PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kemajuan teknologi informasi yang pesat dalam dua dekade terakhir ikut memunculkan tantangan baru bagi kaum perempuan. Kini, perjuangan perempuan tidak lagi sebatas pada pemenuhan hak-hak dasar, melainkan telah bergerak ke ranah representasi dan akses.
Akademisi dan praktisi komunikasi Universitas Andalas (Unand), Dr. Yesi Puspita, M.Si., CPPS, menilai bahwa makna emansipasi perempuan saat ini telah mengalami pergeseran signifikan seiring perkembangan zaman dan teknologi.
“Sekarang bukan lagi soal apakah perempuan boleh bekerja, tetapi bagaimana perempuan mampu memimpin narasi. Platform digital memberi ruang bagi perempuan untuk membangun personal branding dan opini publik secara mandiri,” ujarnya kepada Haluan, beberapa waktu yang lalu.
Ia menjelaskan, jika pada masa lalu perempuan berjuang melawan hambatan struktural seperti keterbatasan akses pendidikan dan politik, maka saat ini tantangan lebih bersifat kultural dan digital. Salah satu yang menonjol adalah fenomena double burden yang kini turut diperkuat oleh ekspektasi sosial di media sosial.
“Perempuan tidak hanya dituntut bekerja dan mengurus rumah tangga, tetapi juga harus terlihat sukses dan bahagia di ruang digital. Ini menciptakan tekanan psikologis baru yang berpotensi menimbulkan burnout,” katanya.
Dalam konteks budaya lokal, Yesi menyoroti posisi strategis perempuan Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Perempuan, sebagai bundo kanduang, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kekuasaan domestik dan keterlibatan di ruang publik. “Ini sebenarnya bentuk emansipasi berbasis kearifan lokal yang sudah ada jauh sebelum konsep kesetaraan modern berkembang,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kesetaraan perempuan belum sepenuhnya terwujud. Secara regulasi atau de jure, kemajuan telah terlihat, namun dalam praktik atau de facto, masih terdapat hambatan tak kasat mata yang dikenal sebagai glass ceiling.
“Persepsi publik masih sering menilai perempuan dari sisi emosional, bukan kompetensi. Padahal, kesetaraan itu bukan berarti sama, tetapi memiliki kebebasan penuh atas pilihan hidup tanpa diskriminasi,” tuturnya.
Di momentum peringatan Hari Kartini yang identik dengan sosok Raden Adjeng Kartini, Yesi juga menyampaikan pesan kepada generasi muda perempuan agar mampu menjadi subjek dalam ekosistem digital, bukan sekadar objek.
Ia menekankan pentingnya kedaulatan diri, kemampuan komunikasi yang cerdas, serta ketangguhan mental dalam menghadapi tantangan zaman. “Integritas harus menjadi aset utama, bukan sekadar pencitraan. Perempuan juga harus mampu mengelola narasinya sendiri dan membangun jejaring yang saling menguatkan,” tuturnya.












