Vanya Ananta Rakhza, mahasiswa Sastra Inggris, Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
Bayangkan sebuah kota yang tampak sempurna: jalanan ramai dengan tawa, gedung-gedung berdiri megah, dan warganya hidup dalam kenyamanan. Namun di balik gemerlap itu, ada satu ruang gelap tempat kebebasan dikorbankan demi menjaga ilusi bahagia. Hal ini seolah menyiratkan wajah ketimpangan sistem—kenyamanan yang kita nikmati ternyata dibayar dengan kebebasan orang lain.
The Ones Who Walk Away from Omelas, karya pendek dari Ursula K. Le Guin tahun 1973 menceritakan suatu tempat yang berisikan utopia menggambarkan tempat—bernama Omelas—yang penuh dengan orang yang bersuka cita, namun ada satu tokoh yang diasingkan. Sebuah cerita tersebar luas bahwa tokoh yang dimaksud—seorang anak berumur 8-10 tahun—diperlukan sebagai inang dari seluruh sisi negatif manusia, tak lebih agar mereka semua tidak perlu merasakan kesengsaraan sepertinya. Di antara mereka, terdapat beberapa yang sadar, namun mereka pun tidak memiliki kuasa apa-apa karena banyak dari mereka juga anak muda.
Sebagian pun memilih meninggalkan Omelas.
Mari kita berefleksi sejenak. sejarah sudah mencatat bahwa pada abad ke-19, terutama saat Revolusi Industri di Inggris dan Amerika, eksploitasi anak menjadi fondasi produksi barang yang sangat mudah di peroleh karena murah. Humphries (2003) menunjukkan bahwasannya anak-anak dari keluarga miskin, yatim piatu, atau keluarga besar paling rentan dipaksa bekerja di pabrik tekstil dan tambang dengan jam kerja panjang, seperti 12 jam sehari. Mereka menerima upah yang jauh lebih rendah dibandingkan orang dewasa, sehingga dianggap “aset menguntungkan” oleh pemilik pabrik.
Masa kecil memang dianggap sesuatu yang sudah wajar untuk disepelekan demi kepentingan pihak lainnya semenjak dahulu kala. Anak-anak dijadikan roda penggerak industri dan ekonomi, padahal jelas mereka kehilangan hak yang paling mendasar, yakni bermain, belajar dan tumbuh bebas.
Kondisi historis ini memiliki keselarasan yang kuat dengan dilema moral yang di gambarkan Ursula K. Le Guin dalam The Ones Who Walk Away from Omelas, dan dapat diambil sebagai sebuah gambaran dari kejadian ini. Sama seperti anak di ruang gelap Omelas yang dikorbankan demi kebahagiaan kolektif masyarakatnya, anak-anak pekerja pabrik abad ke-19 direduksi menjadi alat produksi agar masyarakat luas bisa menikmati kenyamanan.
Eksploitasi anak bukan hanya konsekuensi dari keluarga miskin atau kebutuhan industri saja, melainkan bukti sistem kapitalisme rela mengorbankan apa saja bahkan masa kecil, demi kenyamanan orang lain. Ironisnya, kenyamanan kolektif sering kali berdiri di atas penderitaan individu yang tak pernah dianggap penting. Karena itu, saya merasa di sini Le Guin menangkap kenyataan ini dengan sangat tajam, membuka perspektif baru. Ada seorang anak malang yang dikurung demi kebahagiaan orang banyak. Kemudian, muncul pertanyaan baru, apakah kebahagiaan semacam itu benar-benar layak dibayar dengan kebebasan dan hak seorang anak?






