Oleh: Susila Bahri
Dosen Departemen Matematika dan Sains Data, FMIPA Universitas Andalas
Jangan buru-buru mengatakan anak muda tidak tertarik pada pertanian. Bisa jadi, persoalannya bukan semata-mata karena mereka tidak tertarik, melainkan karena kita belum menemukan cara yang tepat untuk memperkenalkan pertanian kepada mereka.
Selama ini, pertanian kerap digambarkan sebagai aktivitas di sawah dengan cangkul, benih, pupuk, dan berbagai pekerjaan fisik. Gambaran tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. Namun, pertanian masa depan jauh lebih luas dari sekadar aktivitas menanam dan memanen.
Keterbatasan lahan dan air, perubahan iklim, perkembangan teknologi, serta kebutuhan pangan yang terus meningkat menuntut sistem pertanian yang semakin efisien, adaptif, dan berbasis data. Di balik berbagai perkembangan tersebut terdapat satu ilmu yang sering luput dari perhatian, yakni matematika.
Ketika petani menghitung kebutuhan benih, menentukan jarak tanam, mengukur luas lahan, memperkirakan kebutuhan pupuk dan air, menghitung biaya produksi, hingga membandingkan hasil panen, sesungguhnya mereka sedang menggunakan matematika.
Matematika hadir dalam hampir setiap keputusan penting di bidang pertanian. Karena itu, jika kita ingin membangun kader pertanian masa depan, matematika perlu diperkenalkan bukan hanya sebagai mata pelajaran di kelas, tetapi juga sebagai alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan nyata.
Dari Kelas ke Lahan
Sekolah dapat menjadi tempat awal untuk menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap pertanian. Kebun sekolah, misalnya, tidak harus dipandang semata-mata sebagai tempat menanam tanaman. Kebun tersebut dapat sekaligus menjadi laboratorium matematika yang menghadirkan pembelajaran secara nyata.
Siswa dapat menghitung luas lahan, menentukan jarak tanam, mencatat pertumbuhan tanaman, membuat grafik, menghitung kebutuhan pupuk dan air, hingga memperkirakan biaya produksi serta hasil panen.
Konsep luas, perbandingan, persentase, statistika, dan fungsi yang selama ini dipelajari melalui soal-soal di buku dapat ditemukan langsung di lahan. Dengan demikian, matematika menjadi lebih bermakna karena siswa tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami bagaimana hasil perhitungan digunakan untuk mengambil keputusan.
Inilah salah satu keterampilan yang dibutuhkan dalam pertanian masa depan.
Petani Masa Depan dan Literasi Data
Pertanian modern semakin bergantung pada data. Sensor dapat digunakan untuk mengukur kelembapan tanah, data cuaca membantu menentukan waktu tanam, sementara catatan produksi dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil budidaya.
Teknologi tersebut memang dapat membantu petani. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu memahami angka, membaca informasi, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Karena itu, petani masa depan tidak cukup hanya terampil menanam. Mereka juga perlu mampu membaca data, menemukan pola, membandingkan hasil, memperkirakan perubahan, dan menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tersedia.
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari cara berpikir matematis.
Dengan demikian, matematika bukan sekadar kumpulan rumus yang harus dihafalkan. Matematika merupakan cara berpikir untuk mengukur, membandingkan, menganalisis, memperkirakan, dan memecahkan masalah.
Kaderisasi Dimulai dari Sekolah
Regenerasi pertanian tidak dapat dimulai ketika anak muda sudah dewasa lalu tiba-tiba diminta memilih menjadi petani. Ketertarikan terhadap pertanian perlu dibangun sejak dini melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka.
Karena itu, pembelajaran matematika juga perlu diarahkan pada konteks pertanian. Guru matematika dapat berkolaborasi dengan guru IPA, biologi, teknologi, maupun bidang lainnya untuk menghadirkan proyek sederhana berbasis kebun sekolah.
Siswa dapat belajar bahwa satu benih yang ditanam bukan sekadar tanaman. Benih tersebut dapat menjadi objek pengamatan yang pertumbuhannya diukur, dicatat, dianalisis, dan dibandingkan.
Dari proses sederhana itu, siswa belajar bahwa pertanian membutuhkan ilmu pengetahuan sekaligus kemampuan berpikir.
Pendekatan semacam ini juga dapat membantu mengubah citra pertanian di mata generasi muda. Pertanian bukan hanya tentang mencangkul dan menanam. Pertanian juga merupakan bidang yang membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, data, kreativitas, serta kemampuan mengambil keputusan.
Menanam Masa Depan
Kita sering berbicara tentang ketahanan pangan dan pentingnya regenerasi petani. Namun, kita juga perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang akan mengelola pertanian di masa depan dan pengetahuan apa yang harus mereka miliki?
Jawabannya tidak cukup hanya dengan keterampilan budidaya. Generasi baru membutuhkan kemampuan untuk menghadapi sektor pertanian yang semakin kompleks, dinamis, dan berbasis teknologi.
Matematika dapat menjadi salah satu fondasinya.
Tidak semua siswa harus menjadi petani. Namun, setiap siswa perlu memahami bahwa pertanian merupakan bidang yang membutuhkan pengetahuan dan memiliki ruang yang luas untuk inovasi.
Karena itu, mungkin sudah saatnya matematika tidak hanya diajarkan untuk menjawab pertanyaan, “Berapa hasilnya?”, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar: “Bagaimana kita menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan pangan yang lebih baik dan menjaga masa depan pertanian?”
Kaderisasi pertanian masa depan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebidang kebun di sekolah, selembar kertas berisi data, dan generasi muda yang belajar memahami bahwa matematika yang mereka pelajari di kelas ternyata dapat membantu mereka memahami tanah, tanaman, dan masa depan pangan kita. (*)












