EkBisHEADLINE

Barang Impor yang Masuk ke Sumbar Meningkat Capai 110 Persen; Dari Bahan Bakar Mineral Hingga Pupuk

×

Barang Impor yang Masuk ke Sumbar Meningkat Capai 110 Persen; Dari Bahan Bakar Mineral Hingga Pupuk

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat nilai impor yang masuk ke Sumbar meningkat signifikan. Terutama untuk golongan Bahan Bakar Mineral dan Pupuk.

Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, Kamis (9/4) menyampaikan nilai impor Provinsi Sumatera Barat Januari–Februari 2026 mencapai US$130,86 juta atau naik 110,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Peningkatan ini disebabkan oleh bertambahnya impor bahan bakar mineral sebesar US$67,84 juta (naik 236,52 persen).
Sementara pada Februari 2026, nilai impor meningkat US$56,93 juta (naik 224,97 persen) dibandingkan Februari 2025,” ujarnya.

Dari lima golongan barang utama Januari–Februari 2026, golongan bahan bakar mineral mengalami peningkatan terbesar.

Golongan bahan bakar mineral mengalami peningkatan nilai impor tertinggi menjadi US$96,53 juta (naik 236,52 persen), diikuti oleh pupuk US$11,03 juta (naik 38,55 persen), dan bahan kimia organik US$3,22 juta (naik 3,90 persen), sedangkan golongan ampas/sisa industri makanan mengalami penurunan menjadi US$9,61 juta (turun 49,18 persen).

Pertumbuhan golongan gandum-ganduman tidak dapat didefinisikan karena tidak terdapat impor pada Januari–
Februari 2025.

Adapun lima negara/wilayah/entitas tertentu pemasok barang impor terbesar Selama Januari–Februari 2026 adalah Singapura US$76,44 juta (58,42 persen), Malaysia US$21,19 juta (16,19 persen), Kanada US$11,11 juta (8,49 persen), Argentina US$7,83 juta (5,98 persen), dan Australia US$7,26 juta (5,55 persen).

Baca Juga  Kabar Gembira! Arab Saudi Resmi Izinkan 1 Juta Jemaah Haji Indonesia

“Selama Januari–Februari 2026, nilai impor bahan baku/penolong, barang konsumsi, dan barang modal naik 109,98 persen, 38.483,87 persen, dan 239,02 persen menjadi US$130,05 juta, US$0,11 juta, dan US$0,70 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya.

Barang impor Provinsi Sumatera Barat pada Januari–Februari 2026 sebagian besar melalui pelabuhan bongkar Teluk Bayur (US$129,90 juta). Impor melalui pelabuhan bongkar Teluk Bayur ini mengalami peningkatan 112,33 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Disisi lain untuk barang ekspor pada Januari–Februari 2026 naik 42,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, yaitu dari US$425,33 juta menjadi US$607,95 juta.

“Ekspor asal Provinsi Sumatera Barat Februari 2026 tercatat US$295,32 juta, naik 8,54 persen dibanding Februari 2025,” ujarnya.

Dari Sepuluh komoditas dengan nilai ekspor terbesar Januari–Februari 2026, sebagian besar komoditas mengalami peningkatan nilai ekspor dibandingkan Januari–Februari 2025 dengan peningkatan tertinggi pada golongan berbagai produk kimia (HS38) US$16,92 juta (naik 135,98 persen).

Baca Juga  Hotel Kimaya Slipi Jakarta By Harris Beri Santunan Anak Yatim Di Mizan Amanah Pejompongan

Komoditas lainnya yang juga meningkat nilai ekspornya adalah lemak & minyak hewan/nabati US$532,35 juta (naik 53,41 persen); karet dan barang dari karet US16,89 juta (naik 4,90 persen); ampas/sisa industri makanan US$7,56 juta (naik 33,04 persen); dan sari bahan samak & celup US$5,75 juta (naik 25,85 persen).

Sementara komoditas yang mengalami penurunan adalah bahan-bahan nabati US$10,18 juta (turun 47,42 persen); garam, belerang, kapur US$5,49 juta (turun 37,42 persen); kopi, teh, rempah-rempah US$4,97 juta (turun 26,76 persen); buah-buahan US$3,91 juta (turun 36,18 persen); dan minyak atsiri, kosmetik wangiwangian US$2,92 juta (turun 6,27 persen).

Ekspor asal Provinsi Sumatera Barat dikirim ke beberapa negara/wilayah/entitas tertentu.

Pada Januari–Februari 2026, India merupakan negara/wilayah/entitas tujuan tertentu ekspor yang memiliki peranan terbesar yaitu India sebesar US$178,61 juta (29,38 persen), diikuti oleh Pakistan US$121,84 juta (20,04 persen), dan Tiongkok US$80,90 juta (13,31 persen).

Komoditas utama yang diekspor ke India pada periode tersebut adalah crude palm oil. (h/yes)