PADANG, HARIANHALUAN.ID – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang memperkuat langkah pencegahan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan obat-obatan tertentu (OOT) di Sumatera Barat (Sumbar) melalui kerja sama lintas sektor.
Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan 11 camat di Kota Padang, tiga asosiasi pengusaha Indonesia, tiga asosiasi profesi, serta 21 pimpinan akademisi dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di Sumbar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang, Elyunaida mengatakan, bahwa penyalahgunaan OOT menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
“Dalam tujuh tahun terakhir, peningkatan penyalahgunaan di daerah rawan tercatat mencapai 19 kali lipat,” katanya, Senin (25/5).
Menurutnya, kondisi tersebut banyak terjadi pada kalangan anak muda yang masih mencari jati diri, memiliki emosi yang belum stabil, dan mudah terpengaruh oleh berbagai persoalan hidup sehingga memilih pelarian ke arah negatif.
“Karena itu, edukasi menjadi sangat penting. Kita harus bekerja sama agar pesan-pesan pencegahan ini bisa sampai ke komunitas-komunitas masyarakat dan generasi muda,” sebutnya.
Ia mengatakan, BPOM terus memperkuat pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan, khususnya obat-obatan yang beredar secara legal agar tidak disalahgunakan.
“Pengawasan tersebut dilakukan dengan menyamakan persepsi bersama seluruh pihak terkait guna melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan obat,” paparnya.
Ia menambahkan, OOT ini sangat mudah didapatkan. Jika disalahgunakan, dapat merusak saraf pusat dan menjadi pintu masuk menuju penyalahgunaan narkoba yang lebih berat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, dr. Aklima mengatakan, Sumbar sendiri disebut berada di peringkat keenam secara nasional terkait peredaran dan penyalahgunaan obat-obatan tertentu. Kondisi ini dinilai menjadi bom waktu bagi generasi muda apabila tidak ditangani secara serius.












