HARIANHALUAN.ID – Dana hasil pungutan ekspor kelapa sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali dirasakan langsung oleh para pekebun. Salah satunya melalui pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diikuti 62 peserta asal Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.
Kegiatan yang berlangsung selama enam hari, mulai 18 hingga 23 Agustus 2026 di The Premiere Hotel & Convention, Riau, ini diselenggarakan oleh LPP Agro Nusantara atas penugasan dari BPDP bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Pelatihan dibuka secara resmi dengan penampilan Tarian Persembahan Melayu dan dihadiri Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Tengku Ridwan Putra Yuda, S.Hut. Sementara itu, penutupan kegiatan pada 23 Agustus 2026 disampaikan oleh perwakilan LPP Agro Nusantara, Fellando Martino Nugroho, S.T.
Program ini secara khusus menyasar pekebun swadaya yang selama ini menjadi tulang punggung industri sawit nasional. Berdasarkan data, pekebun swadaya mengelola sekitar 40 persen luas perkebunan sawit Indonesia dan menyumbang 30 hingga 35 persen produksi crude palm oil (CPO) nasional. Namun, produktivitas dan penerapan praktik budidaya berkelanjutan masih menjadi tantangan.
Panitia menjelaskan, peningkatan produktivitas sawit tidak hanya bergantung pada ketersediaan pupuk atau bibit unggul, tetapi juga pada keterampilan serta pemahaman petani mengenai tata kelola kebun yang baik dan berkelanjutan.
“Masalahnya bukan hanya pupuk atau bibit, tetapi juga keterampilan dan pemahaman praktik budidaya yang baik,” ujar panitia.
Melalui fasilitas pelatihan gratis yang diberikan BPDP lewat program Rekomtek Ditjenbun Kementerian Pertanian, para peserta mendapatkan pembekalan terkait prinsip-prinsip ISPO, pencatatan kebun, pengelolaan lingkungan, hingga aspek legalitas usaha perkebunan.
Peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari berbagai unsur, mulai dari pekebun swadaya, pengurus koperasi unit desa (KUD), pendamping daerah, hingga anggota keluarga pekebun.
Sebagai bagian dari praktik lapangan, pada 22 Agustus 2026 para peserta melakukan kunjungan ke Gabungan Kelompok Tani Manunggal Sakti di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Di lokasi tersebut, peserta mempelajari secara langsung penerapan standar ISPO pada kebun sawit rakyat.
Salah seorang peserta asal Rokan Hilir, Syahrul Marpaung, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama pelatihan.
“Dulu taunya asal tanam. Sekarang saya paham bahwa ISPO bukan hanya soal sertifikasi, tetapi juga tentang keberlanjutan dan pencatatan kebun yang rapi,” ungkapnya.
Melalui program ini, BPDP berharap dana sawit yang dihimpun dari sektor perkebunan benar-benar kembali kepada para pelaku usaha di lapangan. Tidak sekadar menghasilkan sertifikat, tetapi juga mendorong perubahan pola bertani menuju usaha perkebunan sawit yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (h/yes)









