PENDIDIKAN

Kisah Inspiratif: “Anak yang Memilih Bangkit daripada Membalas”

×

Kisah Inspiratif: “Anak yang Memilih Bangkit daripada Membalas”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Alkhalifi Hakim (SMP Negeri 11 Padang)

Di sebuah sekolah, ada seorang siswa yang dikenal pendiam dan sederhana. Ia bukan anak yang selalu menjadi pusat perhatian. Namun di balik diamnya, ia menyimpan banyak mimpi besar yang ingin dicapai.

Sayangnya, tidak semua perjalanan berjalan mudah. Beberapa teman sering menjadikannya bahan ejekan. Mulai dari cara berbicara, penampilan, hingga kegemarannya mengikuti lomba sering menjadi alasan untuk merendahkannya.

Bahkan terkadang, ia pulang dengan hati yang jauh lebih lelah daripada tubuhnya.
Namun anak itu memilih sesuatu yang berbeda. Ia tidak membalas dengan kebencian.

Ia tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia memilih diam, belajar, dan membuktikan dirinya lewat prestasi.

Baca Juga  Tiga Siswa SMPN 11 Padang Torehkan Prestasi Membanggakan di Tingkat Kota, Nasional dan Internasional

Saat teman-temannya sibuk mengejek, ia sibuk memperbaiki diri. Saat orang lain meremehkannya, ia justru semakin giat membaca, menulis, dan berlatih untuk setiap perlombaan yang diikutinya.

Perlahan, usaha itu mulai menunjukkan hasil. Nama anak itu mulai dipanggil saat menerima penghargaan. Puisinya mulai dikenal banyak orang. Prestasinya terus bertambah, hingga orang-orang yang dulu meremehkannya mulai terdiam.

Dari situlah ia memahami satu hal penting: luka karena bullying memang menyakitkan, tetapi tidak boleh menghancurkan masa depan seseorang. Sebab orang hebat bukanlah mereka yang pandai membalas ejekan, melainkan mereka yang mampu bangkit dan membuktikan dirinya dengan cara yang baik.

Baca Juga  Buka Pentas Seni ANGKASA, Wabup Pasbar M. Ihpan Puji Pendidikan Holistik SD IT Darul Hikmah

Bullying sering dianggap candaan biasa. Padahal, banyak anak yang diam-diam kehilangan percaya diri karena kata-kata yang menyakitkan. Ada yang menjadi takut ke sekolah, takut berbicara, bahkan takut menjadi dirinya sendiri.

Karena itu, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh, bukan tempat untuk saling menjatuhkan. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada seorang pun yang pantas dihina hanya karena berbeda.

Kini anak itu terus melangkah mengejar cita-citanya. Ia ingin membuktikan bahwa masa lalu yang penuh ejekan tidak akan mampu menghentikan masa depan seseorang yang mau berusaha.