HEADLINESUMBAR

Nirma, Sang Penggerak Ketahanan Pangan dari Desa Sipora Jaya

×

Nirma, Sang Penggerak Ketahanan Pangan dari Desa Sipora Jaya

Sebarkan artikel ini
Nirma

Laporan: Wiwin (Wartawan Mentawai)

Nirma adalah sosok perempuan desa yang menjelma menjadi penggerak perubahan, menghadirkan harapan dan keteladanan dari sudut kecil Desa Sipora Jaya, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dalam semangat peringatan Hari Kartini, namanya kian layak disandingkan dengan nilai-nilai perjuangan perempuan Indonesia—gigih, mandiri, dan berdampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Sebagai istri dari Kepala Desa Sipora Jaya, Lutfiabto, Nirma tidak menjadikan posisinya sekadar simbol pendamping. Ia justru memaknai perannya sebagai amanah sosial yang harus diisi dengan kerja nyata. Di tengah berbagai keterbatasan yang kerap dihadapi masyarakat kepulauan, ia hadir sebagai motor penggerak yang menginspirasi, khususnya bagi kaum perempuan desa, untuk bangkit, mandiri, dan produktif.

Langkah besar yang menjadi tonggak kiprah Nirma dimulai pada pertengahan tahun 2022. Saat itu, ia melihat potensi lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal serta ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pangan dari luar. Dari situlah muncul gagasan untuk membangun program ketahanan pangan berbasis masyarakat. Bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan bersama yang bertujuan menciptakan kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Dengan pendekatan yang sederhana namun terarah, Nirma mulai mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan dan kebun menjadi sumber pangan produktif. Berbagai komoditas ditanam, mulai dari sayur-sayuran, timun, jagung, singkong, hingga kacang panjang. Tanaman-tanaman ini dipilih bukan hanya karena mudah dibudidayakan, tetapi juga memiliki nilai konsumsi dan ekonomi yang tinggi bagi masyarakat setempat.

Yang membuat gerakan ini semakin kuat adalah sistem pengelolaannya. Nirma tidak memilih cara instan dengan membagi hasil secara langsung. Sebaliknya, ia menerapkan prinsip keberlanjutan. Hasil dari panen dikelola sebagai modal bergulir untuk membeli bibit baru, pupuk, hingga kebutuhan kelompok seperti seragam. Dengan sistem ini, program tidak berhenti pada satu siklus, melainkan terus tumbuh dan berkembang secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada bantuan eksternal.

Baca Juga  Dorong Pemulihan Pascabencana, Wako Pariaman Temui Menteri PU Bahas Infrastruktur Rusak

Di bawah kepemimpinannya, gerakan ini berkembang menjadi lebih terstruktur dengan dibentuknya kelompok dasawisma di setiap gang. Setiap dasawisma memiliki peran aktif dalam menjalankan kegiatan ketahanan pangan, mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen. Keterlibatan kolektif ini menciptakan rasa memiliki yang kuat di kalangan warga, sehingga program tidak hanya berjalan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Antusiasme warga pun menjadi bukti nyata keberhasilan pendekatan Nirma. Tidak ada penolakan, justru yang terjadi adalah peningkatan partisipasi dari waktu ke waktu. Kaum perempuan yang sebelumnya hanya berfokus pada pekerjaan domestik kini mulai berani mengambil peran lebih luas. Mereka tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga turut berkontribusi dalam penguatan ekonomi rumah tangga.

Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, Nirma juga mendorong penggunaan teknologi sederhana seperti mini hand traktor. Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun berada di wilayah kepulauan, masyarakat tetap bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi, selama penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan lokal.

Namun perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Tantangan tetap hadir, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu hingga keterbatasan dalam pemasaran hasil pertanian. Akses terhadap pasar digital atau platform online masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dikembangkan. Meski demikian, Nirma tidak menjadikan kendala sebagai alasan untuk berhenti. Ia justru melihatnya sebagai peluang untuk terus belajar dan berbenah.

Baca Juga  Kajati Sumbar Jadi Narsum pada Kegiatan Sosialisasi Anti Perudungan

Di balik semua upaya yang dilakukan, ada semangat besar yang terus ia gaungkan—bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan desa. Nirma percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, dari pekarangan rumah, dari kebersamaan, dan dari kemauan untuk bergerak.

Pesan yang selalu ia sampaikan sederhana namun penuh makna: perempuan harus berani melangkah, berkarya, dan saling menguatkan. Baginya, kemandirian bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang keberanian mengambil peran dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Dalam perjalanannya, Nirma juga menyadari pentingnya dukungan dan sinergi dengan berbagai pihak. Ia berharap adanya bimbingan dan arahan dari TP PKK di tingkat kecamatan dan kabupaten agar kegiatan PKK di Desa Sipora Jaya semakin maju, terarah, dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang kuat, ia yakin gerakan yang telah dirintis dapat berkembang lebih luas dan memberikan manfaat yang lebih besar.

Nirma bukan sekadar penggerak ketahanan pangan. Ia adalah simbol keteguhan, keberanian, dan harapan. Sosok perempuan desa yang membuktikan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar, tetapi dari niat tulus, kerja nyata, dan semangat kebersamaan.

Dalam semangat Hari Kartini, Nirma adalah representasi nyata perempuan masa kini—yang tidak hanya bermimpi, tetapi juga bertindak. Yang tidak hanya mengikuti arus, tetapi mampu menciptakan gelombang perubahan. Dari Desa Sipora Jaya, ia menyalakan inspirasi yang perlahan menyebar, membawa pesan bahwa perempuan, di mana pun berada, memiliki kekuatan untuk mengubah dunia di sekitarnya. (*)