Laporan : Hasril Chaniago
Zhu Dong dan Sevnce Robotics adalah sebuah fenomena dalam lompatan besar industri robot Tiongkok. Tahun 2010, dalam usia 21 tahun, Dong yang masih berstatus mahasiswa Chongqing University of Posts and Telecommunications, Dong mendirikan Sevnce Robotics. Lima belas tahun kemudian perusahaan ini telah menjadi pemain utama dan nomor satu di bidang yang menjadi spesialisasinya.
Pada awalnya, perusahaan yang didirikan Dong tidak langsung membuat robot. Fokus utamanya adalah mengembangkan perangkat lunak (software) dan solusi digital bagi industri. Namun dalam perjalanannya, Zhu Dong, pemuda kelahiran Kaizhou, Chongqing, 1989, melihat bahwa banyak pekerjaan di kilang minyak, pabrik petrokimia, tambang, dan pembangkit listrik sangat berbahaya bagi manusia. Dari sinilah ia memutuskan mengubah arah perusahaan. Tahun 2014 ia mulai mengembangkan robot sesuai kebutuhan industri, dan tiga tahun kemudian meluncurkan robot khusus untuk sektor pertambangan, minyak, dan gas. Mulai tahun 2021, Sevnce Robotics memperbesar produksi robot untuk lingkungan berbahaya seperti area mudah meledak, beracun, dan bersuhu ekstrem.
Berkantor pusat di kawasan inovasi Liangjiang New Area di Chongqing, Sevnce Robotics memperoleh status National Specialized and Sophisticated “Little Giant” Enterprise, yaitu program dukungan pemerintah bagi perusahaan teknologi inovatif. Mereka menjadi simbol inovasi teknologi tinggi khusus robot bagi kawasan Chongqing. Ke lokasi itulah 14 wartawan se-Sumatera yang difasilitas Konjen Tiongkok di Medan datang berkunjung pada Senin 22 Juni 2026.
Dewasa ini, Sevnce Robotics adalah pemain utama di bidangnya, mengembangkan berbagai robot untuk menggantikan manusia di lingkungan yang berisiko tinggi. Mempekerjakan sekitar 500-an karyawan, di mana 100 orang adalah insinyur dan peneliti, di antara produksinya adalah robot inspeksi beroda tahan ledakan, robot rel (rail-mounted inspection robot), robot pemadam kebakaran dan penyelamatan, serta robot untuk industri minyak, petrokimia, listrik, LNG, dan pertambangan.
Salah satu produk unggulan Sevnce adalah robot berkaki empat tahan ledakan. Robot jenis ini diklaim sebagai yang pertama di dunia yang diproduksi secara massal. Robot tersebut mampu melakukan patroli otomatis, membaca instrumen, mendeteksi kebocoran gas, menggunakan kamera termal, serta menjalankan inspeksi tanpa kehadiran manusia di area berbahaya.
Pada tahun 2025, perusahaan ini memproduksi dan menjual sekitar 3.000 unit robot berbagai jenis dengan kisaran harga 400.000-800.000 Yuan (Rp1 miliar-Rp2,1 miliar). Tahun ini mereka manargetkan memproduksi dan menjual 5.000-10.000 robot. Bila sasaran itu tercapai, akan mengukuhkan perusahaan yang didirikan Zhu Dong ini sebagai salah pemain terkemuka di industri di Tiongkok.
Perjalanan Zhu Dong dan Sevnce Robotics merupakan contoh bagaimana seorang wirausahawan muda membangun perusahaan teknologi dari nol hingga menjadi pemain utama di industri robot keselamatan. Di bawah kepemimpinan Dong sebagai Chairman, dalam waktu sekitar 15 tahun, Sevnce Robotics berkembang menjadi perusahaan yang memiliki lebih dari 370 hak kekayaan intelektual, berkontribusi dalam penyusunan lebih dari 60 standar industri, memperoleh lebih dari 100 penghargaan tingkat nasional dan provinsi, dan berhasil memasarkan produknya ke Timur Tengah, Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan berbagai negara lainnya.
Perusahaan ini juga menjalin kerja sama dengan perusahaan besar seperti BASF, Sinopec, PetroChina, dan CNOOC untuk penerapan robot inspeksi di fasilitas industri.
Posisi Chongqing dalam Industri Robot China
Sevnce Robotics merupakan salah satu perusahaan robot industri terkemuka di Chongqing dan telah memperoleh status nasional sebagai “Little Giant Enterprise”, yaitu perusahaan inovatif yang didukung pemerintah Tiongkok karena memiliki teknologi khusus dan daya saing tinggi. Perusahaan ini juga memiliki lebih dari 160 paten dan berpartisipasi dalam penyusunan sejumlah standar industri robotika di Tiongkok.
