OPINI

81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

×

81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

Sebarkan artikel ini

Namun pilihannya tidak boleh dipersempit menjadi antara membangun atau menjaga lingkungan. Kita harus melakukan keduanya.

Kajian geologi, hidrologi, risiko bencana, keselamatan konstruksi dan dampak lingkungan harus benar-benar menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar pemenuhan administrasi.

Infrastruktur yang baik bukan hanya infrastruktur yang selesai tepat waktu. Infrastruktur yang baik adalah yang aman, berfungsi, tahan terhadap risiko, memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak mewariskan persoalan lingkungan baru.

Disinilah salah satu tanggung jawab etik profesi keinsinyuran: etika setiap rancangan, lestari dalam langkah. Namun pembangunan fisik saja tentu tidak cukup.

Sumatera Barat dibesarkan oleh kekuatan manusianya. Sejarah Minangkabau menunjukkan bagaimana pendidikan, tradisi berdiskusi, keberanian merantau dan kemampuan beradaptasi telah melahirkan banyak tokoh yang memberikan kontribusi bagi Indonesia. Warisan tersebut harus terus diterjemahkan sesuai tantangan zaman.

Baca Juga  Sumbar KLB Campak, Imunisasi Anak Harus Ditingkatkan

Generasi muda Sumatera Barat perlu semakin dekat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, keinsinyuran, kewirausahaan dan kompetensi profesional tanpa kehilangan akar adat dan budayanya.

Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap mengenal kampungnya. Generasi yang menguasai teknologi, tetapi memiliki etika. Generasi yang berani membangun, tetapi memahami bahwa alam juga mempunyai batas.

Pada titik inilah saya melihat rantau memiliki tanggung jawab moral terhadap kampung halaman.

Merantau dalam filosofi Minangkabau bukanlah meninggalkan kampung. Merantau adalah memperluas pengalaman, membangun kemampuan dan memperkuat jaringan. Pada waktunya, pengetahuan, pengalaman dan jaringan tersebut semestinya ikut memberikan manfaat kepada kampung halaman.

Baca Juga  Pakar Gempa Fakhrur Razi Sebut Ancaman Gempa di Sumbar Bukan Isu Baru

Potensi para perantau, baik pengusaha, profesional, akademisi, insinyur maupun berbagai profesi lainnya merupakan kekuatan besar yang dapat dipertemukan dengan kebutuhan pembangunan Sumatera Barat.

Ranah dan Rantau tidak Semestinya Berjalan Sendiri-Sendiri

Kita membutuhkan lebih banyak kolaborasi konkret: investasi yang produktif, transfer pengetahuan, penguatan UMKM, pembangunan SDM, dukungan pendidikan, inovasi teknologi serta keterlibatan profesional dalam menjawab persoalan pembangunan dan lingkungan di kampung halaman.