HARIANHALUAN.ID – Terharu juga saya mendengar kisah seorang ayah itu. Ia salah memilih sekolah ketika mendaftarkan anaknya melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) online. Maksud hatinya memilih sebuah SMP negeri, tetapi yang terpilih justru sebuah SMP swasta yang memiliki nomor urut sama.
Padahal, sebelum mendaftar ia sempat menelepon saya untuk meminta saran agar anaknya memiliki peluang besar diterima di sekolah yang diimpikan.
Sejak awal saya memang menyarankan agar ia mendaftar pada hari terakhir pelaksanaan SPMB. Alhamdulillah, saran itu diikutinya. Mula-mula ia ingin mendaftarkan putri kesayangannya ke sekolah yang pernah saya pimpin.
Namun, setelah melihat nilai dan peta persaingan, saya menyarankan agar ia memilih sekolah lain yang peluang kelulusannya lebih besar. Ia menerima saran itu dengan lapang dada. Saya pun merasa lega karena ia mampu bersikap realistis.
Namun, di luar dugaan, sebuah kekeliruan kecil justru mengubah segalanya. Tanpa disadari, ia mengklik nama SMP swasta yang memiliki nomor urut sama dengan SMP negeri yang menjadi tujuan utamanya.
Memang, beberapa SMP swasta ikut bergabung dalam SPMB Online Kota Padang. Setelah seluruh proses registrasi selesai, barulah ia menyadari kesalahan tersebut. Seketika ia panik.
Tak lama kemudian teleponnya kembali masuk. Dengan suara yang bergetar, ia menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia mohon bantuan agar registrasi tersebut dibatalkan sehingga bisa memilih sekolah yang sebenarnya diinginkan.
Dengan penuh empati saya harus menjelaskan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Sistem sudah menetapkan aturan, dan cukup banyak kasus serupa yang juga tidak dapat diubah.
Butuh waktu cukup lama untuk meyakinkannya agar menerima keadaan. Akhirnya ia pasrah. Impian anaknya untuk diterima di sekolah yang sejak awal telah diperhitungkan peluang kelulusannya seketika sirna.
Padahal, berdasarkan perhitungan kami sebelum pendaftaran ditutup, peluang anaknya diterima di pilihan pertama cukup besar. Kalaupun tidak, kemungkinan besar ia masih dapat diterima di pilihan kedua. Namun, sebuah kekeliruan sederhana menghapus seluruh harapan itu.
Tidak lama setelah percakapan kami berakhir, ia mengirimkan sebuah pesan lewat WhatsApp. “Pak, anak dan istri saya menangis dan menyalahkan saya. Saya sudah minta maaf, tapi mereka tetap menangis. Tolonglah saya, Pak”.












