Oleh : Assoc. Prof. Dr. Yulihasri. SE. MBA. CHRM (Dosen FEB UNAND/ Rektor ITB HAS Bukittinggi)
Kabut asap bukan sekadar persoalan tentang udara yang berubah menjadi mengancam kesehatan. Ketika asap mulai memenuhi ruang kehidupan, banyak hal ikut berubah seperti, langit tidak lagi terlihat cerah, jarak pandang menjadi terbatas, bau asap memenuhi udara dan aktivitas masyarakat mulai terganggu. Orang-orang mulai mengurangi kegiatan di luar rumah, anak-anak lebih banyak berada di dalam ruangan, sementara sebagian pekerja tetap harus menjalankan aktivitasnya di tengah kondisi yang kurang nyaman.
Selama ini, kabut asap lebih banyak dibicarakan dari sisi kesehatan fisik. Batuk, mata perih, gangguan pernapasan dan berbagai keluhan kesehatan menjadi perhatian utama. Padahal, kondisi lingkungan yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi psikologis manusia.
Rasa khawatir terhadap kesehatan diri dan keluarga, ketidaknyamanan dalam beraktivitas, serta ketidakpastian mengenai kapan kondisi tersebut berakhir dapat menjadi sumber tekanan yang perlahan menumpuk. Tekanan itu tidak selalu terlihat. Seseorang tetap dapat pergi bekerja, menyelesaikan tugas dan berinteraksi dengan orang lain, tetapi di balik rutinitas tersebut dapat muncul rasa lelah, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat atau gangguan tidur.
Asap dan Stress
Kabut asap menciptakan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan dengan mudah menjadi membutuhkan pertimbangan tambahan. Perjalanan keluar rumah menjadi kurang nyaman, kegiatan olahraga berkurang, interaksi sosial dapat terbatas dan perhatian terhadap kondisi kesehatan menjadi lebih besar.
Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana jika hanya berlangsung sesaat. Namun, ketika kondisi lingkungan yang buruk berlangsung berulang atau dalam waktu yang cukup lama, tekanan psikologis dapat semakin terasa. Manusia membutuhkan rasa aman dalam menjalankan aktivitasnya. Ketika lingkungan sekitar memberikan ketidakpastian, tubuh dan pikiran dapat meresponsnya sebagai tekanan. Kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil atau anggota keluarga yang rentan, juga dapat menambah beban pikiran.
Persoalan ini sering kali tidak tercatat dalam laporan kesehatan maupun laporan pekerjaan. Tidak ada angka khusus yang menunjukkan berapa banyak pekerja yang kehilangan konsentrasi akibat kecemasan terhadap kondisi udara. Tidak ada pula indikator sederhana yang dapat menggambarkan rasa lelah seseorang setelah berhari-hari beraktivitas dalam kondisi lingkungan yang tidak nyaman, namun kondisi tersebut tetap memiliki konsekuensi terhadap kondisi kejiwaan seseorang.
Stres di Tempat Kerja
Dampak kabut asap menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan dunia kerja menyebabkan pekerja tidak datang ke kantor hanya melaksanakan pekerjaan dari rumah. Keadaan ini membawa kondisi fisik dan psikologis yang terbentuk dari lingkungan tempat kerja. Seorang pekerja yang harus menempuh perjalanan jauh dalam kondisi udara yang buruk dapat mengalami kelelahan lebih besar. Pekerja lapangan menghadapi paparan lingkungan secara langsung. Orang tua dapat memiliki kekhawatiran tambahan terhadap kondisi keluarganya. Bahkan pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan tetap dapat merasakan tekanan karena aktivitas keluarga dan kehidupan sehari-hari ikut berubah.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi dan produktivitas pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dapat menjadi lebih berat ketika seseorang mengalami kelelahan. Pekerjaan yang membutuhkan interaksi dengan orang lain juga dapat terganggu ketika kondisi emosional seseorang sedang tidak stabil. Karena itu, produktivitas manusia tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari kondisi lingkungan. Target pekerjaan mungkin tetap sama, tetapi kemampuan seseorang untuk mencapai target tersebut dapat berubah ketika kondisi di sekitarnya mengalami tekanan.
Peran Manajemen SDM
Dalam situasi lingkungan yang terganggu, manajemen sumber daya manusia memiliki peran penting. Pengelolaan SDM tidak hanya berkaitan dengan perekrutan, pelatihan, pemberian kompensasi dan penilaian kinerja. Lebih dari itu, manajemen SDM juga berhubungan dengan bagaimana organisasi menjaga manusia agar mampu bekerja secara sehat dan berkelanjutan. Langkah pertama dapat dilakukan melalui komunikasi yang jelas, dimana kondisi kabut asap memburuk, karyawan membutuhkan informasi mengenai kebijakan perusahaan, pengaturan aktivitas kerja, perlindungan bagi pekerja lapangan dan kemungkinan penyesuaian pekerjaan.
Selanjutnya, komunikasi yang baik dapat mengurangi ketidakpastian. Sebaliknya, informasi yang tidak jelas dapat menambah kecemasan karena karyawan harus mengambil keputusan sendiri mengenai kondisi yang sedang mereka hadapi. Organisasi juga dapat menerapkan fleksibilitas kerja bagi jenis pekerjaan yang memungkinkan. Pekerjaan tertentu dapat dilakukan dari rumah atau secara daring ketika kondisi di luar ruangan kurang mendukung. Pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik dapat disertai dengan pengaturan aktivitas dan perlindungan yang sesuai. Fleksibilitas bukan berarti menghilangkan tanggung jawab, tetapi fleksibilitas merupakan bentuk kemampuan organisasi untuk menyesuaikan cara kerja dengan kondisi yang sedang terjadi.
Pelajaran dari Kabut Asap
Kabut asap memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat masuk ke dalam kehidupan organisasi melalui manusia. Perusahaan mungkin tidak memiliki kendali terhadap sumber kabut asap, tetapi perusahaan memiliki ruang untuk menentukan respons terhadap kondisi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen SDM tidak dapat hanya melihat manusia dari sisi pekerjaan. Karyawan memiliki keluarga, lingkungan tempat tinggal, kondisi kesehatan, serta persoalan kehidupan yang semuanya dapat memengaruhi perilaku di tempat kerja.
Asap yang terlihat di udara mungkin hanya berlangsung sementara. Namun, tekanan yang ditimbulkannya dapat meninggalkan dampak yang lebih panjang jika tidak diperhatikan. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan psikologis pekerja seharusnya menjadi bagian dari pengelolaan SDM. Organisasi perlu memahami bahwa menjaga produktivitas bukan hanya dilakukan dengan meningkatkan target atau memberikan insentif. Produktivitas juga tumbuh dari lingkungan kerja yang aman, komunikasi yang baik, kepemimpinan yang peka dan perhatian terhadap kesejahteraan manusia. Kabut asap pada akhirnya akan berlalu ketika kondisi lingkungan kembali membaik. Namun, pelajaran yang ditinggalkannya seharusnya tetap bertahan.
Sebab, di balik setiap angka produktivitas terdapat manusia yang menjalankannya. Ketika manusia berada dalam kondisi yang baik, organisasi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk terus bergerak dan sebaliknya, ketika tekanan manusia diabaikan, target yang terlihat baik di atas kertas belum tentu menggambarkan kondisi organisasi yang sebenarnya. Kabut asap mengingatkan bahwa ada banyak hal dalam kehidupan kerja yang tidak selalu terlihat. Udara yang kelabu dapat dilihat oleh semua orang, tetapi stres yang dirasakan seseorang sering kali hanya diketahui oleh dirinya sendiri. (*)












