OPINI

Peternakan dan SDGs: Strategi Membangun Swasembada Protein dari Desa

×

Peternakan dan SDGs: Strategi Membangun Swasembada Protein dari Desa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Ir. Rusfidra, S.Pt, IPM ASEAN Eng.
(Dosen Fak. Peternakan, Wadir I Sekolah Pascasarjana Unand)

“Negeri yang kaya ternak, tidak pernah miskin; negeri yang miskin ternak,
tidak pernah kaya” (Campbell dan Lasley, 1985).

Selama ini peternakan sering dipersepsikan hanya sebagai penghasil daging, susu, telur, kulit, wol dan biogas. Agaknya, pandangan tersebut terlalu sempit. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB melalui dua publikasi penting, yaitu Livestock Sector Development for Poverty Reduction (FAO, 2012) dan World Livestock: Transforming the Livestock Sector through the Sustainable Development Goals (FAO, 2018), menyatakan bahwa peternakan merupakan sektor strategis dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain penghasil pangan hewani, sektor peternakan berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan gizi masyarakat, penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan perempuan, mitigasi perubahan iklim, hingga pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs).

SDGs merupakan agenda pembangunan global yang dideklarasikan oleh 193 negara anggota PBB pada tanggal 25 September 2015 di New York. SDGs merupakan kelanjutan sekaligus penyempurnaan dari Millennium Development Goals (MDGs) (periode 20002015). Berbeda dengan MDGs yang lebih fokus pada pembangunan manusia, SDGs mengintegrasikan tiga dimensi utama pembangunan, yaitu pembangunan sosial, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan pelestarian lingkungan. Dalam kerangka SDGs, manusia ditempatkan sebagai pusat pembangunan (people-centered development), baik sebagai pelaku maupun penerima manfaat pembangunan. Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui peningkatan kesejahteraan manusia (Alisjahbana dan Murniningtyas, 2018).

Baca Juga  Maulid Nabi dan Jalan Pulang Ekonomi Syariah

Agenda SDGs diwujudkan dalam 17 Tujuan yang saling berkaitan dan didukung oleh 169 Target serta diukur melalui 241 indikator global. Seluruh tujuan tersebut bersifat terintegrasi saling terkait, dan tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, implementasi SDGs memerlukan pendekatan lintas sektor yang mempertimbangkan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, dengan tetap memperhatikan keterbatasan sumber daya alam sebagai penopang keberlanjutan kehidupan.

Sebagai contoh, sektor peternakan memiliki memiliki kontribusi penting dalam pengentasan kemiskinan (SDGs 1), penghapusan kelaparan (SDGs 2), peningkatan kesehatan masyarakat (SDGs 3), pendidikan berkualitas (SDGs 4), kesetaraan gender (SDGs 5), penyediaan energi bersih melalui pemanfaatan biogas dari limbah kotoran ternak (SDGs 7). Peternakan juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja (SDGs 8), pembangunan industri pangan (SDGs 9), pengurangan ketimpangan sosial (SDGs 10), pembangunan kota berkelanjutan (SDGs 11), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDGs 12), perubahan iklim (SDGs 13), konservasi keanekaragaman hayati (SDGs 15), serta penguatan kemitraan (SDGs 17). Dengan kata lain, hampir semua tujuan SDGs terdapat kontribusi sektor peternakan.

Baca Juga  Catatan Hati Gamawan Fauzi: "Kita Harus Tahu Kapan Memulai, Kapan Mengakhiri”