Perusahaan ini adalah contoh keberhasilan strategi Chongqing dalam membangun klaster industri robotika dan manufaktur cerdas, yang kini menjadi salah satu sektor unggulan kota tersebut. Menurut data resmi yang dipublikasikan pada 2025, nilai industri robot di Chongqing pada tahun 2024 telah melampaui 37 miliar yuan (sekitar US$5,1 miliar atau sekitar Rp82–85 triliun, tergantung kurs). Dengan produksi lebih dari 60.000 unit per tahun, Chongqing telah membentuk rantai industri robot yang lengkap, mulai dari penelitian dan pengembangan (R&D), manufaktur robot, pengujian, integrasi sistem, produksi komponen, pelatihan tenaga kerja, hingga layanan aplikasi.
Pemerintah Chongqing menjadikan robotika sebagai salah satu industri strategis. Kota ini menargetkan menjadi pusat manufaktur maju Tiongkok, dengan nilai output industri keseluruhan mencapai 4 triliun yuan pada 2027. Robotika diposisikan sebagai salah satu sektor yang akan mendorong pencapaian target tersebut.
Data terakhir menunjukkan bahwa total nilai industri robot Chongqing sekitar 5,1 miliar dolar Amerika, atau sekitar 10-11 persen dari total produksi robotika Tiongkok yang sekitar 47-50 miliar dolar Amerika (Rp850-900 triliun). Tahun 2028 China memproyeksikan nilai pasar industri robot negeri itu akan mencapai 108 miliar dolar Amerika Serikat atau tumbuh rata-rata 23 persen per tahun.
Dewasa ini, skala ekosistem robotika Tiongkok tercatat sangat besar. Terdapat hampir setengah juta perusahaan yang bergerak di bidang robot cerdas dengan total modal terdaftar perusahaan-perusahaan tersebut mencapai 6,44 triliun yuan. Tiongkok sendiri merupakan pasar robot industri terbesar di dunia, dengan sekitar 300.000 robot industri baru dipasang setiap tahun dalam tahun-tahun terakhir ini. Jumlah itu lebih banyak daripada gabungan negara lain.
Sebagaimana juga di sektor-sektor industri lain, otomotif misalnya, meskipun China bukanlah pelopor tetapi mereka mampu melompat menjadi yang terbesar di bidang industri robotika. Dewasa ini mereka menguasai lebih separuh penggunaan robot industri dunia. China adalah pasar robot terbesar untuk manufaktur, robot industri, humanoid, dan AI.
China diikuti oleh Jepang yang memimpin teknologi robot industri dan basis perusahaan seperti FANUC, Yaskawa, Kawasaki. Di peringkat berikutnya adalah Amerika Serikat yang unggul dalam robot AI, logistik, pertahanan, dan startup robotika. Jerman di urutan berikutnya karena unggul dalam robot industri untuk otomotif dan manufaktur presisi. Di Asia, Korea Selatan adalah negara dengan kepadatan robot industri tertinggi di dunia.
Dengan perkembangan industri robotika saat ini dan masa depan, yang sering menjadi diskusi publik adalah kemungkinan robot akan mengambil alih pekerjaan manusia.Seperti saat revolusi industri menggantikan banyak pekerjaan manual dengan mesin, revolusi robotika juga akan menghilangkan sebagian pekerjaan lama. Namun sebaliknya tentu juga akan menciptakan pekerjaan baru, seperti teknisi robot, insinyur AI, analis data, operator sistem otomatis, dan ahli keamanan siber.
Menurut berbagai studi internasional, dalam 10–20 tahun ke depan jutaan pekerjaan akan berubah karena otomatisasi, tetapi jutaan pekerjaan baru juga diperkirakan akan muncul sebagai konsekuensi dari perkembangan robotika dan AI.
Jadi, robot hanya lebih mungkin menggantikan tugas daripada menggantikan manusia sepenuhnya. Di banyak sektor, model yang paling mungkin adalah kolaborasi manusia dan robot: robot menangani pekerjaan yang berat, berbahaya, atau berulang, sementara manusia fokus pada pengambilan keputusan, kreativitas, dan interaksi sosial. Jadi, tak usah khawatir, robot akan mengalahkan manusia. Karena robot adalah buatan manusia sendiri.(*)
CATATAN REDAKSI
Setelah seri tulisan Nomor 6 ini, laporan perjalanan Hasril Chaniago ke Tiongkok akan diterbitkan secara tematis dalam bentuk tulisan khusus atau karangan khas di edisi yang relevan. Misalnya dalam Haluan Edisi Minggu. Selamat menikmati.












