SASTRA BUDAYA

Harimau Ke Rumah Nan Tumpah #11

×

Harimau Ke Rumah Nan Tumpah #11

Sebarkan artikel ini

Oleh: Kiki Nofrijum

Saya senyum sendiri dibuatnya. Dari Simpang Palapa menuju sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah, harimau-harimau mungil itu menyapaku dari baliho – dari karung goni – di setiap persimpangan kecil. Sekitar puluhan baliho hingga ke Rumah Nan Tumpah yang berada di Korong Kasai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman.

“Sejak kapan di Rumah Nan Tumpah?”

“Sejak kabut asap sekarang ini, tapi dari dulu sudah……hhmmmmmm”

“Bukankah kabut asap oleh karhutla ini sudah terjadi sejak lama dan mengapa Ke Rumah Nan Tumpah?

“Ya begitulah yang dimaksud. Saya mengadu Ke Rumah Nan Tumpah karena ada harapan agar saya bisa dikenali lebih lama lagi. Kabarnya ada banyak anak-anak yang bersedia untuk menghargai saya. Makanya saya menjelma harimau mungil supaya mereka bisa dekat dengan saya.”

Begitulah andai-andai saya dengan harimau saat berjalan ke Rumah Nan Tumpah. Sekitar 100 meter lagi ke tempat tujuan, sudah terdengar saja sorak anak-anak yang mengudara bersama nyanyian ceria. “Kita kelana, bebas berlari//Tak ada batas, seni untuk semua”. Nyanyian itu semakin keras terasa, menandakan pelangkahan saya tiba di Rumah Nan Tumpah.

Pembukaan Ke Rumah Nan Tumpah #11 sudah dimulai. Para warga tampak ceria dengan tatapannya yang tak ingin lepas dari pertunjukan. Beberapa orang lagi senyum bahagia sambil merekam pertunjukan – barangkali ada anaknya dalam pertunjukan yang dibuka dengan Senam Kelana itu.

Sebagaimana yang dijabarkan penyelenggara, Ke Rumah Nan Tumpah edisi ke-11 yang digelar pada 5 sampai 12 September 2026 ini mengiring dua kegiatan sejalan. Pertama; pameran seni rupa bertajuk Harimau Adalah Minang; Harimau, Kemudian Kita. Kedua; Gelar Karya Kelana Akhir Pekan Angkatan III bertema Ada Banyak Kita di Sini.

Pameran seni Harimau, Kemudian Kita, merupakan kerja kolektif dari SILOTIGO bersama Sumatra Wild Adventure. Segala jenis karya rupa terinstalasi di sekitaran Rumah Nan Tumpah. Ada di Ruangtemu, di persimpangan, rumah-rumah, di tempat usaha sapu lidi, area kosong, pos ronda, dan di tempat lain. Apa pun tentang rupa harimau di sana, sama sekali tidak menakutkan untuk dilihat dalam malam berkabut itu.

Kemudian ada Gelar Karya Kelana Akhir Pekan Ada Banyak Kita di Sini. Kelas Tari, Kelas Musik, Kelas Teater, Kelas Silek, dan Kelas Rupa telah menyiapkan karyanya sejak April lalu. Dan hasil karya dari masing-masing kelas itu ditampilkan di penghujung kegiatan. Gelar karya ini tidak menjadi tolak ukur keterampilan, melainkan penguat memori tentang apa dan bagaimana proses telah dilangsungkan.

Harimau Tak Pandai Lagi Berguru kepada Alam

Baca Juga  PIJAKAN TERINJAK

Kureta Mandaki lagu dari pertunjukan Gandang Tambua khas Piaman mengawali pertunjukan pertama oleh salah satu komunitas seni setelah pembukaan Senam Kelana. Dalam bingkai yang sama, selepas Gandang Tambua disambutlah oleh tarian. Dalam tarian itu ada aksi api-api yang menyembur dari mulut. Semburan api itu membumbungkan asap hitam ke udara, sedang sorak-sorak semakin membara dibuatnya.

Mengingat tema harimau yang kehilangan tempat pulang, benak saya ketika merangkaikan pertunjukan itu langsung tertuju kepada sebuah pernyataan. Ya, harimau mungkin tidak pandai lagi berguru kepada alam. Ketidakpandaian itu bukan saja karena habitatnya yang tergadai, tapi juga karena telah disusutkan oleh memori lokalitas kita, hingga sekarang ini.

Ini bersangkut paut juga pada penarikan tema harimau yang dibawakan Ke Rumah Nan Tumpah #11. Pertama tentang nasibnya yang kehilangan hutan sebagai habitatnya, dan kedua tentang kelekatan harimau dengan masyarakat dan budaya Minangkabau. Keduanya itu dapat kita simpulkan kini bahwa kata ‘penderitaan’ menjadi muara dari keduanya.

