Oleh: Dr. Ir. Rusfidra, S.Pt, IPM ASEAN Eng.
(Dosen Fak. Peternakan, Peternak Lebah)
“Perumpamaan seorang mukmin bagaikan lebah. Ia hanya memakan yang baik, menghasilkan yang baik, dan ketika hinggap pada sesuatu, ia tidak merusaknya.” (Hadis Riwayat Ahmad)
Hadis ini menggambarkan betapa indahnya karakter seorang mukmin. Lebah menjadi simbol kehidupan yang penuh manfaat, disiplin, dan keberkahan. Sebagaimana lebah hanya mengisap nektar dari bunga yang baik, seorang mukmin senantiasa berusaha mencari rezeki yang halal dan menjauhi segala yang haram maupun syubhat. Ia memahami bahwa makanan halal akan menjadi sumber keberkahan bagi ibadah, keluarga, dan kehidupannya. Lebah mengolah nektar menjadi madu. Demikian pula seorang mukmin. Dari lisannya lahir ucapan yang menyejukkan, dari tangannya lahir amal yang bermanfaat, dan perilakunya terpancar akhlak yang mulia. Kehadirannya selalu menghadirkan kebaikan bagi orang di sekitarnya.
Ke mana pun lebah terbang, ia tidak merusak bunga yang dihinggapinya. Begitu pula seorang mukmin. Di mana pun ia berada, ia tidak membawa kerusakan, permusuhan, atau kebencian. Sebaliknya, ia menjadi penyebar kedamaian, penolong bagi sesama, dan pembuka pintu kebaikan. Lebah dikenal sebagai makhluk yang rajin, disiplin, dan bekerja tanpa mengenal lelah. Ia mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit. Seorang mukmin pun demikian. Ia bekerja keras, tidak bermalas-malasan, tidak mudah menyerah, dan tidak menggantungkan hidup pada hasil jerih payah orang lain selama ia masih mampu berusaha.
Lebah hidup dalam keteraturan dan kerja sama. Setiap anggota koloni menjalankan tupoksi dengan penuh tanggung jawab. Ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya membangun kebersamaan, saling tolong menolong dalam kebaikan, dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Maka sudah sepatutnya manusia mengambil pelajaran dari kehidupan lebah.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan memandang lebah sekadar sebagai penghasil madu dan penyerbuk tanaman (polinator). Namun, penelitian mendalam yang dilakukan ahli perilaku hewan dari Cornell University, Thomas D. Seeley, menunjukkan bahwa koloni lebah merupakan salah satu contoh paling mengagumkan dari kecerdasan kolektif (collective intelligence) di alam. Dalam buku The Wisdom of the Hive: The Social Physiology of Honey Bee Colonies, Seeley (1995) menyatakan bahwa ribuan lebah membangun organisasi dengan sangat efisien.
Di dalam satu koloni madu (Apis mellifera), biasanya hidup antara 20.000 – 60.000 lebah pekerja (worker), seekor ratu (queen), dan ratusan lebah jantan (drone). Meski ratu sering dianggap sebagai “pemimpin” koloni, namun kenyataannya lebah ratu hanya berfungsi sebagai induk reproduksi penghasil telur. Lebah ratu tidak memberi perintah kepada lebah pekerja, tidak menentukan ke mana lebah pekerja mencari nektar, polen dan air dan tidak mengatur pembuatan sarang lebah. Hampir seluruh keputusan penting tersebut justru lahir dari interaksi ribuan lebah pekerja yang saling bertukar informasi melalui sinyal-sinyal sederhana. Inilah yang oleh Seeley disebut sebagai physiology sosial, yaitu bagaimana koloni berfungsi sebagai satu organisme utuh dan bekerja menuju tujuan yang sama.






