Wali Kota Pariaman Yota Balad menyebut peletakan batu pertama huntap mandiri tersebut sebagai momentum penting bagi masyarakat untuk bangkit dari dampak bencana.
“Hari ini adalah momen bersejarah dan penuh harapan. Ini menjadi simbol berakhirnya masa darurat dan pengungsian, sekaligus dimulainya fase kehidupan yang lebih baik, lebih aman, dan lebih tangguh,” ujar Yota.
Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kota Pariaman dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi, sekaligus memastikan masyarakat terdampak dapat kembali menata kehidupan di hunian yang layak.
Program huntap mandiri di Kota Pariaman masih bersifat terbuka dan fleksibel. Warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Batang Mangor dan merasa terancam oleh kondisi lingkungan pascabencana dapat mengajukan diri sebagai penerima program melalui BNPB dan BPBD setempat.
“Untuk saat ini baru satu unit yang dibangun. Namun ke depan, masyarakat yang merasa rumahnya tidak lagi aman bisa melapor, dengan syarat memiliki lahan untuk pembangunan huntap. Kami berharap masyarakat bisa kembali hidup lebih baik di hunian yang lebih layak,” jelas Yota.
Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengatakan PT Semen Padang terus mendukung percepatan pemulihan masyarakat pascabencana, khususnya di Sumatera Barat. Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan Sepablock, produk inovasi PT Semen Padang yang dinilai sangat cocok untuk pembangunan hunian pascabencana.
“PT Semen Padang berkomitmen untuk terus hadir dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana. Melalui Sepablock, kami berharap dapat ikut membantu penyediaan hunian yang layak, aman, dan lebih tangguh bagi masyarakat,” ujar Win.
Menurut Win, meluasnya penggunaan Sepablock dalam pembangunan huntap mandiri menjadi bukti bahwa inovasi lokal dapat memberi kontribusi nyata bagi kebutuhan kemanusiaan dan pembangunan daerah.












