UTAMA

TB dan Kabut Asap Jadi Perhatian, Dokter Paru Indonesia Perkuat Kesehatan Respirasi

×

TB dan Kabut Asap Jadi Perhatian, Dokter Paru Indonesia Perkuat Kesehatan Respirasi

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus dalam Konferensi Kerja (KONKER) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) XVIII Tahun 2026 di The ZHM Premiere Hotel Padang, Jumat (18/9).

PADANG, HALUAN— Indonesia masih menghadapi beban tuberkulosis (TB) yang tinggi dengan jumlah kasus tertinggi kedua di dunia yang menyebabkan sekitar 100 ribu kematian setiap tahun.

Kondisi ini membuat penemuan kasus dan pencegahan menjadi pekerjaan penting dalam penguatan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus mengatakan persoalan TB menjadi salah satu tantangan kesehatan yang masih harus diatasi pemerintah.

“Indonesia kasus TB nomor dua di dunia,” ujar Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus dalam Konferensi Kerja (KONKER) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) XVIII Tahun 2026 di The ZHM Premiere Hotel Padang, Jumat (18/9).

Menurutnya, kemampuan Indonesia dalam pengobatan TB sudah cukup baik, tetapi penemuan kasus dan pencegahan masih perlu diperkuat.

Oleh karena itu, deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian TB. Pemerintah terus mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Benjamin menyebut sekitar 96 juta masyarakat Indonesia telah mengikuti program CKG. Pemeriksaan tersebut diharapkan membantu menemukan faktor risiko maupun penyakit lebih awal sehingga dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat.

1.900 Dokter Paru Hadapi Tantangan Respirasi

Selain penguatan fasilitas dan deteksi dini, ketersediaan tenaga medis menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan respirasi.

Benjamin menyebut jumlah alumni dokter spesialis paru di Indonesia telah mencapai sekitar 1.900 orang.

Namun, jumlah tersebut perlu diikuti dengan pemerataan tenaga dokter paru ke berbagai daerah agar kebutuhan pelayanan kesehatan respirasi dapat terpenuhi.

Baca Juga  Sampai di Sumbar, Bawaslu Kota Padang Awasi Ketat Distribusi Surat Suara

Tantangan kesehatan respirasi juga tidak hanya berasal dari penyakit menular. Faktor lingkungan, termasuk asap kebakaran hutan dan abu vulkanik, turut menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap kesehatan pernapasan.

66 Kabupaten Belum Memiliki Rumah Sakit

Di tengah upaya memperkuat deteksi dini, pemerataan pelayanan kesehatan masih menjadi tantangan. Benjamin menyebut terdapat 66 kabupaten yang belum memiliki rumah sakit.

Pemerintah terus mendorong pembangunan dan penguatan fasilitas kesehatan agar akses pelayanan semakin merata.

“Negara hadir untuk mengatasi kesehatan rakyat,” katanya.
Benjamin juga menyebut sekitar satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting.

Menurutnya, pembangunan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika masyarakat sakit, tetapi juga pencegahan dan peningkatan kualitas kesehatan sejak usia dini.

Upaya pengendalian TB dan penguatan kesehatan respirasi tersebut menjadi bagian dari perhatian dalam KONKER PDPI XVIII yang berlangsung pada 16–19 September 2026.

Ketua Umum PDPI dr. Arief Riadi Arifin mengatakan KONKER tidak sekadar menjadi pertemuan ilmiah tahunan, tetapi juga momentum mengevaluasi langkah organisasi sekaligus menetapkan arah kebijakan 2025–2026.

“Ini bukan sekadar pertemuan ilmiah tahunan, tetapi kita menetapkan arah kebijakan 2025–2026. Forum ini menjadi titik periksa, apakah langkah kita sudah sesuai dengan tantangan yang kita hadapi,” ujar Arief.

Menurut Arief, terdapat tiga hal utama yang menjadi perhatian PDPI, yakni pengembangan ilmu, peningkatan layanan di tempat dokter berpraktik, serta respons terhadap tantangan lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan pernapasan.

Baca Juga  Operasi Keselamatan Singgalang 2024, Satlantas Padang Pariaman Gelar Lubuk Alung Safety Road Show di Simpang Tugu Ikan

“Kita harapkan tiga hal, yakni ilmu, layanan di tempat kita berpraktik, dan bagaimana menghadapi tantangan kita. Abu kebakaran hutan dan abu vulkanik ini menjadi tantangan kita,” katanya.

KONKER PDPI XVIII mengusung tema “Expanding Horizons in Every Breath” dan diikuti lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta terdiri atas dokter spesialis paru, dokter dari bidang terkait, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, peserta didik, serta peserta lainnya.

Rangkaian kegiatan meliputi workshop, simposium, presentasi ilmiah, forum organisasi, penelitian dan inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.

Skrining TB Sasar 300 Warga

Penguatan deteksi TB juga dilakukan langsung kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian.

PDPI menggelar CKG selama dua hari, yakni 17 September 2026 di Puskesmas Pauh dan 18 September 2026 di Kantor Camat Lubuk Begalung.

Sekitar 300 warga menjadi sasaran pemeriksaan kesehatan yang meliputi edukasi kesehatan dan skrining TB.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi PDPI dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Padang.

Skrining menjadi bagian penting dalam pengendalian TB, terutama untuk memperkuat penemuan kasus.

Upaya tersebut perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan dan diagnosis, pengobatan, pencegahan, serta edukasi kepada masyarakat.

Melalui KONKER PDPI XVIII, pengembangan ilmu, peningkatan layanan, pemerataan tenaga kesehatan, penelitian, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat diperkuat untuk menjawab tantangan kesehatan respirasi Indonesia, mulai dari TB hingga dampak buruk kualitas udara. (h/ita)