PADANG, HARIANHALUAN.ID – Secangkir kopi kini tak lagi identik dengan suasana kafe yang nyaman dan berpendingin udara. Di Kota Padang, tren street coffee atau kopi gerobakan justru semakin diminati masyarakat.
Dengan harga yang ramah di kantong dan pelayanan yang cepat, gerobak-gerobak kopi kini mudah ditemui di berbagai sudut kota.
Salah satu kawasan yang menjadi pusat berkumpulnya penjual kopi gerobakan adalah Jalan Khatib Sulaiman. Setiap sore hingga malam, deretan gerobak dari berbagai merek berbaris menawarkan beragam menu kopi dan minuman segar kepada para pengguna jalan.
Pantauan di lokasi menunjukkan lebih dari 10 gerobak kopi beroperasi di kawasan tersebut. Keberadaannya menjadi pilihan bagi pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran hingga pengemudi ojek online yang ingin menikmati kopi tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Salah satu penjual kopi gerobak, Aksa yang setiap hari dengan telaten meracik kopi pesanan pelanggan. Sudah lebih dari empat bulan ia menjalankan usaha kopi keliling yang kini menjadi sumber penghasilan utamanya.
“Dua varian yang paling banyak dicari adalah kopi susu creamy seharga Rp10 ribu dan kopi susu butterscotch Rp12 ribu. Hampir setiap hari dua menu itu paling cepat habis,” ujarnya. Rabu (8/7/2026).
Menurut Aksa, waktu paling sibuk biasanya terjadi pada siang hari. Cuaca Kota Padang yang cenderung panas membuat banyak orang memilih membeli minuman dingin berbahan kopi untuk melepas dahaga.
“Kalau siang memang paling ramai. Pembeli datang silih berganti karena cuaca panas, jadi banyak yang mencari minuman segar,” ujarnya.
Dalam sehari, Aksa mengaku bisa menjual sekitar 80 hingga 90 gelas kopi dengan omzet berkisar Rp600 ribu hingga Rp800 ribu. Saat akhir pekan, terutama malam Minggu, penjualannya bahkan bisa meningkat hingga dua kali lipat.
“Bersyukur, hasil jualan kopi ini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saya juga senang, karena bisa bertemu banyak orang dan menambah relasi,” ujarnya
Aksa tidak hanya berjualan di satu lokasi. Selain di kawasan Khatib Sulaiman, ia juga bergantian mangkal di sekitar Universitas Negeri Padang (UNP) dan kawasan Ulak Karang. Namun, menurutnya, Khatib Sulaiman masih menjadi lokasi paling potensial, karena arus kendaraan dan aktivitas masyarakat yang sangat tinggi.
“Dari tiga lokasi itu, Khatib Sulaiman memang paling ramai. Mobilitas orang di sini tinggi, jadi peluang pembelinya juga lebih besar,” ujarnya.
Menariknya, menjamurnya kopi gerobakan di kawasan tersebut tidak membuat Aksa khawatir kehilangan pelanggan. Ia percaya setiap pedagang memiliki rezekinya masing-masing.
“Walaupun banyak gerobak kopi di sini, tetap saja ada yang membeli. Saya percaya setiap orang sudah ada rezekinya,” ucapnya.
Aksa juga menilai kehadiran kopi gerobakan bukanlah ancaman bagi kafe maupun coffee shop. Menurutnya, keduanya memiliki pasar yang berbeda. Ada pelanggan yang mencari kenyamanan dan suasana estetik di kafe, sementara sebagian lainnya lebih memilih kepraktisan, harga terjangkau, dan pelayanan cepat yang ditawarkan kopi gerobakan.
“Tidak berpengaruh. Orang yang ingin nongkrong tetap datang ke kafe, sedangkan yang ingin cepat dan praktis memilih kopi gerobakan. Yang jelas, peminat kopi di Padang memang sangat banyak,” ujarnya. (*)












