AGAM, HARIANHALUAN.ID — Keindahan Puncak Lawang tidak cukup hanya mengandalkan panorama Danau Maninjau untuk menjadi destinasi wisata yang tangguh.
Di balik keindahan alam tersebut, kesiapan sumber daya manusia menjadi penentu. Masyarakat dan pelaku wisata tidak hanya dituntut ramah menyambut wisatawan, tetapi juga harus mampu menghadapi risiko, memberikan pelayanan yang aman, mengelola usaha, membangun citra destinasi hingga memanfaatkan teknologi.
Hal inilah yang menjadi fokus Tim Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKM-DB) Universitas Andalas dalam menyiapkan SDM Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, menuju Smart Tourism Resilien.
Ketua Tim PKM-DB Nagari Lawang, Dr. Yesi Puspita, M.Si., mengatakan pembangunan destinasi wisata cerdas tidak semestinya diawali dengan teknologi, melainkan dengan kesiapan manusia yang akan menjalankannya.
“Smart tourism bukan tentang seberapa banyak teknologi yang dipasang. Smart tourism adalah tentang seberapa besar teknologi membantu manusia,” demikian prinsip yang menjadi pijakan program tersebut.
Menurut Yesi, penguatan SDM menjadi penting karena karakter Puncak Lawang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki kawasan perbukitan, lereng, tebing dan jurang.
Kondisi tersebut membuat kemampuan memberikan pelayanan harus berjalan beriringan dengan kemampuan menjaga keselamatan wisatawan.
Karena itu, masyarakat Lawang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas melalui komunikasi, hospitality, manajemen bisnis, digital branding, mitigasi serta pemanfaatan teknologi.
Penguatan pertama menyentuh kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Dr. Yesi Puspita memberikan penguatan pada aspek komunikasi dan hospitality. Dalam pendekatan tersebut, keramahan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menyapa atau tersenyum kepada wisatawan.
Hospitality juga berarti membuat wisatawan merasa diterima, dihargai, nyaman dan aman.
Terlebih di kawasan wisata alam yang memiliki risiko, pengelola harus memiliki kemampuan komunikasi yang tepat ketika menghadapi situasi tertentu.
Bagaimana menyampaikan peringatan tanpa membuat wisatawan panik? Bagaimana menjelaskan kawasan yang berbahaya? Bagaimana merespons keluhan? Dan bagaimana berkomunikasi ketika terjadi insiden?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari penguatan komunikasi risiko dan komunikasi krisis wisata.
Dari sinilah konsep “dari ramah menjadi tangguh” dibangun. Masyarakat tidak hanya dipersiapkan sebagai tuan rumah yang ramah, tetapi juga sebagai tuan rumah yang siap menghadapi berbagai situasi.
Kesiapan SDM juga menyangkut kemampuan mengelola potensi ekonomi dari pariwisata. Dr. Nur Afni Evalia dengan kepakaran manajemen bisnis, memperkuat kapasitas pelaku wisata dan masyarakat Nagari Lawang dalam mengelola potensi pariwisata menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Pengembangan wisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Masyarakat lokal juga harus mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut melalui pengelolaan usaha, pengembangan produk dan pemanfaatan potensi ekonomi lokal.
Dengan demikian, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton ketika pariwisata berkembang, tetapi sebagai bagian penting dari penggerak ekonomi wisata.
Kesiapan SDM Lawang kemudian diperkuat pula melalui kemampuan membangun citra destinasi di ruang digital. Robi Jaya Putra, M.CPR., dari bidang ilmu komunikasi, memberikan penguatan pada media sosial dan digital branding.
Bagi destinasi wisata saat ini, media sosial bukan sekadar tempat menampilkan foto.
Wisatawan mencari informasi, melihat video, membaca ulasan dan mengenali sebuah destinasi melalui berbagai platform digital sebelum memutuskan berkunjung.
Program PKM-DB Universitas Andalas sendiri dirancang secara bertahap. Tahun pertama diarahkan pada pemetaan risiko, pelatihan komunikasi dan hospitality, penyusunan SOP, smart safety signage, warning sign, QR Code jalur evakuasi dan digital evacuation map.
Pada tahun kedua, penguatan diarahkan pada sensor curah hujan berbasis IoT, panic button, CCTV monitoring tebing, sirine peringatan dini, hospitality safety corner, simulasi bencana, video edukasi wisata aman dan branding Puncak Lawang Safe and Resilient Tourism.
Targetnya bukan sekadar menjadikan Lawang sebagai destinasi yang lebih digital.
Lebih dari itu, masyarakat Lawang disiapkan agar mampu melayani dengan ramah, mengelola dengan profesional, berkomunikasi dengan baik, mengenali risiko, menghadapi keadaan darurat dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan keamanan wisatawan.
Dari sinilah perjalanan Nagari Lawang dari ramah menjadi tangguh dimulai.
Menuju sebuah destinasi yang bukan hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga siap melayani, siap menghadapi risiko dan siap berkembang secara berkelanjutan. (*)












