PADANG, HARIANHALUAN.ID — Produk rajutan tak pernah lekang oleh zaman. Bahkan, produk yang kerap memberikan kesan vintage ini justru sangat digemari, bernilai tinggi, hingga menjadi tren fesyen masa kini.
Beberapa contoh produk rajutan yang populer di antaranya adalah tas, dompet, taplak meja, sarung bantal kursi, sepatu, hingga peci.
Salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menangkap peluang ini adalah Nurhayati.
Melalui merek dagang “Nun Rajut”, ia memilih fokus pada usaha kerajinan tangan tersebut karena peminatnya yang luas, mulai dari kalangan dewasa hingga anak muda.
Harga produk Nun Rajut dibanderol bervariasi, berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp750 ribu. Sejauh ini, pesanan terbanyak dari pelanggan didominasi oleh tas rajut, dompet, dan peci.
Selain memajang produk siap pakai di galerinya, Nurhayati juga menerima pesanan khusus (custom) yang disesuaikan dengan keinginan pembeli.
“Untuk produk custom, harganya disesuaikan dengan kerumitan model dan jumlah bahan yang digunakan. Proses pengerjaannya biasanya memakan waktu antara tiga hari hingga satu minggu,” ujar Nurhayati.
Nurhayati menceritakan bahwa ia mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 2014. Awalnya, aktivitas merajut hanyalah hobi untuk mengisi waktu luang agar tetap produktif, seperti saat menunggu anak pulang sekolah.
Menurutnya, kerajinan merajut sangat praktis karena bisa dikerjakan di mana saja saat ada waktu senggang.
“Sebisa mungkin kita harus memanfaatkan waktu dengan baik dan tetap produktif,” tuturnya.
Meski sudah lama berkecimpung di dunia kerajinan rajut, Nurhayati mengaku tidak pernah berhenti melatih keterampilannya dan terus memantau perkembangan tren pasar.
Langkah ini penting agar produk Nun Rajut tetap inovatif, kreatif, dan diminati oleh generasi muda.
“Seni rajut ini memang berawal dari hobi, tetapi kita harus terus mengasah kemampuan agar produk yang dihasilkan kian kreatif. Apalagi merajut membutuhkan keterampilan khusus, jadi harus terus dilatih,” kata Nurhayati menambahkan.
Di era digital, Nun Rajut juga aktif memperluas pasar secara daring (online) melalui berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan TikTok.
Tidak hanya itu, Nurhayati juga rutin berpartisipasi membuka stan di berbagai bazar dan pameran UMKM, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya.
“Pada era serba digital ini, kita harus lihai memanfaatkan berbagai platform agar masyarakat luas mengenal produk kita sekaligus memperluas jangkauan pasar,” jelasnya. Melalui usaha yang dirintisnya, Nurhayati berharap Nun Rajut tidak hanya menjadi sumber penghasilan dan ladang ibadah yang berkah, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk berbagi ilmu, pengalaman, serta memotivasi kaum perempuan agar terus berkarya dan mandiri. (h/Ramadhana)












