PADANG, HARIANHALUAN.ID- Mahasiswa Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) melaksanakan Program Mahasiswa Berdampak di kawasan wisata Pemandian Lubuk Lukum, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, baru-baru ini.
Kegiatan ini difokuskan pada pendampingan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lubuk Lukum Air Dingin sebagai upaya mendukung pemulihan tata kelola kawasan wisata pascabencana banjir. Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta melibatkan 50 mahasiswa lintas program studi.
Ketua tim pengusul dosen Wibi Wijaya, menyampaikan bahwa pendampingan kepada Pokdarwis menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa sekaligus bentuk kontribusi nyata dalam membantu masyarakat mengelola kembali kawasan wisata yang terdampak bencana. Menurutnya, perubahan di kawasan wisata tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan proses, kolaborasi, dan keterlibatan aktif masyarakat setempat.
Dikatakan Wibi, banjir yang melanda kawasan Lubuk Lukum sebelumnya telah berdampak pada menurunnya daya tarik wisata, rusaknya sebagian fasilitas kawasan, serta terganggunya pengelolaan destinasi oleh masyarakat. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan kelembagaan Pokdarwis agar mampu kembali menjalankan fungsi pengelolaan wisata secara lebih terarah, terstruktur, dan berkelanjutan
“Maka dari itu, selama 20 hari pelaksanaan program, mahasiswa melakukan pendampingan intensif kepada Pokdarwis melalui dua fokus utama, yaitu penguatan kelembagaan dan pengelolaan wisata. Pada aspek kelembagaan, mahasiswa membantu menyusun pembagian tugas atau job description anggota Pokdarwis agar setiap pengurus memiliki peran yang lebih jelas dalam pengelolaan kawasan. Pendampingan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi internal dan meningkatkan efektivitas kerja organisasi dalam mengelola kawasan wisata,” katanya.
Dijelaskan Wibi, pada aspek pengelolaan wisata, mahasiswa turut mendampingi Pokdarwis dalam pembuatan website wisata dan penyusunan peta kawasan Pemandian Lubuk Lukum yang terintegrasi dengan berbagai titik penting, seperti lokasi ikan larangan, area lapak masyarakat, dan titik-titik utama kawasan wisata. Peta wisata tersebut juga dipasang di gerbang masuk kawasan sebagai media informasi bagi pengunjung. Langkah ini menjadi bagian dari upaya digitalisasi promosi dan penguatan identitas kawasan wisata berbasis masyarakat.
Selain penguatan tata kelola, program ini juga terhubung dengan upaya pelestarian lingkungan kawasan wisata melalui penanaman bibit pohon dan penebaran bibit ikan larangan di aliran Sungai Lubuk Lukum. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mendukung keberlanjutan kawasan wisata sekaligus memperkuat kembali daya tarik khas Lubuk Lukum sebagai wisata alam berbasis sungai dan kearifan lokal.
“Kami berharap pendampingan ini dapat memperkuat kapasitas Pokdarwis dalam mengelola kawasan wisata secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan kelembagaan yang semakin tertata, dukungan media promosi digital, serta penguatan informasi kawasan wisata, Pemandian Lubuk Lukum diharapkan semakin dikenal luas dan mampu kembali menarik kunjungan wisatawan,” tukas Wibi. (h/len)












