HIBURAN

Komune Film Padang Tembus ACFFEST KPK Region Barat lewat Ide Cerita Film “Tiang Terakhir”

×

Komune Film Padang Tembus ACFFEST KPK Region Barat lewat Ide Cerita Film “Tiang Terakhir”

Sebarkan artikel ini

Menurut Rizki, ACFFEST menjadi ruang penting bagi sineas lokal untuk mengolah berbagai persoalan sosial menjadi karya audio-visual yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki pesan edukatif.

“Melalui program ini, karya dapat menjadi ruang belajar, produksi, dan distribusi dengan perspektif baru dalam memaknai isu antikorupsi dan sumber daya alam. Film juga bisa menjadi alat penyebaran edukasi yang menjangkau lebih banyak orang dengan cara yang relevan dan mudah diterima,” katanya.

Bagi Rizki, terpilihnya Tiang Terakhir bukan hanya menjadi pencapaian dalam kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan bagi komunitas asal Padang tersebut untuk membawa cerita lokal ke ruang yang lebih luas.

“Bangga dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Komune. Kami berharap film yang akan diproduksi September mendatang mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga sumber daya alam sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik korupsi,” ujarnya

Baca Juga  Ungu Sukses Memukau Penggemar di Malaysia dengan Dua Konser Spektakuler Dalam Satu Minggu

ACFFEST merupakan ajang kreasi, eksibisi dan forum diskusi yang digagas, serta dikelola Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK sejak 2013.

Program tersebut juga berkolaborasi dengan GIZ–Corruption Prevention in the Forestry Sector (CPFS), dengan tujuan memperkuat kapasitas serta peran masyarakat, khususnya sineas lokal, dalam membangun ekosistem perfilman yang berkelanjutan di Indonesia.

Rizki menilai kehadiran ACFFEST selama lebih dari satu dekade telah memberikan kesempatan bagi sineas, untuk menyampaikan kampanye antikorupsi melalui medium film dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Melalui program ini, karya dapat menjadi ruang belajar, produksi dan distribusi dengan perspektif baru dalam memaknai isu antikorupsi dan sumber daya alam. Film juga bisa menjadi alat penyebaran edukasi yang menjangkau lebih banyak orang dengan cara yang relevan dan mudah diterima,” katanya.

Baca Juga  Minum Kopi Kekinian Racikan Rektor di Noka Express

Bagi Komune, terpilihnya Tiang Terakhir bukan hanya menjadi pencapaian dalam kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan bagi komunitas asal Padang tersebut untuk membawa cerita lokal ke ruang yang lebih luas.

Rizki mengaku bangga dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Komune. Ia berharap film yang akan diproduksi September mendatang mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga sumber daya alam, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik korupsi.

“Bangga dan bersyukur diberikan kesempatan hingga bisa mencapai titik ini. Harapan terbesar kami, semoga cerita yang akan dijadikan film pendek ini dapat memberikan wawasan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu antikorupsi serta pengelolaan sumber daya alam,” tuturnya. (*)