Oleh : Ardasani Wartawan Haluan
Pada 13 September 2026 ini, Universitas Andalas (UNAND) akan merayakan hari ulang tahunnya. Tema yang diangkatkan pada Dies Natalis ke-70 dan Lustrum XIV ini adalah Tumbuh Berakar Menjulang Berdampak. Ibarat pohon, harus memiliki akar yang kuat agar bisa tumbuh tinggi dan menjulang sehingga bisa memberikan dampak bagi sekitarnya.
Untuk memiliki akar yang kuat, tentunya harus memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang kuat di kampus. UNAND sendiri sudah memiliki 230 guru besar per Juni 2026. Jumlah guru besar tersebut setiap tahunnya selalu bertambah. Terakhir kali UNAND mengukuhkan sebanyak tujuh guru besar pada 27 Juni 2026 lalu. Dengan jumlah guru besar sebanyak itu, UNAND sudah memiliki bekal untuk terus memiliki akar yang kuat.
Selain memiliki guru besar, Dosen-dosen UNAND juga menunjukkan kualitasnya dengan berbagai karya ilmiah. Berdasarkan data yang disadur dari LPPM UNAND, pada metrik Scholarly Output (QS), UNAND bergerak dari 5.566 menjadi 6.321 publikasi. Kenaikannya mencapai 755 publikasi, atau 13,6 persen. Untuk ukuran indikator institusional, kenaikan dua digit seperti ini cukup berarti karena menandakan bahwa kapasitas menghasilkan keluaran ilmiah yang terhitung dalam kerangka QS sedang bertumbuh.
Data tersebut tidak hanya satu jenis keluaran saja, tetapi mencakup artikel, ulasan, makalah konferensi, buku, dan bab buku. Karena itu, pertumbuhan dari 5.566 ke 6.321 menggambarkan dinamika ekosistem publikasi ilmiah sangatlah baik
Pada metrik International Research Network (IRN) Scholarly Output (QS), UNAND bergerak dari 454 menjadi 536 publikasi. Kenaikannya sebesar 82 publikasi, atau 18,1 persen. Laju ini lebih tinggi daripada pertumbuhan Scholarly Output (QS) secara umum. Itu berarti perluasan kapasitas publikasi UNAND juga disertai penguatan keluaran ilmiah yang terhubung dengan jejaring riset internasional.
Jejaring internasional penting karena ia memperluas sirkulasi gagasan. Universitas yang terhubung dengan ekosistem akademik lintas wilayah biasanya memiliki peluang lebih besar untuk membuat risetnya cepat terbaca, lebih mudah masuk ke percakapan internasional, dan lebih relevan terhadap isu yang berkembang di tingkat global. Karena itu, kenaikan IRN Index dari 16,58 menjadi 20,36 layak dibaca sebagai tanda bahwa kinerja penelitian UNAND tidak bergerak secara tertutup, melainkan semakin terhubung dengan infrastruktur intelektual yang lebih luas.
Penguatan jejaring ini berhubungan erat dengan indikator yang justru mencatat laju kenaikan tertinggi, yakni Publications considered for Sustainability. Pada metrik ini, UNAND bergerak dari 1.123 menjadi 1.525 publikasi. Kenaikannya mencapai 402 publikasi, atau 35,8 persen. Dibandingkan dengan pertumbuhan output 13,6 persen, sitasi 17,1 persen, dan IRN Index 22,8 persen, laju pertumbuhan publikasi yang dipertimbangkan untuk keberlanjutan tampak paling menonjol. Ini memberi sinyal kuat bahwa penguatan penelitian UNAND makin terhubung dengan tema-tema yang dipahami penting secara global. Dua variabel ini tentunya sudah cukup untuk membuat akar UNAND untuk menjadi kuat.
Dengan akar yang kuat tadi tentunya akan menghasilkan pohon yang menjulang tinggi sehingga berdampak bagi sekitarnya. Output yang dihasilkan oleh UNAND tidak perlu diragukan lagi. Alumni UNAND banyak menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat. Sebut saja saat ini Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi dan Saldi Isra sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi Indonesia. Tentunya alumni UNAND tidak hanya bergerak di bidang pemerintahan saja.






