Internasional

Melihat China yang tak lagi Bisa Dihentikan

×

Melihat China yang tak lagi Bisa Dihentikan

Sebarkan artikel ini

Laporan : Hasril Chaniago

Selama sepekan, tanggal 21 sampai 28 Juni 2025, wartawan senior Haluan, Hasril Chaniago, diundang Konsulat Jenderal Republik Rakyat China di Medan mengikuti kunjungan rombongan wartawan dari Sumatera ke Tiongkok. Dalam kesempatan kali ini mereka khusus mengunjungi Kota Terbesar Dunia Chongqing dan Ibu Kota Beijing. Berikut ini laporan yang ditulis secara berseri mulai hari ini.

DI TENGAH ketegangan geopolitik dunia yang memuncak tersebab Perang AS-Israel vs Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkunjung ke China pertengahan Mei 2026. Dari berbagai laporan media kita tahu, pertemuan bersejarah antara Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping tersebut berjalan sukses. ‎Kedua pemimpin saling memuji, dan banyak agenda dan kesepahaman berhasil disepakati. ‎Namun saat akan meninggalkan China, sesaat sebelum memasuki pesawat pada Jumat (15/5), seluruh rombongan Presiden Amerika Serikat yang menumpang Pesawat Kepresidenan Air Force One harus membuang semua barang yang didapat dan dibawa selama di China,.

‎Salah satu jurnalis AS dari The New York Times, Emily Goodin, mengungkapkan bahwa staf Gedung Putih memerintahkan semua barang dari China tidak boleh masuk ke dalam Air Force One. “Staf Amerika mengambil semua barang yang dibagikan oleh pejabat China;  kartu identitas, telepon genggam sekali pakai dari staf Gedung Putih, lencana delegasi, dan mengumpulkannya sebelum kami naik AF1 (Air Force One) lalu membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga,” demikian tulis Goodin dalam akun X.

“Tidak ada barang dari China yang diizinkan masuk ke pesawat. Kami akan segera berangkat ke Amerika,” ia melanjutkan.

Meskipun hal itu merupakan protokol kepresidenan (AS), namun dugaan kuat mengacu pada kekhawatiran aksi penyadapan untuk kepentingan China. Lebih-lebih di tengah ketegangan geopolitik akibat Perang AS-Israel vs Iran yang saat itu sedang memuncak. Dan dunia paham bagaimana posisi AS dan China di tengah konflik tersebut.

“Ketakutan” Amerika kepada Tiongkok yang terlihat berlebihan seperti itu tidak akan ada bila pertemuan kedua kepala negara terjadi 30 – 40 tahun lalu. Yaitu pada saat negara China bukanlah apa-apa dibandingkan Amerika Serikat, kecuali dalam jumlah penduduk. Sampai akhir tahun 1980-an, China belum termasuk 10 besar kekuatan ekonomi dunia dan masih bergulat mengatasi persoalan 800 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun keadaannya sudah terbalik dalam satu-dua dekade belakangan. Saat ini China sudah melampaui Amerika Serikat dalam banyak hal dan sudah berhasil membebaskan negeri mereka dari kemiskinan ekstrem.

Bagaimana China bangkit dan maju menempel ketat Amerika hanya dalam dua-tiga dekade, patut disimak kesaksian diplomat yang belakangan menjadi akademisi terkemuka di Universitas Nasional Singapura, Kishore Mahbubani. Dalam pertemuan APEC 1993 di Seattle, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat, diplomat Singapura itu menyaksikan sendiri Presiden China Jiang Zemin agak gugup dan terlihat kurang percaya diri saat menyampaikan pidato di forum ekonomi Asia Pasifik itu. Namun tiga puluh tiga tahun kemudian, sebagai akademisi dan penulis buku Has China Won? Mahbubani mengomentari kunjungan Presiden Donald Trump ke China (13-15 Mei 2026) dengan mengatakan: “China can no longer be stop (China tidak bisa lagi dihentikan)”.

Dalam sebuah podcast “The Mishal Husain Show” yang tayang 15 Mei 2026, Mahbubani ditanya: Apakah Anda akan mengatakan bahwa itu adalah keinginan yang bodoh, untuk menghentikan kebangkitan Tiongkok? Spontan akademisi Universitas Nasional Singapura ini menjawab: “Tidak, saya akan mengatakan itu bukan kebijakan yang bijaksana. Tiongkok tidak dapat lagi dihentikan. Satu-satunya cara adalah meminta pemerintah untuk berhenti meningkatkan taraf hidup rakyatnya sendiri — itulah satu-satunya cara agar Tiongkok berhenti tumbuh.” Dan tentu se ua orang tahu, itu mustahil.

