menghasilkan abu sangat halus disertai kandungan silika kristalin yang tinggi dapat memiliki risiko lebih besar terhadap silikosis. Meskipun tentunya tidak setiap abu Anak Krakatau otomatis menyebabkan silicosis, risikonya tergantung pada bentuk mineral silikanya, konsentrasi, ukuran partikel, lama paparan, dan pola paparan. Meskipun demikian, volcanic glass shards atau fragmen gelas vulkanik bukanlah seperti beling yang merobek paru-paru. Partikel tersebut memang bersudut, keras, dan abrasif.
Akan tetapi, mekanisme bahaya utamanya bukanlah seperti seseorang memasukkan pecahan botol ke paru-paru, melainkan pada risiko kesehatan yang lebih kompleks, yaitu melalui iritasi mekanis, deposisi partikel di saluran pernapasan, inflamasi, dan stres oksidatif. Iritasi mekanis inilah yang menyebabkan peradangan dan meningkatkan risiko infeksi sekunder oleh mikroorganisme.
Lokasi geografis Gunung Anak Krakatau mempunyai konsekuensi yang perlu menjadi perhatian khusus. Abu vulkanik berukuran kecil dapat terbawa angin dari puluhan hingga ribuan kilometer, bergantung pada kecepatan angin, jumlah abu yang dilepaskan, dan ketinggian kolom erupsi. Sebagaimana BMKG menyebutkan bahwa pada lapisan dari permukaan hingga sekitar 15.000 kaki dengan abu terpantau bergerak ke sektor tenggara hingga barat laut. Pergerakan itu mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Pada lapisan 15.000–50.000 kaki, sebaran bergerak lebih jauh ke arah barat hingga barat daya menuju kawasan Samudra Hindia, sebagian Bengkulu, Lampung, dan selatan Banten. Artinya, abu yang keluar dari gunung yang sama dapat bergerak ke arah berbeda tergantung ketinggiannya. Hal ini merupakan alasan penting mengapa peta sebaran abu dan informasi meteorologi jauh lebih berguna daripada sekadar mengatakan “angin sedang ke arah barat” atau “angin sedang ke arah timur”.
Ukuran partikel juga merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan bahaya kesehatan. Tidak semua abu yang jatuh dari langit dapat masuk jauh ke paru-paru. Partikel yang besar cenderung tertahan di hidung dan saluran pernapasan atas. Partikel yang lebih kecil dapat mencapai saluran pernapasan bawah.
Partikel sekitar 10–100 mikrometer terutama mengendap di saluran napas bagian atas, sedangkan partikel sekitar 4–10 mikrometer dapat mencapai trakea dan bronkus. Partikel yang lebih kecil dari sekitar 4 mikrometer dapat masuk lebih dalam hingga daerah alveolus. Kondisi ini menghasilkan prinsip sederhana: Semakin kecil partikelnya, semakin jauh ia dapat masuk ke sistem pernapasan.
Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh menilai bahaya abu hanya berdasarkan apakah mata dapat melihatnya. Abu yang tampak tipis di permukaan mungkin masih mengandung fraksi partikel yang cukup halus untuk terhirup. Sebaliknya, hujan abu yang sangat tebal tentu memberikan risiko paparan yang jauh lebih tinggi karena jumlah material yang tersedia di udara dan permukaan menjadi jauh lebih besar. Sikap yang bijak adalah teap menjauhi erupsi vulkanik dan harus menggunakan pelindung pernafasan jika memang harus berada di wiliyah terdampak meskipun abunya tidak tebal dalam kasat mata. (*)












