Menurut Ridwan, meningkatnya kepercayaan dari berbagai sektor industri menjadi bukti bahwa kualitas pekerjaan fabrikasi yang dihasilkan BNSPT mampu bersaing dan memenuhi standar industri nasional.
“Ini menunjukkan bahwa kemampuan fabrikasi yang dimiliki BNSPT semakin dipercaya oleh industri di luar sektor semen,” tutur Ridwan.
Pasok Batu Split untuk Flyover Sitinjau Lauik
Selain jasa fabrikasi, BNSPT juga terus memperluas pemasaran produk material nonsemen. Salah satu produk yang dipasarkan adalah batu split yang digunakan untuk berbagai proyek konstruksi dan infrastruktur.
Ridwan menyebutkan bahwa batu split produksi BNSPT saat ini telah digunakan untuk mendukung pembangunan proyek strategis, termasuk proyek Flyover Sitinjau Lauik yang menjadi salah satu proyek infrastruktur penting di Sumatera Barat.
Tidak hanya itu, batu split juga dipasok untuk memenuhi kebutuhan sejumlah batching plant untuk produksi beton.
“Batu split yang kami produksi terus mendapatkan pasar. Saat ini digunakan untuk kebutuhan proyek Flyover Sitinjau Lauik dan juga beberapa batching plant,” katanya.
Binder Clay Dipasok ke PT Pusri
Produk nonsemen lainnya yang turut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja BNSPT adalah binder clay. Material ini digunakan sebagai salah satu bahan baku dalam proses produksi pupuk NPK. BNSPT kembali memperoleh kepercayaan dari PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) untuk memasok binder clay pada tahun 2026 ini.
Dalam kontrak yang berjalan saat ini, BNSPT memasok sebanyak 7.500 ton binder clay hingga akhir Juli 2026. Kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari kontrak sebelumnya yang terlaksana pada tahun 2025 dengan total pasokan mencapai 8.400 ton.
“Keberlanjutan kerja sama ini menjadi indikasi bahwa kualitas produk binder clay kami mampu memenuhi kebutuhan industri pupuk nasional,” katanya.
Produk Kalsium Karbonat dan Biji Kalsium
Tidak hanya fokus pada bisnis yang sudah berjalan, BNSPT juga terus melakukan inovasi untuk membuka peluang pasar baru. Salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah kalsium karbonat yang direncanakan untuk digunakan sebagai bahan penetral tingkat keasaman (pH) tanah pada lahan perkebunan kelapa sawit dan tambak udang.
Menurut Ridwan, pengembangan produk-produk baru tersebut merupakan langkah strategis perusahaan dalam memperluas portofolio bisnis nonsemen yang memiliki nilai tambah dan prospek pasar jangka panjang.
“Selain kalsium karbonat, BNSPT juga mengembangkan produk biji kalsium yang ditujukan sebagai bahan pembuatan pakan ternak. Untuk mendukung pengembangan pasar produk tersebut, BNSPT telah melakukan komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar di industri pakan ternak nasional, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia,” kata Ridwan.