Baca Juga  Dekranasda Padang Panjang Sukses Bawa UMKM ke Festival Yala di Thailand

Sampai 1980-an, kondisi sosial ekonomi rakyat China masih di bawah Indonesia. Namun kebangkitan China terjadi dalam tiga dekade terakhir. Pada 1990, GDP Tiongkok baru tercatat nomor 10 di dunia dengan Amerika di nomor wahid dengan perbandingan 5,9 triliun dolar (AS) dan 0,4 triliun dolar (China). Sepuluh tahun kemudian Tiongkok naik jadi nomor enam dunia dengan GDP nominal 1,2 triliun dolar berbanding Amerika 10,3 triliun dolar. Tahun 2010 China sudah menjadi nomor dua dunia dengan menggeser Jepang dengan GDP 6,1 triliun dolar berbanding Amerika 15 triliun dolar. Makin ke belakang, beda Tiongkok dengan Amerika makin tipis karena pertumbuhan Negeri China selalu (jauh) lebih tinggi. Bahkan pada era 1990-an dan 2000an pertumbuhan China rata-rata di atas 10 persen. Walhasil, pada 2025 perbedaan GDP Tiongkok dan Amerika kini makin tipis, 30,77 triliun dolar berbanding 20 triliun dolar. Bahkan GDP menurut daya beli (PPP – Purchasing Power Parity) sesungguhnya China sudah melampaui AS dengan angka 41 triliun dolar. Kini, dengan pertumbuhan China yang konsisten di atas lima persen dan Amerika sekitar 2,1 persen, diperkirakan antara 2035-2040, ekonomi China sudah akan melampaui Amerika.

Selain pertumbuhan, dalam sepuluh tahun belakangan, Tiongkok semakin mendominasi kemajuan dunia terutama bidang ekonomi, teknologi dan ilmu pengetahuan. Amerika memang masih juara GDP dan menguasai minyak dan sektor keuangan dunia. Namun China sudah banyak menyabet status juara. Dewasa ini Tiongkok adalah nomor satu untuk total ekspor, jumlah produksi dan penjualan mobil, pembangunan dan kepemilikan infrastruktur jalan tol dan pelabuhan, jaringan kereta cepat, produksi energi terbarukan, produksi baja dan semen, serta dalam produksi dan cadangan pangan. Dengan kemajuan ini, wajar saja bila Amerika sudah lama “ketakutan” status mereka sebagai superpower ekonomi dunia akan segera beralih ke tangan China. Juga bukan tidak mungkin pula di bidang persenjataan serta pertahanan dan keamanan.

Makin Percaya Diri dan Terbuka

Dengan berbagai capaian dan status sebagai superpower ekonomi dunia, maka terlihat Republik Rakyat China kini semakin percaya diri dan lebih terbuka terhadap dunia luar. Lima belas – dua puluh tahun lalu mereka terlihat masih sedikit gugup dan relatif memproteksi diri  untuk lebih terbuka kepada dunia luar, terutama dari negara-negara Barat.

Saya mengalami sendiri perubahan itu. Kunjungan saya kali ini adalah yang ketiga ke Negeri China. Pertama kali berkunjung adalah tahun 2014 dan nyaris gagal. Waktu itu, saya akan ke China bersama seorang narasumber buku saya yang mengajak sesi wawancara penulisan memoarnya dilakukan di Hong Kong dan China. Saya tentu saja senang, karena untuk pertama kalinya akan berkunjung ke Hongkong sekaligus ke China yang memang sejak lama jadi impian saya. Saya sudah mengunjungi Amerika Serikat dan Rusia, tapi belum ada jalan melawat ke China.

Hong Kong pasti tidak ada masalah karena sudah memberlakukan kebijakan visa on arrival (VOA) untuk pemegang paspor Indonesia. Namun, sekalipun sudah dibungkus cover business meeting (ada surat undangan dari sebuah shipyard bonafit di Fuzhou, Fujian), namun permohonan visa saya ditolak oleh Kedutaan China di Jakarta. Sementara visa kawan saya yang sebenarnya waktu itu ada bermasalah dengan Interpol, justru diloloskan.

Menghadapi kenyataan ini, saya kemudian menghubungi sahabat Dino Patti Djalal yang waktu itu menjabat Wakil Menteri Luar Negeri. Setelah menceritakan secara ringkas masalah saya, Dino kemudian bertanya: “Apakah di paspor atau KTP uda ada tercantum pekerjaan jurnalis?” tanyanya. “Iya, dua-duanya,” jawab saya.

