PADANG, HARIANHALUAN.ID – Banjir yang kembali melumpuhkan sejumlah kawasan di Kota Padang, Senin (3/8), dinilai bukan semata-mata dipicu oleh tingginya curah hujan. Di balik luapan air yang merendam permukiman dan melumpuhkan aktivitas warga, terdapat persoalan serius pada kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji yang dinilai terus mengalami degradasi.
Ketua Umum Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Barat, Prof. Isril Berd, mengatakan hujan berintensitas tinggi memang menjadi pemicu langsung banjir. Namun, dari perspektif hidrologi dan lingkungan, kemampuan DAS Kuranji dalam menahan dan mengalirkan air sudah jauh menurun akibat kerusakan yang terjadi selama bertahun-tahun.
“Pemicu utamanya memang intensitas hujan yang tinggi. Namun, kualitas tutupan lahan di hulu DAS Kuranji sudah mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan dan penebangan pohon. Kondisi ini mengganggu fungsi hidrologi kawasan hulu sehingga limpasan air ke sungai menjadi semakin besar,” ujarnya kepada Haluan Senin (3/8).
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh dampak banjir bandang yang melanda kawasan Kuranji pada akhir November 2025. Bencana itu tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga mengubah karakter Sungai Batang Kuranji.
Ia menjelaskan, badan sungai kini dipenuhi endapan material kasar berupa batu, sedimen, hingga potongan kayu yang terbawa arus saat banjir bandang. Akumulasi material tersebut menyebabkan dasar sungai menjadi lebih dangkal sehingga kapasitas sungai menampung debit air terus berkurang.
“Sedimentasi membuat kemampuan volume aliran sungai menurun. Ketika hujan deras datang, sungai lebih cepat meluap karena daya tampungnya sudah tidak seperti sebelumnya,” katanya.
Prof. Isril mengapresiasi upaya normalisasi yang telah dilakukan pemerintah. Namun, menurutnya, penanganan tersebut belum menyentuh keseluruhan sistem sungai.
“Normalisasi memang sudah dilakukan, tetapi belum total. Sejauh yang kami amati, pekerjaan lebih banyak dilakukan di bagian tengah Sungai Batang Kuranji. Padahal, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari hulu, bagian tengah hingga hilir. Kalau tidak, persoalan banjir hanya akan berpindah dari satu titik ke titik lainnya,” tegasnya.
Secara biofisik, ungkapnya, DAS Kuranji memiliki luas sekitar 212 kilometer persegi.dengan panjang sungai utama sekitar 25 kilometer. Sungai ini berhulu di kawasan Bukit Barisan, tepatnya di sekitar Bukit Tinjau Laut, kemudian mengalir melewati kawasan tengah Kota Padang sebelum bermuara ke Pantai Padang.
DAS tersebut terdiri atas sejumlah sub-DAS, di antaranya Sub-DAS Padang Air Janih dan Padang Air Karuah. Dalam kondisi normal, lebar Sungai Batang Kuranji berkisar antara 20 hingga 80 meter.
Namun, menurut Prof. Isril, perubahan tutupan lahan di kawasan hulu membuat fungsi kawasan resapan air semakin menurun. Akibatnya, air hujan lebih banyak menjadi limpasan permukaan dibanding terserap ke dalam tanah.
“Kondisi hulu yang seharusnya menjadi kawasan penyimpan air sudah tidak berfungsi optimal. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, debit air langsung mengalir ke sungai dalam waktu singkat dan meningkatkan potensi banjir di kawasan hilir,” ujarnya.
Prof. Isril menilai banjir yang terjadi saat ini merupakan hasil interaksi sejumlah faktor, bukan hanya hujan ekstrem. Menurut analisisnya, curah hujan tinggi di wilayah barat Sumatera meningkatkan debit Sungai Batang Kuranji dan Sungai Guo secara cepat hingga meluap ke kawasan permukiman seperti Pasar Lalang dan Lapau Munggu.
Kondisi itu diperparah oleh sedimentasi dasar sungai pascabanjir bandang serta kerusakan sejumlah infrastruktur pengendali air, termasuk bendung irigasi yang sebelumnya telah mengalami kerusakan pasca bencana bulan November 2025 lalu.
“Dari sudut pandang sistem hidrologi, banjir ini merupakan kombinasi antara hujan ekstrem, meluapnya Sungai Batang Kuranji dan Sungai Guo, sedimentasi dasar sungai pascabencana, serta berkurangnya kapasitas infrastruktur pengendali banjir,” jelasnya.
Prof. Isril menegaskan bahwa banjir yang berulang di Kota Padang seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah pendekatan penanganan banjir. Menurutnya, fokus tidak boleh hanya pada pengerukan sungai ketika banjir terjadi, tetapi juga pada pemulihan fungsi ekologis DAS secara menyeluruh.
Ia menekankan bahwa rehabilitasi kawasan hulu, pengendalian alih fungsi lahan, konservasi tutupan hutan, serta normalisasi sungai dari hulu hingga hilir harus menjadi satu paket kebijakan yang dijalankan secara berkelanjutan.
“Kalau penanganannya hanya parsial, banjir akan terus berulang. DAS adalah satu kesatuan sistem. Ketika hulunya rusak, dampaknya pasti dirasakan masyarakat yang tinggal di bagian hilir,” pungkas dia. (h/fzi)












