Laporan: Dr. H. Jufri Syahruddin
Catatan Redaksi:
Salah seorang wartawan senior Harian Haluan, Dr. H. Jufri Syahruddin berkesempatan berkunjung ke Jepang dalam rangka wisata religi dan studi tiru. Berikut ini kami turunkan tulisan perjalanannya secara bersambung. Selamat mengikuti.
Selasa malam itu, 28 April 2026, udara kota Jakarta begitu sejuk dan langit cerah. Tepat pukul 21.30 WIB pesawat berbadan lebar All Nippon Airlines (ANA) mengudara dengan tenang. Semua penumpang kelihatan diam dan berdoa agar penerbangan menuju bandara Haneda, Tokyo aman dan lancar.
Tidak lama berselang pesawat sudah berada di ketinggian 39.000 kaki dari permukaan laut. Para penumpang mulai asyik menikmati hiburan yang ada di hadapan mereka masing-masing. Sesekali pesawat terasa bergoyang kencang, namun penumpang tampak tenang dan bahkan sebagian besar tertidur pulas.
Tepat pukul 06.30 pagi waktu Jepang, setelah menempuh penerbangan selama 9 jam, pesawat ANA yang membawa kurang lebih 300 penumpang mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Semua penumpang tampak lega dan plong serta bersiap mengemas barang2 kabin bawaannya.
Sekilas Tentang Bandara Haneda
Setelah keluar pesawat, penulis begitu terpesona menyaksikan Bandara Haneda yang sangat luas, bersih dan megah. Justru itu, penulis tertarik untuk membuat tulisan khusus tentang seluk beluk bandara ini sebagai perbandingan bagi pembaca dengan bandara-bandara di Tanah Air, terutama Bandara Soekarno-Hatta.
Bandara Internasional Tokyo, yang lebih dikenal sebagai Bandara Haneda (HND), memiliki sejarah panjang yang mencerminkan transformasi Jepang dari era pra-perang hingga menjadi raksasa ekonomi dunia.
​Menurut sejarahnya, Bandara Haneda resmi dibuka pada 25 Agustus 1931 di atas lahan reklamasi seluas 53 hektare. Pada masa itu, bandara ini merupakan bandara sipil terbesar di Jepang, namun fasilitasnya masih sangat sederhana dibandingkan standar modern, dengan satu landasan pacu sepanjang 300 meter.
​Setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, pangkalan ini diambil alih oleh pasukan Sekutu (Amerika Serikat) dan berganti nama menjadi Haneda Army Air Base. ​Pemerintah pendudukan memperluas landasan pacu untuk mengakomodasi pesawat militer besar.
​Warga lokal di sekitar area bandara dipaksa pindah dalam waktu singkat untuk perluasan pangkalan tersebut. Amerika menguasai Jepang selama 7 tahun dari 1945-1952. Pada tahun 1952, AS mengembalikan sebagian kontrol bandara kepada Jepang, dan namanya resmi menjadi Bandara Internasional Tokyo.
​Bandara ini menjadi pintu gerbang utama dunia saat Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 1964. Hal ini memacu pembangunan infrastruktur pendukung, seperti monorel Tokyo yang menghubungkan pusat kota dengan bandara.
​Kemudian Haneda kian berkembang dan menjadi saksi masuknya era pesawat jet di Jepang, dengan maskapai seperti JAL dan ANA yang mulai melayani rute internasional jarak jauh. Seiring meningkatnya kepadatan lalu lintas udara, pemerintah membangun Bandara Internasional Narita di Prefektur Chiba.
​Sejak 1978, terjadi pembagian peran, yakni Narita menangani hampir semua penerbangan internasional, sementara Haneda difokuskan untuk penerbangan domestik. ​Status ini bertahan selama beberapa dekade, menjadikan Haneda salah satu bandara domestik tersibuk di dunia.
​Sejak tahun 2010, bandara Haneda melakukan ekspansi besar dan kembali melayani penerbangan internasional. ​Kebutuhan akan akses cepat ke pusat kota Tokyo membuat pemerintah kembali melirik Haneda untuk penerbangan internasional.
​Pada tahun 2010 pemerintah Jepang membangun landasan pacu baru, yaitu landasan pacu keempat (D-Runway) dan terminal internasional baru (sekarang Terminal 3). Hal ini menandai kembalinya Haneda sebagai pemain utama rute luar negeri. ​Saat ini, Haneda dikenal sebagai salah satu bandara paling tepat waktu dan terbersih di dunia, sering kali memenangkan penghargaan tertinggi dari Skytrax.
​Berbeda dengan Narita yang berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Tokyo, Haneda hanya berjarak sekitar 15 km dari Stasiun Tokyo, menjadikannya pilihan favorit bagi pelancong bisnis.
​Terminal 3 Haneda memiliki area bernama “Edo Ko-michi”, sebuah koridor belanja dan kuliner yang didesain menyerupai jalanan kota Tokyo pada zaman Edo.
Saat ini Bandara Internasional Tokyo (Haneda) merupakan salah satu bandara tersibuk dan terbaik di dunia. Berdasarkan data terbaru tahun 2026, Haneda kembali dinobatkan sebagai Bandara Terbersih di Dunia oleh Skytrax untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut.
Bandara Haneda yang terletak di Distrik Ota, dan hanya berjarak 15 km dari Stasiun Tokyo, sekarang memiliki 4 landasan pacu atau runway, yakni Runway A, B, C dan D. Landasan A sepanjang 3000 meter, landasan B 2500 meter, landasan C sepanjang 3360 meter, dan landasan C memiliki panjang 2500 meter. Masing-masing landasan mempunyai lebar 60 meter.
Terminal Penumpang
Terminal 2 digunakan sebagian untuk domestik dan sebagian lagi untuk internasional. Terminal ini melayani operasional All Nippon Airways (ANA), Air Do, dan Solaseed Air. Sejak tahun 2020, terminal ini juga melayani beberapa rute internasional ANA. Bandara Haneda menangani lebih dari 90 juta penumpang per tahun.
​Pada tahun 2026, Bandara Haneda meraih prestasi peringkat 1 sebagai World’s Cleanest Airport, yaitu bandara terbersih di dunia. Dan prestasi ini sudah diraihnya selama 10 tahun secara berturut-turut. Kemudian, dinobatkan sebagai bandara domestik terbaik di dunia. (*) (bersambung)












