HEADLINE

Kota Padang di Ambang Krisis Sampah : 400 Ton Sampah Masuk TPA Air Dingin Setiap Hari

×

Kota Padang di Ambang Krisis Sampah : 400 Ton Sampah Masuk TPA Air Dingin Setiap Hari

Sebarkan artikel ini
Suasana diskusi antara METI Sumatera Barat dengan DLH Kota Padang pada 10 Juni 2026 lalu. Dalam diskusi tersebut dikemukakan soal potensi krisis sampah di Kota padang, yang setiap harinya memproduksi sekitar 400 ton sampah. FAUZI

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Sekitar 400 ton sampah masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Air Dingin setiap hari. Angka itu dinilai menjadi alarm bahwa Kota Padang tidak lagi bisa mengandalkan pola pengelolaan sampah konvensional berupa kumpul–angkut–buang.

Tanpa perubahan paradigma menuju ekonomi sirkular, kapasitas TPA diperkirakan akan terus tertekan, sementara biaya pengelolaan sampah semakin membengkak dari tahun ke tahun.

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi antara Masyarakat Ekonomi Terkelola Indonesia (METI) Sumatera Barat (Sumbar) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang pada 10 Juni 2026 lalu.

Pertemuan itu dihadiri Ketua Umum METI Sumbar, Dr. Ir. Firman Hidayat; Sekretaris Umum, M. Fauzi;  Kabid Pengelolaan Sampah, Durain P. Siregar; Kabid Ekonomi Sirkular, Alvin; inovator pembangkit listrik tenaga gelombang, Zamrisyaf SY, serta Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Mista Masta.

Dalam forum tersebut, berbagai isu dan persoalan mendasar pengelolaan sampah di ibu kota provinsi dibahas. Peta jalan transformasi menuju sistem ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan pun turut dirumuskan.

Kabid Pengelolaan Sampah METI Sumbar, Durain P Siregar mengatakan, paradigma pengelolaan sampah di Kota Padang hingga kini masih bertumpu pada pendekatan hilir. Sampah dikumpulkan dari rumah tangga, diangkut menggunakan armada, kemudian dibuang ke TPA.

Menurutnya, pola tersebut tidak hanya membebani kapasitas TPA, tetapi juga membuat biaya operasional pengangkutan terus meningkat tanpa mampu menekan timbulan sampah dari sumbernya.

“Selama ukuran keberhasilan masih dihitung dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut ke TPA, persoalan ini tidak akan pernah selesai. Yang seharusnya menjadi indikator adalah seberapa besar sampah yang berhasil dicegah agar tidak masuk ke TPA,” ujarnya.

Baca Juga  Bahas Perkembangan Terbaru Ilmu Penyakit Dalam, 1.000 Dokter Ikuti PIN PAPDI XIX

Durain menjelaskan, sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan maggot,sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan kaca dapat menjadi bahan baku industri daur ulang.

Oleh karena itu, METI Sumbar mendorong perubahan paradigma dari waste collection menjadi resource management, yakni menempatkan sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi, bukan semata-mata limbah yang harus dibuang. Konsep ini menjadi fondasi penerapan ekonomi sirkular, di mana material dimanfaatkan kembali melalui pengurangan, penggunaan ulang, daur ulang, hingga pemanfaatan kembali.

Diskusi juga menyoroti bahwa tanpa pengurangan sampah dari hulu, tekanan terhadap TPA akan terus meningkat. Bertambahnya volume sampah bukan hanya mempercepat penuhnya kapasitas TPA, tetapi juga meningkatkan kebutuhan armada, biaya operasional, konsumsi bahan bakar, hingga emisi gas rumah kaca.

Oleh sebab itu, transformasi pengelolaan sampah dinilai harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah, penguatan bank sampah, pembangunan fasilitas pengolahan skala kawasan, serta pengembangan industri daur ulang yang mampu menyerap hasil pemilahan masyarakat.

Selain aspek teknis, perubahan perilaku masyarakat juga menjadi faktor penentu. Edukasi publik perlu diarahkan agar pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama sejak sampah pertama kali dihasilkan.

Sebagai langkah konkret, METI Sumbar menawarkan Strategic Waste Blueprint, sebuah dokumen peta jalan transformasi pengelolaan sampah Kota Padang yang mencakup penguatan kebijakan, pengembangan infrastruktur pengolahan, pembentukan ekosistem ekonomi sirkular, hingga peningkatan partisipasi masyarakat.

Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Mista Masta menyambut baik berbagai gagasan yang disampaikan METI Sumbar. Menurutnya, persoalan sampah sudah tidak mungkin diselesaikan hanya mengandalkan pemerintah daerah.

Baca Juga  Sudahlah Ade Armando

“Masukan dari METI memberikan perspektif baru bagi kami. Pengelolaan sampah membutuhkan inovasi, kolaborasi, dan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, kami menyambut baik ajakan untuk bekerja bersama,” katanya.

Fadelan mengatakan, DLH Kota Padang dan METI Sumbar dalam waktu dekat akan menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai pengembangan pengelolaan sampah terpadu sekaligus pemanfaatan energi baru dan terbarukan berbasis sampah.

Kerja sama tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya berbagai program inovatif yang tidak hanya mampu mengurangi timbulan sampah menuju TPA, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi sampah sebagai bahan baku industri maupun sumber energi.

Sementara itu, Sekretaris Umum METI Sumbar, M. Fauzi menilai persoalan sampah telah berkembang menjadi isu strategis yang menyangkut ekonomi, lingkungan, dan ketahanan perkotaan.

“Padang sebenarnya tidak sedang kekurangan sampah, tetapi kekurangan sistem yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya. Selama paradigma kita masih berorientasi membuang, maka TPA akan selalu menjadi titik akhir persoalan. Yang harus dibangun adalah sistem agar sampah berhenti menjadi beban dan mulai menjadi aset ekonomi,” ujarnya.

Jurnalis Harian Haluan itu menambahkan, kolaborasi METI Sumbar dan DLH Kota Padang diharapkan menjadi momentum lahirnya transformasi pengelolaan sampah di Kota Padang.

“Target kita bukan sekadar memperpanjang umur TPA, tetapi membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja hijau, mengurangi emisi karbon, dan menjadikan Padang sebagai rujukan pengelolaan sampah berkelanjutan di Sumatera,” ujarnya. (h/fzi)