Lalu Dino menjelaskan, “Sampai sekarang pemerintah Tiongkok sangat selektif untuk meloloskan permohonan visa bagi wartawan dan pemuka agama. Kecuali yang diundang atau dikirim sebagai delegasi resmi oleh pemerintah,” katanya.

Baca Juga  AS Serang Kapal Narkoba di Pasifik Timur, Tiga Orang Tewas

“Lalu bagaimana sebaiknya, Din?” tanya saya.

“Uda sore ini datang ke kantor saya di Pejambon. Saya tunggu. Nanti saya berikan rekomendasi tertulis. Saya juga akan sampaikan langsung kepada Duta Besar Tiongkok, dia teman saya, kebetulan malam ini kami ada acara,” kata Dino, kembali memberikan harapan kepada saya untuk dapat berkunjung ke China setelah permohonan visa sempat ditolak.

Walhasil, dengan katebelece “Highly Recommendation” dari Wakil Menteri Luar Negeri RI, permohonan visa saya disetujui, dan dapat berkunjung ke Negeri China untuk pertama kalinya pertengahan Oktober 2014. Saya dan seorang teman berkunjung ke Kota Fuzhou, Provinsi Fujian, melalui Hong Kong. Walaupun hanya kunjungan tiga hari, namun sempat menikmati bentangan jalan tol menembus gunung dan melintas jurang dari Changle International Airport menuju sebuah galangan kapal (shipyard) modern di timur Fuzhou, ibukota Provinsi Fujian. Itu saja sudah cukup untuk mengkonfirmasi dacak kagum saya atas fenomena kebangkitan China sebagaimana dikupas John Naisbitt dalam buku Megatrend Asia (1997) dan China, Inc.: How the Rise of the Next Superpower Challenges America and the World karya Ted C. Fishman (2006).

Ketakjuban saya atas lompatan China dalam dua-tiga dekade terakhir makin menjadi-jadi setelah tahun 2020 terbit buku Has China Won?: The Chinese Challenge to American Primacy karya Kishore Mahbubani, mantan diplomat dan akademisi Singapura. Namun kesan bahwa China sulit dimasuki secara independen oleh seorang jurnalis tetap belum hapus dari memori saya. Sampai akhirnya seorang sahabat lama, hopeng saya, pengusaha Haneco Widjaja Lauwensi mengajak bersama sejumlah tokoh kenalan dekat kami – antara lain mantan Mendagri dan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi, Senator Sumatera Barat dan mantan Ketua DPD RI Irman Gusman, mantan Rektor Universitas Andalas dan Wakil Menteri Pendidikan Musliar Kasim, serta mantan Ketua Muhammadiyah Sumatera Barat Buya Shofwan Karim – berkunjung ke Provinsi Yunnan bulan Juni 2025. Ternyata cerita soal jurnalis dan pemuka agama (ulama) dibatasi masuk ke Tiongkok sudah tidak ada lagi. Urusan visa lancar saja.

Selama sepekan kami menikmati Tiongkok yang memang luar biasa, menjelajah lebih 2.500 km jalan tol dengan lebih 60 terowongan dan 300-an jembatan, menikmati kota tua Lijiang dan kehidupan suku matrilineal Mosuo di Danau Lugu, serta mengunjungi Masjid Raya Shadian, salah satu yang terbesar di Tiongkok. Laporan perjalanan itu saya tulis dalam lebih 15 artikel yang kemudian sampai juga ke Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan. Hal itu saya ketahui ketika diundang sahabat Haneco bertemu dan beramah tamah dengan Konsul Jenderal Huang He dan Konsul Muda Yu Lei saat mereka berkunjung ke Padang, Oktober 2025.

Saya yakin, karena proses yang demikianlah, di samping rekomendasi sahabat Haneco,  saya kemudian di kontak Konsul Muda Yu Lei bulan April lalu dan ditanya apakah berminat berkunjung lagi ke Tiongkok? Langsung saya jawab, bahwa dalam istilah orang Minang ada yang disebut “tersuruh orang yang akan pergi”. Artinya, saya memang ada rencana untuk datang kembali ke China, untuk menelusuri jejak sejarah Islam yang sudah masuk sejak abad ke-7 Masehi ke negeri itu.

Jadi, gayung bersambut. Akhirnya kembalilah saya mengunjungi Tiongkok bersama rombongan 14 jurnalis yang dikoordinasikan oleh Konsul Jenderal Tiongkok di Medan, dengan Saudara Yu Lei dan Juswan Tjoe sebagai pemandu dan pendamping rombongan. Karena sudah punya rencana ekstra di luar agenda resmi, saya minta izin memperpanjang kunjungan selama seminggu dari jadwal 21 sampai 28 Juni. Permintaan saya dikabulkan. Alhamdulillah. (h/*)