PADANG, HARIANHALUAN.ID–Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Sumatera Barat, Dr. dr. Masrul Basyar, Sp.P(K), FISR, FAPSR, mengatakan Sumbar berada di posisi keempat secara nasional dalam jumlah kasus TBC.
Sementara itu, Indonesia memjadi negara dengan beban TBC terbesar kedua di dunia setelah India dengan kasus kematian lebih dari 100 ribu per tahun.
“Untuk eliminasi ini perlu kolaborasi, advokasi, kerja sama intersektoral dan perhimpunan karena tidak bisa sendiri,” ujar Masrul saat Konferensi Kerja Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (KONKER PDPI) XVIII Tahun 2026 di ZHM Premiere Padang, Jumat (18/9).
Ia mengatakan pelacakan kontak menjadi langkah penting untuk memutus mata rantai penularan TBC. Ketika satu orang dinyatakan positif TBC,maka pemeriksaan tidak bolwh berhenti pada pasien saja.
“Orang-orang yang memiliki kontak erat, terutama anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah, juga perlu diperiksa. Pelacakan kontak bahkan juga dapat diperluas ke lingkungan tempat pasien itu bekerja.
Hal ini karena seseorang dapat menghabiskan waktu cukup lama bersama orang lain di tempat kerja sehingga riwayat kontak perlu diperhatikan dalam upaya menemukan kasus.
Persoalannya dikatakannya, TBC tidak selalu langsung menunjukkan gejala. Seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadari kondisinya. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap kontak erat menjadi penting untuk menemukan kasus sedini mungkin.
“Dengan demikian orang yang ke depannya berpotensi terpapar TB tetapi tidak menunjukkan gejala dapat segera ditindaklanjuti dengan pengobatan,’ terangnya lagi.
Ia menyebut, siapa pun dapat terkena TBC. Bakteri TBC juga dapat berada dalam kondisi tidak aktif atau dorman di dalam tubuh dan kemudian menjadi aktif ketika kondisi tubuh menurun.
Ia mengatakan Obat TBC tersedia secara gratis di puskesmas sehingga masyarakat yang terdiagnosis tidak perlu menunda pengobatan karena alasan biaya.
“TBC itu penyakit yang bisa diobati dan bisa sembuh,” katanya.Dijelaskannya, TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan terutama terjadi melalui udara ketika penderita TBC yang menular batuk atau bersin.
Oleh karena itu, pasien TBC yang terbukti menular dianjurkan menggunakan masker untuk mencegah penularan kepada orang di sekitarnya.
Dalam upaya mempercepat penemuan kasus, perkembangan teknologi juga dinilai memberikan peluang baru.Salah satunya penggunaan perangkat rontgen portable yang dapat dibawa mendekati masyarakat sehingga pemeriksaan tidak selalu harus dilakukan di fasilitas kesehatan dengan antrean panjang.
“Sekarang teknologi makin canggih. Ada rontgen portable, bisa dibawa. Program pemerintah bagaimana mempercepat semuanya dilakukan,” katanya.
Penanganan TBC, lanjutnya, juga tidak cukup hanya dengan menemukan dan mengobati pasien.
Faktor lain seperti kondisi rumah dan kecukupan gizi perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kondisi kesehatan masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, kader dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan pasien ditemukan, mendapatkan pengobatan, menjalani pengobatan hingga tuntas, serta tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
PDPI berharap dukungan pemerintah terhadap upaya tersebut terus diperkuat sehingga percepatan penemuan dan pengobatan kasus TBC di Sumatera Barat dapat berjalan lebih optimal dan target eliminasi TBC 2030 dapat dicapai.(h/ita)









