PADANG, HARIANHALUAN.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Sumatera Barat (Sumbar) mengalami inflasi secara tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,91 persen pada Mei 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 5,31 persen.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanuddin menyampaikan, kenaikan harga berbagai komoditas pokok memicu lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,69 pada Mei 2025 menjadi 112,94 pada Mei 2026.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 5,31 persen dengan IHK sebesar 114,84 dan inflasi terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,52 persen dengan IHK sebesar 112,43,” katanya, Selasa (2/6).
Inflasi y-on-y Sumbar pada Mei 2026 menempatkan daerah ini pada 10 besar provinsi dengan inflasi tertinggi secara nasional. Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin mengatakan, nilai inflasi di Sumbar relatif tinggi secara wilayah di pulau Sumatera, namun, masih terkendali.
“Inflasi ini menjadi perhatian karena Sumbar tertinggi ke-10 dari provinsi yang ada di pulau Sumatera. Namun, secara nasional memang inflasi Sumbar masuk ke rata-rata tinggi karena lebih dari 3,5 persen, perlu atensi khusus terhadap stabilisasi inflasi secara tahunan,” katanya.
Ia menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,24 persen; kelompok pakaian dan alas kaki dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga masing-masing sebesar 1,15 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 4,11 persen; dan kelompok kesehatan sebesar 0,75 persen.
Selanjutnya, kelompok transportasi sebesar 2,79 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,49 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,69 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,18 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,63 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,48 persen.
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Mei 2026 antara lain: emas perhiasan, beras, cabai merah, Sigaret Kretek Mesin (SKM), minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah, angkutan udara, ikan cakalang/ikan sisik, nasi dengan lauk, ikan nila, sewa rumah, mobil, kontrak rumah, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, kangkung, Sigaret Kretek Tangan (SKT), pepaya, ayam goreng, dan jengkol.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y pada Mei 2026 antara lain: kentang, bawang putih, kelapa, santan segar, sabun cair/cuci piring, sabun detergen bubuk, pir, popok bayi sekali pakai/diapers, susu bubuk, makanan hewan peliharaan, udang basah, dan sabun mandi cair.
Sementara itu, menurutnya, beberapa komoditas tercatat juga memberi andil deflasi atau penurunan tekanan harga. Komoditas itu antara lain, kentang, bawang putih, kelapa, santan segar, sabun cair pencuci piring, susu bubuk, serta udang basah. Sementara, secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), Provinsi Sumbar mengalami inflasi sebesar 0,90 persen pada Mei 2026 dan inflasi year-to-date (y-to-d) hingga Mei 2026 tercatat 0,47 persen. (*)