Perihal kehilangan tempat tinggal, masalah ini sudah jauh mengkhawatirkan sejak dulu. Pada 1970-an, Harimau Sumatra dicatat telah tinggal sekitar 1.000 ekor. Dan maraknya pada 1990-an, keberadaan Harimau Sumatra semakin tidak terkendali. Penyusutannya bahkan mencapai 50 persen lebih. Pada 1996, lembaga konservasi International Union for Conservation of Nature atau IUCN menetapkan Harimau Sumatra ke dalam Daftar Merah sebagai spesies terancam punah kritis. Dan sekarang, apa mau disebut, kekhawatiran hanya menjadi etalase dalam rangkai kata pidato pejabat-pejabat yang seolah tersakiti.

Sawit-sawit yang tersusun rapi nyatanya tak disukai harimau. Tak ada harimau si raja sawit. Buah sawit yang mengandung minyak itu tentu menyebabkan harimau batuk-batuk jika memakannya. Akhirnya, harimau menjadi sasaran perburuan. Mereka disesatkan oleh hutannya sendiri sampai tiba di ladang petani, jauh dari radiusnya, atau kebingungan lain yang membuat mereka hilang akal.

Karena sudah lupa dengan alamnya sendiri, ujung-ujungnya harimau mudah terkena perangkap, kurus karena susah mencari makan, atau terpaksa menjarah hewan ternak para warga.

Kemudian tentang harimau yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Minangkabau. Harimau telah begitu melekat dengan Minangkabau itu sendiri. Inyiak atau inyiak balang, begitulah orang kita menyebutnya.

Dalam suatu kepercayaan hingga tradisi, inyiak membersemai kehidupan orang Minangkabau dulunya. Wajar saja kasus harimau memakan manusia cukup jarang ditemui meski warga acap bertemu dengannya.

Bukan saja menyudutkan orang urban, bahkan kita di kampung – yang katanya masih membesarkan tuah pakaian datuk – pun sudah menganggap inyiak balang hanya sebagai pemanis cerita di lepau, di kedai kopi kekinian, atau tempat-tempat skena yang dikerubungi remaja-remaja perantauan.

Baca Juga  Kumpulan Puisi Terbaik Pulo Lasman Simanjuntak

Perihal sumpah sati mengenai kesepakatan menjaga kampung halaman antara masyarakat dengan harimau, bermacam-macam aliran Silek Harimau, khodam atau akuan inyiak balang, dan segala macam bentuk mitos atau kepercayaan yang melekatkan harimau, seolah sedang terkapar lunglai di memori orang-orang tua yang sudah malu menceritakannya.

Harimau dalam dua ruang yang sesungguhnya beririsan itu benar-benar merasai pasai. Harimau hanya mungkin sering ditemui dalam spanduk konservasi, plang peringatan hewan buas di pesawangan, atau dalam bentuk gambar lain yang terus saja diam.

Inyiak balang kita ini tampaknya sudah tak pandai lagi berguru kepada alam, sebab alam kita proyeksikan sebagai sumber kemajuan. Hilang alam, hilanglah akal dan naluri mereka. Begitu menyedihkan. Andailah harimau ini pandai bernyanyi, pasti ia lantunkan dendang urang banyanyi di ateh sanang, nan kito banyanyi di ateh rusuah.

Mungkinkah Ke Rumah Nan Tumpah Bisa Menyelamatkannya?

Seminggu pelaksanaan Ke Rumah Nan Tumpah #11 ini, apakah akan mampu menyelamatkan inyiak balang kita ini setelahnya? Semoga saja jawabnya. Kampanye harimau ini memang tidak akan bisa menyulap harimau menjadi bertambah jumlahnya. Tapi biarlah, saya lebih percaya kerja Ke Rumah Nan Tumpah daripada kerja konservasi yang belakangan ini jadi ladang korupsi hingga puluhan miliar.

Adanya pameran seni rupa tentang harimau, peluncuran buku harimau, berbagai macam pertunjukan seni, setidaknya kita bisa mempertahankan ingatan tentangnya. Biarlah hanya kata dan bentuk yang terbawa oleh kepala, setidaknya ingatan ini akan berlanjut dikenang dan bertahan sedikit lama untuk beberapa tahun ke depan.

Saya membayangkan sesederhana mungkin tentang Harimau, Kemudian Kita ini. Selama tujuh hari pelaksanaan Ke Rumah Nan Tumpah #11, pastilah dua atau tiga tentang inyiak balang ini akan terbawa pulang oleh kita. Ke Rumah Nan Tumpah benar-benar festival warga dan milik warga. Tak ada batas-batas yang memisahkan kita dengan ruang pertunjukan. Jauh-dekat pertunjukan itu terpandang, semua merasakan kebahagiaan yang sama – warga dengan warga, pelaku seni dengan pelaku seni, dan beberapa warga dengan pelaku seni.

Pameran seni harimau yang berwajah mungil pastilah disenangi anak-anak. Pertunjukan seni kreasi berbasis tradisi mungkin memantik kembali pengetahuan lokalitas kita tentang inyiak balang, dan bentuk lain yang mengingatkan kita kembali tentang relasi kita sebagai manusia dengan alam, dan juga harimau-harimau mungil yang bakal dikenang oleh anak-anak Kelana Akhir Pekan nantinya – sebagai sesuatu yang perlu dijaga dan diwariskan. (*)