LAREH NAN PANJANG, HARIANHALUAN.ID – Suasana Aula Kantor Wali Nagari Lareh Nan Panjang tampak berbeda selama dua hari terakhir. Puluhan perempuan muda terlihat serius memegang kuas rias, cermin dan perlengkapan make up, sambil mengikuti arahan instruktur profesional. Di balik pelatihan itu, tersimpan harapan besar untuk melahirkan pelaku usaha baru dari kampung sendiri.
Pemerintah Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, menggelar pelatihan tata rias make up bagi kaum hawa milenial pada 25–26 Mei 2026. Kegiatan tersebut diikuti 25 peserta yang berasal dari empat korong di wilayah nagari setempat.
Ketua TP PKK Nagari Lareh Nan Panjang, Risa Muskinta, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan perempuan untuk memperkuat entrepreneurial human capital di tingkat nagari.
Menurutnya, banyak perempuan muda di nagari yang memiliki kreativitas, namun belum memiliki wadah maupun keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
“Lewat pelatihan tata rias ini, kami ingin mereka punya skill praktis dan bisa membuka jasa make up untuk acara pernikahan, baralek, maupun wisuda di VII Koto. Yang penting ada motivasi untuk mulai usaha sendiri,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan instruktur bersertifikasi dari Kota Pariaman selama dua hari penuh. Materi yang diberikan meliputi make up natural sehari-hari, make up bridal Minangkabau, hijab styling, hingga strategi promosi melalui media sosial.
Tak hanya itu, peserta juga dibekali kemampuan dasar kewirausahaan seperti menghitung modal usaha, menentukan harga jasa, hingga manajemen pelanggan.
Salah seorang peserta, Zaimar dari Korong Padang Ampalu mengaku semakin percaya diri setelah mengikuti pelatihan tersebut.
“Selama ini cuma coba-coba merias teman. Sekarang jadi tahu teknik yang benar dan berani buka jasa. Di Lareh Nan Panjang sering ada baralek, wisuda, dan acara adat, jadi peluangnya memang ada,” katanya.
Sementara itu, Wali Nagari Lareh Nan Panjang, Muskinta menilai perempuan milenial memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi keluarga dan nagari.
“Kalau 25 orang ini aktif, mereka bisa jadi contoh. Tidak perlu jauh-jauh merantau. Di nagari sendiri, dengan skill dan kepercayaan dari kaum, mereka sudah bisa menghasilkan,” ujarnya.











