Hubungan itu juga tidak boleh hanya muncul ketika kampung sedang menghadapi musibah. Ranah dan rantau harus terkoneksi dalam sebuah agenda pembangunan jangka panjang.
Memasuki usia ke-81, Sumatera Barat perlu terus bergerak maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Modernisasi tidak harus menghilangkan adat. Infrastruktur tidak harus mengorbankan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keselamatan. Kemajuan teknologi tidak boleh meninggalkan manusia. Dan merantau tidak berarti melupakan kampung halaman.
Filosofi “Alam takambang jadi guru” terasa semakin relevan dalam menghadapi tantangan hari ini.
Kalau alam adalah guru, maka perubahan yang terjadi pada alam harus mampu kita baca. Banjir mengajarkan pentingnya menjaga aliran air dan daerah resapan. Longsor mengingatkan tentang keseimbangan lereng dan tutupan lahan. Galodo mengajarkan bahwa ruang hidup manusia harus direncanakan dengan memahami karakter alam.
Jangan menunggu alam memberikan pelajaran dengan harga yang terlalu mahal.
Pada akhirnya, pembangunan terbaik bukanlah sekadar tentang apa yang mampu kita bangun hari ini. Ukuran keberhasilan pembangunan adalah apa yang mampu kita wariskan dengan aman, bermanfaat dan tetap lestari kepada generasi berikutnya.
Di usia ke-81 ini, Sumatera Barat mempunyai pekerjaan besar: menjaga alamnya, memperkuat manusianya, menuntaskan konektivitasnya, membuka ruang ekonomi baru, dan menyatukan kekuatan ranah dengan rantau.
Selamat Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat
Mari membangun kampung dengan ilmu, menjaga alam dengan tanggung jawab, menuntaskan konektivitas Riau–Sumbar, mempertemukan ranah dan rantau melalui kolaborasi, serta terus merawat tuah, membangun ranah, dan menjaga marwah Minangkabau. (*)












