KESEHATANHEADLINE

IDAI: Kesehatan Mental Anak dan Remaja Adalah Darurat yang Terabaikan

×

IDAI: Kesehatan Mental Anak dan Remaja Adalah Darurat yang Terabaikan

Sebarkan artikel ini
Logo IDAI

JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – INDONESIA, 21 Juli 2026. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan keprihatinan mendalam terhadap semakin daruratnya kondisi kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia.

Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mengungkapkan bahwa satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun, setara dengan sekitar 15,5 juta jiwa, mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Lebih lanjut, satu dari dua puluh remaja di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental terdiagnosis seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio.(K), menegaskan bahwa kondisi ini sering luput dari perhatian karena masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan mental merupakan problematika eksklusif orang dewasa. “Sering kali mengira anak-anak itu belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya,” ujar Dr Piprim dalam seminar media yang digelar secara daring oleh Pengurus Pusat IDAI, Selasa (21/7/2026) .

Dr. Piprim menyoroti bahwa pola asuh yang salah menjadi salah satu faktor dominan pemicu gangguan mental. Tekanan berlebihan dari orang tua, khususnya terkait tuntutan prestasi akademik yang tidak sesuai kapasitas anak, menciptakan suasana penuh tekanan (under pressure) yang berdampak buruk pada psikologis anak.

“Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibu mengatakan kecewa karena sepertinya tidak mungkin jadi juara kelas. Ini gambaran bagaimana tekanan dari orang tua sendiri bisa memengaruhi anak,” tegasnya.

Baca Juga  Mulyanto: Pemerintah Harus Segera Revisi Regulasi BBM Bersubsidi

Lebih lanjut, Ketua IDAI mengajak para orang tua untuk kembali menerapkan konsep “Asuh, Asih, dan Asah” dalam pengasuhan. Rumah tangga harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk bertumbuh serta menjadi pendengar utama keluh kesah mereka. IDAI menilai keluarga adalah benteng pertama yang sangat kritis dalam mencegah dan mendeteksi dini gejala gangguan mental pada anak dan remaja.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa tekanan teman sebaya, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten negatif di internet merupakan katalis utama memburuknya kesehatan jiwa remaja.

Tidak hanya anak, gangguan mental juga banyak dialami oleh remaja. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K) mengingatkan bahwa gejala depresi dan kecemasan pada remaja sering kali samar dan dianggap sebagai perubahan perilaku biasa masa pubertas. Tanda-tanda seperti kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, pikiran berlebihan (overthinking), gelisah, dan keluhan fisik seperti sakit perut tanpa sebab jelas harus diwaspadai. Katalis utama memburuknya kesehatan jiwa remaja antara lain disebabkan tekanan teman sebaya, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten negatif di internet.

“Gejala ini sering dianggap perubahan perilaku biasa pada remaja, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan mental,” jelas dr. Angga. “Jika ada perubahan perilaku atau emosi yang tiba-tiba tanpa sebab jelas hingga mempengaruhi fungsi sehari-hari—seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, hingga enggan mandi—itu harus segera dirujuk ke tenaga profesional,” jelas dr Angga.

Baca Juga  Pemprov Pastikan Pengawasan Pasar Rutin Selama Ramadan

Untuk mendeteksi dini, UKK Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI merekomendasikan penggunaan instrumen Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang dapat diisi oleh anak, orang tua, atau guru untuk mengukur emosi, perilaku, dan relasi sosial anak. SDQ efektif sebagai alat skrining untuk mengetahui adanya masalah pada ranah psikososial tertentu pada anak usia 3–18 tahun.

Selain deteksi dini, dr. Angga menekankan pentingnya pendekatan komunikasi HEEADSSS (Home, Education, Activities, Drugs, Sexuality, Suicide, Safety) yang wajib dilakukan tenaga kesehatan untuk menggali masalah psikososial remaja secara holistik. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi faktor risiko dan protektif, serta membangun kedekatan dengan remaja yang seringkali enggan mengungkapkan masalahnya bila tidak ditanyakan dengan baik .

Untuk mencegah dampak buruk, orang tua didorong untuk menjalin komunikasi yang hangat tanpa menghakimi, mendorong anak melakukan kegiatan positif (olahraga, berorganisasi, mengembangkan hobi), serta membatasi durasi penggunaan media sosial.

Dokter Angga berpesan, “Apabila ada masalah, anak-anak harus bercerita kepada orang tua, guru, atau teman yang dipercaya.”

IDAI menegaskan bahwa investasi dalam kesehatan mental anak adalah investasi untuk masa depan bangsa yang lebih sehat dan kuat. (*)