HALUAN MADRASAH

Menjemput Ilmu di Kaki Harau, Dua Hari Menganyam Mimpi Literasi Berbasis Budaya Lokal

×

Menjemput Ilmu di Kaki Harau, Dua Hari Menganyam Mimpi Literasi Berbasis Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini

LIMA PULUH KOTA, Harian Haluan. id – Mentari Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, perlahan menyibak tebing-tebing megah Lembah Harau. Udara yang sejuk membawa aroma tanah dan dedaunan, seakan menyambut puluhan pegiat literasi yang datang dengan satu tujuan : belajar, berbagi, dan menghidupkan kembali semangat menulis yang berakar pada budaya lokal. 

Di sudut Rumah Baca Masyarakat Kaniak Harau, sebanyak 30 peserta dari berbagai kalangan berkumpul. Ada guru, pengelola taman bacaan masyarakat, pegiat literasi, hingga penulis yang selama ini menjadikan kata-kata sebagai jembatan perubahan. Selama dua hari, Sabtu–Minggu, 1–2 Agustus 2026, mereka mengikuti Workshop Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal, sebuah ruang belajar yang mempertemukan pengalaman, gagasan dan harapan.

Di antara wajah-wajah penuh semangat itu hadir Ernawati, SS, MPd, Wakil Kepala (Waka) Bidang Humas sekaligus guru Bahasa Indonesia MAN Lima Puluh Kota. Bagi dirinya, perjalanan menuju Harau bukan sekadar menghadiri pelatihan. Perjalanan itu adalah upaya menjemput ilmu agar kelak dapat dibagikan kembali kepada murid di madrasah. 

Kegiatan yang dibuka Kepala Balai Bahasa Sumbar itu menjadi momentum penting dalam mempererat sinergi antara lembaga kebahasaan dengan para pegiat literasi daerah. Suasana akrab terasa sejak awal kegiatan. Setiap peserta hadir dengan semangat yang sama, yakni menjaga budaya melalui tulisan.

Baca Juga  Kepala MTsN 2 Solok Berikan Arahan dan Motivasi Peserta UM

Ernawati yang juga dipercaya sebagai Bendahara Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Lima Puluh Kota mengatkan bersyukur dapat menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Di antara jajaran pengurus FTBM Kabupaten Lima Puluh Kota lainnya, hanya Ketua, Sekretaris, dan dirinya yang berkesempatan mengikuti workshop ini. 

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa ikut belajar bersama para pegiat literasi. Pertemuan seperti ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan semangat untuk terus menggerakkan budaya literasi di Kabupaten Lima Puluh Kota,” katanya. 

Kepala MAN Lima Puluh Kota H. Nur Ali, SAg, M.MPd memberikan dukungan dan apresiasi luar biasa bahwa  setiap guru berhak meningkatkan kualitas dirinya sebagai wujud peningkatan mutu pendidikan madrasah dengan mengikuti pelatihan atau workshop.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika peserta mendapatkan kesempatan belajar secara langsung dari Muhammad Subhan, penulis yang telah melahirkan berbagai karya dan aktif mengembangkan dunia literasi di Indonesia. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia membimbing peserta memahami teknik menyusun esai yang baik, mulai dari menemukan ide, merangkai argumentasi, hingga menghadirkan tulisan yang mampu menyentuh pembaca.

Baca Juga  Hangatnya Kebersamaan, Guru dan Siswa MTsN 1 Pasaman Bersalaman Menyambut Libur Idul Fitri 

Tak hanya berbicara tentang teknik menulis, Muhammad Subhan juga mengajak para guru untuk menjadi penggerak literasi di sekolah masing-masing. Ia membagikan berbagai strategi sederhana namun efektif untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap budaya membaca dan menulis. 

Menurutnya, guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan penyalur inspirasi yang mampu menyalakan cahaya literasi di hati setiap anak. Dari tangan seorang guru, lahir generasi yang gemar membaca, berani berpikir kritis, dan mampu menuliskan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi Ernawati, setiap materi yang diterima menjadi bekal berharga untuk dibawa pulang ke MAN Lima Puluh Kota. Sebagai guru Bahasa Indonesia sekaligus pembina berbagai kegiatan literasi madrasah, ia berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam pembelajaran maupun pembinaan karya tulis peserta didik. Workshop ini belum usai. Pada hari kedua, Minggu, 2 Agustus 2026, para peserta dijadwalkan mengikuti materi “Kiat Menulis Cerita Anak yang Inspiratif.” Materi tersebut diharapkan semakin memperkaya wawasan peserta dalam menghasilkan karya yang dekat dengan kehidupan anak, sarat nilai budaya lokal dan mampu menjadi media pendidikan karakter. (humas).