OPINI

81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

×

81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

Sebarkan artikel ini

Karena itu, mitigasi bencana harus hadir sejak tahap perencanaan: dalam desain jalan dan jembatan, permukiman, drainase, pengelolaan sungai, pembangunan kawasan hingga kebijakan tata ruang. Pembangunan dan lingkungan tidak seharusnya dipertentangkan. Justru ilmu pengetahuan dan keinsinyuran harus mampu menemukan titik temu antara kebutuhan manusia dengan kemampuan alam menopangnya.

Konektivitas menjadi pekerjaan penting lainnya. Hubungan Sumatera Barat dengan provinsi tetangga, terutama Riau, mempunyai arti strategis. Pekanbaru dan berbagai daerah di Riau, sejak lama menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Minangkabau untuk merantau, berdagang, bekerja, menempuh pendidikan dan membangun usaha.

Karena itu, bagi kami yang berada di rantau, pembangunan konektivitas Riau–Sumbar bukan hanya persoalan infrastruktur. Ia adalah jembatan antara ranah dan rantau.

Baca Juga  Memperkuat Basis Hukum MBG

Dalam konteks tersebut, penyelesaian konektivitas jalan tol Riau–Sumbar harus menjadi perhatian bersama. Tol Riau–Sumbar harus dilanjutkan dan dituntaskan.

Kita tentu memahami pembangunan infrastruktur sebesar ini menghadapi persoalan teknis, pembiayaan, pembebasan lahan dan tantangan geografis yang tidak sederhana. Namun tantangan tersebut semestinya mendorong kita mencari penyelesaian, bukan kehilangan arah terhadap tujuan besarnya.

Ketika akses Riau–Sumbar semakin baik, yang bergerak bukan hanya kendaraan. Produk UMKM bergerak, hasil pertanian bergerak, pariwisata berkembang, distribusi barang semakin terbuka, investasi mendapatkan ruang baru dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat juga semakin luas.

Konektivitas yang semakin baik juga akan memperkuat hubungan ekonomi Sumatera Barat dengan Riau dan kawasan Sumatera bagian tengah.

Baca Juga  Agen BRILink Menembus Jorong, Membuka Akses Keuangan Tanpa Batas bagi Warga Pedesaan

Namun sebagai praktisi keinsinyuran, saya juga ingin menegaskan bahwa tuntas tidak boleh berarti mengabaikan keselamatan dan lingkungan.

Karakter geografis Sumatera Barat membutuhkan standar perencanaan dan konstruksi yang tinggi. Kajian geologi, geoteknik, hidrologi, stabilitas lereng, risiko bencana, keselamatan konstruksi dan dampak lingkungan harus benar-benar menjadi dasar dalam pembangunan.

Kita tidak hanya membutuhkan tol yang selesai. Kita membutuhkan infrastruktur yang aman, andal, berkelanjutan dan mampu menghadapi karakter alam Sumatera Barat.

Sumatera Barat tentu tetap membutuhkan pembangunan. Kita membutuhkan jalan yang baik, jembatan yang aman, konektivitas antardaerah, transportasi yang efisien, pengelolaan sumber daya air yang baik, serta berbagai infrastruktur yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.