TANAH DATAR, HARIANHALUAN.ID – Sejumlah tradisi lisan di Nagari Pitalah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, menghadapi tantangan regenerasi. Tradisi yang selama ini hidup dalam berbagai kegiatan adat mulai jarang dikenal generasi muda karena pelaksanaannya tidak berlangsung setiap waktu.
Kondisi tersebut mendorong Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang bersama Sanggar Seni Saganggam Arek Nagari Pitalah melakukan revitalisasi tradisi lisan melalui pendekatan audio-visual. Salah satu upayanya diwujudkan dalam penggarapan film dokumenter budaya sebagai media untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan tradisi kepada generasi muda.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program ini dilaksanakan oleh tim dosen ISI Padangpanjang dengan Vicia Dwi Prakarti DB, M.Sn., sebagai ketua pelaksana.
Nagari Pitalah dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan adat dan budaya Minangkabau. Salah satu warisan yang perlu dijaga adalah tradisi lisan yang digunakan masyarakat dalam berbagai prosesi adat, termasuk batagak pangulu.
Persoalannya, tradisi lisan tersebut tidak selalu dapat dipelajari secara langsung oleh generasi muda. Prosesi adat seperti batagak pangulu, misalnya, dilaksanakan pada kondisi tertentu sehingga kesempatan generasi muda untuk menyaksikan dan mempelajari tradisi tersebut menjadi terbatas.
Di sisi lain, Sanggar Seni Saganggam Arek sebagai sanggar seni milik nagari telah aktif dalam kegiatan seni tradisi lokal. Namun, keterbatasan literasi dan kemampuan produksi media audio-visual membuat berbagai tradisi yang dimiliki Nagari Pitalah belum terdokumentasikan dan dipromosikan secara optimal.
Kondisi itu juga sempat berdampak pada terhentinya proses produksi film dokumenter budaya di nagari tersebut. Padahal, di tengah perkembangan media digital, dokumentasi audio-visual dapat menjadi salah satu sarana penting untuk mendekatkan tradisi lokal kepada generasi muda.
Melihat persoalan tersebut, Vicia menilai revitalisasi Sanggar Seni Saganggam Arek perlu diarahkan tidak hanya pada penguatan aktivitas kesenian, tetapi juga pada peningkatan kemampuan pengelolaan media audio-visual. Tradisi lisan kemudian dikemas dalam bentuk film dokumenter agar memiliki media pewarisan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
“Revitalisasi ini diharapkan dapat membuat tradisi lisan tidak hanya tersimpan dalam ingatan para pelaku adat, tetapi juga terdokumentasi dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujar Vicia.
Program revitalisasi diawali dengan sosialisasi bersama pengurus sanggar dan tokoh adat setempat. Selanjutnya, peserta mendapatkan pelatihan manajemen produksi film yang mencakup tahap pra-produksi, produksi hingga pascaproduksi.












