Ada keluarga yang berharap anaknya tidak terjerumus narkotika. Ada orang tua yang khawatir anak-anaknya terlibat kenakalan remaja. Ada warga yang ingin lingkungan tempat tinggalnya tetap aman.
Di situlah pendekatan kepolisian menjadi lebih dari sekadar penegakan hukum. Mendengar menjadi penting. Menyapa menjadi penting. Hadir di tengah masyarakat menjadi penting.
Karena rasa aman tidak hanya dibangun melalui tindakan setelah sebuah persoalan terjadi, tetapi juga melalui hubungan yang membuat masyarakat merasa dekat dengan polisi.
Dari Jarak Komando Menjadi Kedekatan
Sebagai Kapolres, Syahrul memang berada di posisi yang mengharuskannya memimpin dan mengambil keputusan.
Namun, jabatan tersebut tidak semestinya menciptakan jarak dengan masyarakat. Justru, seorang pemimpin kepolisian perlu mengetahui apa yang dirasakan warga di luar ruang kerjanya.
Ketika masyarakat menyampaikan keluhan, ada persoalan yang harus didengar. Ketika warga memberikan informasi, ada kepercayaan yang harus dijaga. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, ada kehadiran yang diharapkan.
Hubungan semacam itu tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh dari pertemuan demi pertemuan, komunikasi yang terus dijaga, serta kesediaan untuk melihat persoalan bukan hanya dari sudut pandang institusi, tetapi juga dari sisi masyarakat yang mengalaminya.
Di sinilah hampir tiga bulan pertama Syahrul di Rejang Lebong menemukan maknanya.
Polisi Hadir Sebelum Masyarakat Membutuhkan
Menjaga keamanan tidak selalu berarti datang setelah persoalan terjadi. Ada pekerjaan yang justru dilakukan jauh sebelumnya.
Membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah daerah, TNI dan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga situasi tetap kondusif.
Masyarakat pun memiliki peran penting. Mereka adalah mata dan telinga yang berada paling dekat dengan lingkungan masing-masing.








