PADANG,HARIANHALUAN.ID- Fenomena kendaraan mengalami gangguan setelah mengisi Pertalite di Kota Padang mendapat kecaman dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Sumatera Barat.
Sekretaris Jenderal METI Sumbar, Fauzi, meminta Pertamina segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan persoalan kualitas bahan bakar minyak (BBM) tersebut.
Ia menilai persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai keluhan konsumen semata, terlebih jika benar menimbulkan kerusakan pada sistem bahan bakar kendaraan.
“Pertamina harus mengusut tuntas insiden ini secara menyeluruh. Pertamina atau SPBU harus bertanggung jawab,” ujarnya Selasa (29/9/2026).
Ia mengingatkan bahwa , masyarakat Sumbar saat ini sudah menghadapi persoalan kelangkaan dan antrean ketika mendapatkan BBM. Karena itu, jangan sampai kondisi tersebut justru diperparah dengan munculnya dugaan persoalan kualitas BBM.
“Jangan sampai bahan bakar yang kini sudah semakin langka dan masyarakat sering antre, kualitasnya juga buruk,” ujarnya.
Kerugian akibat BBM bercampur material aneh dialami Heri (36) warga yang mengaku terakhir kali mengisi BBM kendaraannya di SPBU Belimbing, Kota Padang.
Tidak lama setelah itu, kendaraan yang digunakannya mengalami mogok di jalan. Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan partikel pada bagian tangki dan filter yang diduga menyerupai material seperti semen.
Temuan tersebut membuat Heri mempertanyakan kualitas BBM yang sebelumnya diisikan ke kendaraannya.
Ia berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada pemeriksaan kendaraan dan biaya perbaikan yang harus ditanggung konsumen.
“Harus ada yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Pertamina atau SPBU harus bertanggung jawab atas kerugian masyarakat atau konsumen yang menjadi korban,” kata Heri.
Kat Heri, ketika kendaraan mengalami gangguan, pemilik harus kembali mengeluarkan biaya untuk pemeriksaan, pembersihan tangki dan filter, hingga kemungkinan penggantian komponen apabila kerusakan ditemukan lebih lanjut.
Selaku Sekjen METI Sumbar, Fauzi menyatakan dengan tegas bahwa jika dugaan ini terbukti berkaitan dengan kualitas BBM, maka masyarakat selaku konsumen tidak semestinya menjadi pihak yang menanggung seluruh dampaknya.
Ia meminta pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kualitas BBM, proses distribusi, penyimpanan, tangki SPBU hingga sistem penyaluran BBM kepada konsumen
“Lakukan di seluruh Sumbar, Direksi Pertamina digaji tinggi bukan untuk menyengsarakan rakyat. Mereka harus memastikan BBM yang sampai ke masyarakat benar-benar memenuhi standar dan tidak menimbulkan kerugian bagi konsumen,” tegas Fauzi.
Menurut dia, Pertamina maupun pengelola SPBU perlu memberikan penjelasan secara terbuka apabila memang ditemukan persoalan dalam rantai distribusi BBM.
Namun, dugaan adanya material menyerupai semen tersebut juga perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, penyebab kendaraan mogok dapat diketahui secara jelas dan tidak berhenti pada dugaan semata.
Fauzi menegaskan, masyarakat membutuhkan kepastian. Jika memang terdapat persoalan pada kualitas BBM yang merugikan konsumen, harus ada langkah penyelesaian dan pihak yang bertanggung jawab.
“Jangan biarkan masyarakat membeli BBM dengan harga dan antrean yang sudah mereka hadapi, tetapi akhirnya harus kembali merogoh kocek untuk memperbaiki kendaraan,” tegas dia. (*)












