KAMPUS

HIMASTERIKOM UNAND Bersama Garuda TV  Bedah Pertarungan Merebut Atensi di Era Digital

×

HIMASTERIKOM UNAND Bersama Garuda TV  Bedah Pertarungan Merebut Atensi di Era Digital

Sebarkan artikel ini

PADANG,HARIANHALUAN.ID — Persaingan di media sosial kini bukan lagi semata-mata soal siapa yang memiliki jumlah pengikut paling banyak. Relevansi konten dengan minat dan kebutuhan audiens justru menjadi salah satu kunci agar sebuah konten mampu menjangkau publik.

Hal itu disampaikan Head of Digital Garuda TV, Rosidin, saat menjadi narasumber Klinik Public Speaking dan Manajemen Konten Social Media yang digelar Himpunan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (HIMASTERIKOM) Universitas Andalas (UNAND) bersama Program Studi S2 Magister Ilmu Komunikasi, Senin (14/9/2026).

Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Mochtar Naim, Kampus Pascasarjana FISIP UNAND, Jati, Kota Padang. Selain Rosidin, kegiatan itu turut menghadirkan Pimpinan Redaksi Garuda TV Atika Suri dan dimoderatori Sekretaris Prodi Magister S2 Ilmu Komunikasi, Dr. M.A. Dalmenda, M.Si.

Dalam pemaparannya bertajuk “Manajemen Media Sosial & Strategi Digital Komunikasi”, Rosidin mengatakan telah terjadi perubahan mendasar dalam cara konten didistribusikan dan dikonsumsi masyarakat.

Menurutnya, media sosial telah bergeser dari pola social graph menuju interest graph. Jika sebelumnya jangkauan konten sangat dipengaruhi jumlah pengikut, kini algoritma semakin mencocokkan konten dengan minat audiens.

“Berhentilah terobsesi dengan jumlah follower. Mulailah terobsesi dengan seberapa dalam konten Anda memahami minat dan masalah spesifik audiens Anda,” kata Rosidin dalam paparannya. 

Ia menjelaskan, perubahan tersebut membuat akun dengan jumlah pengikut kecil sekalipun memiliki peluang untuk mendapatkan jangkauan besar apabila konten yang dibuat relevan dengan audiens.

Baca Juga  Jalin Kerja Sama dengan OFA, UNAND Targetkan Lulusan Langsung Bekerja

Rosidin menyebut paradigma lama pengelolaan media sosial yang berorientasi pada promosi, jumlah follower dan volume posting perlu ditinggalkan. Media sosial kini harus dipandang sebagai mesin pertumbuhan dengan fokus pada kualitas dan loyalitas audiens.

“Fungsi utama media sosial bukan lagi sekadar promosi, tetapi menjadi mesin pertumbuhan. Metrik keberhasilannya juga bukan hanya jumlah followers, melainkan kualitas dan loyalitas,” ujarnya.

Menurut Rosidin, audiens digital saat ini semakin aktif dan memiliki banyak pilihan dalam mengonsumsi informasi. Mereka tidak hanya mengakses video pendek, tetapi juga visual, siaran langsung, podcast, carousel hingga newsletter.

Keputusan audiens untuk melanjutkan atau meninggalkan sebuah konten juga berlangsung sangat cepat. Dalam pemaparannya, Rosidin menyebut keputusan menonton dapat terjadi dalam kurang dari tiga detik pertama, sehingga hook menjadi bagian penting dalam produksi konten. 

“Konten tidak lagi hanya bersaing dengan brand lain. Konten kita bersaing dengan teman, keluarga dan hiburan murni di lini masa audiens,” katanya.

Karena itu, Rosidin mendorong pengelola media maupun kreator untuk mengubah orientasi dari mengejar kuantitas menuju nilai. Membanjiri media sosial dengan postingan tanpa arah dinilai tidak cukup untuk memenangkan perhatian audiens.

“Yang berubah adalah dari volume ke value. Kita harus berfokus pada konteks yang mendalam dan relevansi emosional yang kuat bagi audiens,” jelasnya. 

Baca Juga  Bahas Triple Helix, UNAND Hadirkan Wakil Menteri BUMN

Dalam pengelolaan media sosial, Rosidin juga memperkenalkan enam pilar eksekusi harian, yakni audience, brand, content, platform, community dan measurement.

Menurutnya, pengelola media harus terlebih dahulu memahami siapa audiens yang dituju dan kebutuhan mereka. Setelah itu membangun identitas brand, membuat konten yang informatif dan relevan, memilih platform yang sesuai, membangun komunitas serta mengukur hasilnya secara berkala. 

Ia juga mengingatkan bahwa setiap platform memiliki karakter audiens dan pola konsumsi yang berbeda. Karena itu, konten tidak seharusnya sekadar disalin dan ditempel dari satu platform ke platform lainnya.

“Native content, bukan copy-paste,” tegas Rosidin.

Lebih lanjut, ia juga  menjelaskan bahwa TikTok lebih kuat untukdiscoverydan jangkauan cepat, Instagram untuk branding dan keterlibatan komunitas, YouTube untuk konten edukasi mendalam, sementara X, LinkedIn, Facebook, WhatsApp Channel serta website memiliki fungsi masing-masing dalam perjalanan audiens. 

Ia juga menekankan pentingnya data dalam mengukur keberhasilan sebuah konten. Menurutnya, jumlah followers, views, likes maupun reach tidak selalu menggambarkan keberhasilan komunikasi digital.

Ia menyebut metrik tersebut sebagai vanity metrics jika tidak diikuti ukuran yang lebih substantif, seperti tingkat interaksi, kepercayaan, kunjungan, konversi hingga dampak terhadap pertumbuhan. 

“Ukur berdasarkan tujuan,” katanya.

Lebih jauh, Rosidin mengajak peserta melihat media sosial bukan hanya sebagai kanal publikasi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem bisnis dan komunikasi yang lebih luas.